Laman

Saturday, July 30, 2016

HPL Maju

Tanggal 5 April, seperti biasa, aku kontrol kembali RS. Saat ditanya keluhannya, aku mengeluhkan jalan lahir yang mulai nyeri, bekas operasi yang nyeri, serta janin yang tak bisa diajak lelah.

Tampaknya Bu Dokter kesal dengan aku yang -dianggapnya- suka mengeluh ini. Dengan sedikit ngomel, diputuskan bahwa aku harus menginap di RS malam itu juga, dan tindakan operasi dilakukan besok.

Perasaanku tak karuan. Suamiku masih di Bogor. Tak mungkin aku melahirkan tanpanya. 

Sambil menahan tangis kekesalan, aku menghubungi suamiku. Mengabarkan segala yang terjadi. Ia mendoakan yang terbaik, memintaku untuk banyak berdzikir dan menenangkan diri. 

Papah dan Mamah sibuk mengurus administrasi dan kamar rawat inapku, sementara aku hanya berdiam diri menekuri lantai rumah sakit yang putih pucar. 

--------
Setelah urusan administrasi selesai, aku diminta menaiki kursi roda untuk menjalani rekam jantung dan uji lab. Setelah itu, aku diantar ke kamar Ayyub 1. 

Tibalah saat terpedih itu, yaitu ketika harus berpisah dari Jihan untuk pertama kalinya. Aku menangis. Tak mampu rasanya berjauhan dengannya barang sebentar. 

Semoga Allah masih berkehendak untuk mempertemukan kita kembali ya, sayang. 

Monday, May 23, 2016

Catatan Seorang Istri 2

25 Agustus 2013

Dua bulan, bukan waktu yg lama untuk usia pernikahan. Karena, apabila diberi umur panjang, kita masih akan menghabiskan lebih dari 2/3 umur kita dalam status M E N I K A H.

Tapi aku bahagia bisa melaluinya bersamamu. Dengan rukun, saling mengerti, saling terbuka satu sama lain.

Aku bahagia, karna dalam dua bulan ini bisa mencintai dengan halal, cinta yang tulus berpahala.

Aku ingin melalui semua kisah dan lika-liku hidup bersamamu.
Merasakan manis pahit di sampingmu.
Aku ingin berjalan seiring waktu, berdua denganmu.
Berjalan tuk menuai kebaikan,
bergandengan denganmu.

Rabbi, aku belum menjadi sosok sempurna baginya.
Dan Kau tahu seberapa aku berusaha.

Rabbi, jadikan kelak aku istri yang cocok untuknya, dapat mengikuti langkah dan komandonya, tepat di belakangnya.

Rabbi, jadikan kami keluarga yang diliputi ketenangan dan kasih sayang,
Hingga nanti, akhir waktu menentukannya ...

Dan Kau wahai yang lembut hatinya, terimakasih atas segala kebaikan, kelembutan, kearifan, dan kesetiaan yang telah kau perlihatkan. Lalu ajari aku untuk dapat menjadi sepertimu ...

Alhamdulillaahilladzi bi ni'matihi tatimmush shaalihaat ... 😊

Catatan Seorang Suami

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Dzat yg telah mempertemukan kita di atas ikatan yg diridhainya -insya Allah.

Sebagaimana Dia telah menurunkan hujan ke bumi dan menumbuhkan berbagai tanaman yg beraneka ragam, maka Dia-lah pula yg telah mengembang tumbuhkan cinta dan kasih sayang di antara kita. Dan dengan itu kita mengharap dari-Nya supaya ikatan cinta yg telah  tumbuh ini bisa langgeng baik di dunia yg fana ini, maupun di kampung halaman yg abadi.

Tak bosan aku meminta dan memanjatkan doa kepada-Nya, ya Allah, karuniakanlah keberkahan bagiku dengan datangnya pendamping hidupku di dunia, dan berilah ia keberkahan karenaku.

Wahai kekasih dan cintaku, ketahuilah aku bukanlah type pangeran yg kau impikan selama ini, aku bukan sosok imam yg patut diikuti, dan aku tidak pula memiliki dunia yg bisa dibanggakan. Tapi, aku punya bekal tanggung jawab, dan aku akan berpegang teguh dengannya selama ruh masih bersanding dengan raga. 

Wahai kasih hatiku, semoga rasa penyesalan tidak menghampirimu karena bersanding denganku di pelaminan itu.
Mari kita berpengang erat mengarungi bahtera yg indah ini, masih banyak badai dan karang di hadapan kita, tanpamu aku tak sanggup melaluinya.

Aku mencintaimu, dimanapun engkau berada, sejauh apapun jarak memisahkan kita, aku selalu mencintaimu dan merindukanmu.

Salam kangen dari Masyang

Catatan Seorang Istri


12 Juli 2013

Bismillahirrahmanirrahiim...
Suamiku, akan lewat di depan kita
masa2 sulit, masa2 saat kita mungkin
merasa renggang dan jauh.
Masa dimana kita harus lebih menggali
lebih dalam satu sama lain.
Menyelami sifat pasangan dan belajar
menyikapi semua dengan bijak dan
hikmah.


Kasih, bila masa itu tiba, cepat atau
lambat, apa yang harus kita lakukan?
Ah, aku percaya kau akan mengambil
sikap dewasa seperti biasanya,
dengan wajah teduhmu yang
menentramkan.
Adapun aku... Ehm,
dengan sikap kekanakan ini, aku akan
mencoba, tak hanya mencoba, bahkan
berjuang untuk mengambil sikap
yang sama.

Masa2 itu, cinta, adalah masa yang
berat, masa penjajakan, masa
penggemblengan.
Masa dimana
bahtera didebur ombak dan digerus
kerasnya badai.


Hari dimana kau akan mengambil
setir dengan gagah, dan aku berada
di belakangmu, mendampingimu,
mendukungmu.
Aku belum bisa menjadi istri yang
sempurna, bahkan aku tak memiliki
sebagian kecil kesempurnaan itu.


Tapi yang kutahu, sempurna ada
padamu, ada ditanganmu, didik aku,
rubah aku, jadikan aku istri idaman
bagimu...
Karna padamulah aku
diwajibkan taat.

Cinta dan sanjungan ini tulus, dari
hatiku, yang bahkan lisan tak mampu
mengungkap, yang bahkan pandangan
tak kuasa mengirimkan sinyal2
kerinduan ini.

Kutuliskan semua, disini, agar kau
tahu apa yang kurasa, apa yang
kulihat darimu selama ini...
Harapan tak pernah lepas dari untaian
doa-doa ku...

Menjelang Kehadiran Baby

Tanggal 4 April 2016, aku mulai mengurus berkas-berkas BPJS untuk persiapan operasiku nanti. 

Awalnya aku mendatangi bidan BPJS ditemani mamah, papah, dan Jihan tentunya. Bu bidan terkejut saat melihat luka jahitan sesar lamaku memerah. 

"Ini udah merah jahitannya. Saya takut kenapa-kenapa. Hari ini juga mondok ya di RS, besok harus tindakan. Kamu nih, lukanya udah perih-perih kok diam saja?!"

Setelah itu, aku langsung ke klinik dokter keluarga. Bismillah, semoga rujukannya tembus. Setelah menunggu antrean selama 2,5 jam sembari menahan lapar dan pegal, alhamdulillah surat ajaib itu aku dapatkan. Segalanya dipermudah oleh Allah, dengan bantuan keluarga di Semarang. 


Friday, May 20, 2016

Semarang 2

Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Mengurus Jihan, mengerjakan pekerjaan rumah meskipun jauh lebih sedikit dibanding di Bogor dulu. Jihan juga lebih banyak di-handle oleh Eyang dan tante-tantenya.

Aku sudah menentukan tanggal kelahiran calon bayi kami, yaitu tanggal 13 April. Sengaja kupilih hari Rabu, karena aku, mase, dan Jihan kebetulan lahir di hari yang sama. 

Semakin hari, rasa sakit di perut bagian bawahku makin mengganggu. Dokter bilang aman, tapi tak menyebutkan sebabnya. Itulah yang kadang membuatku tidak puas dengan jawaban beliau dan bertanya terus menerus, hingga nyaris terdengar seperti keluhan.

Terlebih ketika perut mulai kaku lantaran sedikit lebih banyak bekerja daripada biasanya, aku hanya bisa berbaring, mengistirahatkan baby yang mulai 'protes'.


Tuesday, May 17, 2016

Semarang

Akhir Februari 2016, kami mudik ke Semarang. Kepulangan yang awalnya direncanakan bulan Maret harus diajukan karena banyak urusan kehamilan yang harus aku selesaikan. Mulai dari mencari dokter muslimah yang bagus, hingga pengurusan kartu BPJS. 

Jihan sudah mulai beradaptasi dengan orang rumah. Sudah mulai menemukan 'kesenangannya' di sini. Aku mulai bisa beristirahat sedikit.

__________
Dengan berbekal info dari beberapa teman kajian Mamah, aku mendapat rekomendasi beberapa obgyn muslimah dengan berbagai karakter. Ada yang penyabar dan ramah, namun antrean pasien selalu panjang. Ada yang sedikit tegas dan ceplas-ceplos, namun telaten dan jelas pasiennya tidak terlalu banyak. 

Bismillah, berbekal keberanian, aku memilih dokter yang tegas. 
__________
Kunjungan Pertama- RS Roemani
Dokter: "Apa keluhannya bu?"
Saya: "Ga ada, Dok"
D: "Lha terus ngapain ke sini?"
S: "Ya mau kontrol aja, Dok"

D: "Anak pertama kenapa secar? Takut lahiran normal ya?"
S: "Err, presentasi wajah, Dooooook"

D: USG "Ini posisi bayinya sungsang bu".
S: "Ah, terakhir USG kata bidan udah di panggul kok Dok". (pasien ngeyel)
D: "Ini lho saya tunjukin, nih, kepalanya di sini. Ni buat mematahkan argumen njenengan. Dibilangin jangan ngeyel!"

Mamah: "Terus gimana ini dok, apa ibunya harus jalan banyak biar posisi anaknya ga sungsang lagi?"
D: "Ga usah bu. Orang juga nantinya kan akan secar. Ga usah dipikir susah lah. Kasian ibunya, kelihatan sekali orangnya penakut. Anak masih kecil sudah hamil lagi, berat sekali beban hidupnya". (Mak jlebb kayak ketusuk pedang dari depan nembus ke punggung hihi)
 
Yah, begitulah pengalaman saya berkonsultasi dengan seorang dokter yang sudah cukup sepuh dan berbicara apa adanya. Well, dibikin enjoy aja. Asal nanti baby bisa lahir dengan selamat, itu udah cukup mengobati rasa di hati. Wakwaw!

Friday, March 25, 2016

Perbedaan Dua Kehamilanku

Masya Allah, begitu beragamnya ciptaan Allah. Dulu aku sering mendengar perkataan para ibu bahwa tehnik mendidik anak satu dengan yang lainnya bisa saja berbeda. Watak setiap anak berbeda, menyikapinya juga musti berbeda. 

Jangankan setelah 'menjadi' anak, sejak dalam kandungan saja, mereka sudah banyak berbeda. Warna-warni inilah yang ingin kuabadikan dalam sebuah catatan. Indah bagai pelangi. 

Trimester Awal Kehamilan 
Sebagaimana yang sudah panjang lebar kuceritakan di notes lalu, trimester pertama hamil Jihan ini tergolog cukup berat. Aku musti berjalan jauh setiap hari, menahan mual selama di rumah, tidak bisa makan dan minum. Taulah, bagaimana rasanya bumil yang hanya bisa minum air dingin, tapi tidak punya kulkas, hehe. Alhamdulillah di kampus ada dispenser air dingin yang dapat kumanfaatkan kegunaannya. Adapun selain waktu ngampus, aku membeli air dingin di warung demi menghindari mabok yang makin menjadi. 

Pelaku LDR yang malang, aku selalu menangis tiap ditinggal Mase kembali ke pesantren. Oleh karenanya, Mase rajin menghiburku dengan mengajak jalan menikmati malam Jakarta, meskipun ujung-ujungnya aku tetap mabok. 
Tapi alhamdulillah, selalu ada teman sharing kehamilan, bidan yang mau menjawab segala kekepoan ini, dan janinku yang sehat meskipun diajak 'kerja keras' lima hari sepekan. 

Adapun di kehamilan keduaku, aku hidup di perumahan, kemudian pindah ke pesantren, tidak lagi kesepian karena ada Jihan dan Mase di sampingku. 
Alhamdulillah di trimester pertamaku tak ada kata mabok. Aku masih bisa makan, masak, minum, bahkan nyebokin Jihan. Hanya sedikit mual ketika mencium bau seafood, terasi, dan jengkol. 

Hmm, awal tinggal di pesantren entah kenapa sering tercium bau Jengkol dan bangkai. Anehnya, Mase mengaku tak pernah mencium bau Jengkol, bahkan aku uring-uringan ga jelas. Kalau bau bangkai memang kadang menjelma entah dari mana dan membuat parno kita berdua. 

Aku sudah mengenal pola makan food combining yang berusaha aku jalankan sebisa mungkin. Berharap dengannya mualku berkurang, dan aku bisa lebih prima. 
Di awal trimester ini juga aku sempat mengalami flek, padahal tidak banyak kerja keras dan jalan kaki seperti saat hamil Jihan dulu. Mase jadi pelit mengajak jalan, karena takut baby di janin kenapa-kenapa. Hasilmya emak yang tinggal jauh dari 'peradaban' ini sering keceplosan senewen. 

Trimester Kedua Kehamilan 
Bulan keempat baby Jihan, alhamdulillah mabok dan pusing-pusing berangsur hilang, meskipun baru benar-benar hilang saat bulan kelima. 
Tapi, aku tetap tidak bisa makan banyak, sehingga berat badanku hanya bertambah sedikit sekali. Sempat sesekali pusing dan keringat dingin, tapi mungkin itu hanya gejala hipotensi atau kurang darah.  Yang terpenting adalah aku bisa makan apa saja, minum apa saja, dan kebal bau bawang. Senangnyaaa... 

Trimester ini aku mulai duduk di bangku fakultas Syariah sampai akhirnya aku mengambil cuti. Bukan hanya jarak jauh yang mesti ditempuh, tapi juga musti naik-turun tangga. Alhamdulillah Allah karuniakan kesehatan, kemampuan dan kesabaran, sehingga aku tetap menjadi wonder bumil, yang sudah mulai giat mencuci baju sendiri dan jalan jauh sendirian. 

Di kehamilan kedua, aku masih sensitif dengan bau seafood. Aku tak pernah berani masak ikan-ikanan, lebih baik beli jadi langsung santap ketimbang mood memasakku turun drastis. 

Di trimester ini, pergerakanku serasa makin terbatas, untuk berjinjit, aku kesakitan, sakit pinggang juga sudah mulai kurasakan. Perut serasa besar sekali, tidak seperti dulu saat hamil Jihan. Dalam dua bulan, berat badanku naik 10 kg wow wow, tak dapat kubayangkan bagaimana nanti-nanti jika berat badanku terus bertambah. 

Pekerjaan rumah, seperti mencuci dan menyetrika cukup membuatku kewalahan. Karena menyetrika dalam posisi duduk sangat tidak nyaman bagi perut buncitku. Tapi apa boleh buat, hidup harus tetap berjalan seperti apa adanya -ciah-, sehingga semua pekerjaan kulakukan dengan perlahan asal selesai. 

Trimester Ketiga
Trimester ketiga inilah dimana berat badanku mulai bertambah, meskipun hanya 10 kg. Baby di perutku juga tampaknya mulai gemuk. 
Aku mulai merasakan sakit pinggang yang cukup parah, bahkan kadang sampai kesulitan berjalan. Bayangkan seorang bumil yang sudah kebelet pipis, tapi tak bisa jalan karena pinggangnya sakit, subhanallah rasanya menahan hasrat yang terpendam, hehe. 

Saat pindah ke Bogor dan bertemu tukang sayur yang 'klik', alhamdulillah perkara masak dan belanja bukan lagi masalah. Bahkan Bang Somad dengan baik hatinya bersedia membawakan air kelapa untukku tiap hari (di Jakarta musti beli, harganya 2.500). Ya, khasiat air kelapa bagi bumil memang mitos, tapi waktu itu aku masih terlalu lugu untuk membedakan mana mitos mana fakta, hiks.
Tapi, tetaplah air kelapa lebih baik ketimbang minum soda atau kafein, ya gak?!

Aku mulai sering menjalani hibernasi, maklum, suasana rumah sepi, tak banyak tugas berarti, kadang masih jomblo (mau masak untuk siapa?). Aku menjelma jadi putri tidur yang menghabiskan waktu hanya untuk tidur dan ngemil. Seperti kepompong yang bentar lagi jadi kupu-kupu syantiek, hehehe. 

Karena belum punya pengalaman hamil sebelumnya, aku tak tahu browsing apa. Aku hanya mencari hal-hal mengenai kehamilan yang membuatku penasaran, itu saja. Bahkan tak berfikir untuk browsing mengenai menyusui, menyapih, MPASI, dan lainnya. Ini sebuah pelajaran penting bagiku. Kelak, kalau Jihan hamil, aku harus bisa membimbing dia untuk mencari tahu hal-hal penting. Biar saja dia cari di internet, toh pengetahuan selalu berkembang seiring kemajuan zaman. Setidaknya, aku bisa membimbing dan meng-edukasi dia dengan cara yang sedikit berbeda. 


Trimester terakhir di kehamilan keduaku cukup berat. Alhamdulillah 'ala kulli hal, Allah menuliskan semuanya dengan begitu indah. 
Aku merencanakan untuk melahirkan di Semarang, karena membayangkan kondisi di perantauan yang dikhawatirkan membuat Mase semakin kerepotan. Di Semarang, aku memilih rumah sakit dan dokter muslimah yang direkomendasi. 

Bayiku, mmm, dia semakin gemuk, perut makin buncit, aku semakin suka makan, tapi berat badanku tetap di angka 60 kg. 
Aku dipersilahkan untuk memilih tanggal kelahiran anakku. Berbeda dengan kehamilan pertama yang harus menunggu kontraksi. 

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shaalihaat. 

Wednesday, March 16, 2016

Perkembangan Jihan

Kembali ke Jihan, selama 6 bulan tinggal di Andalus, ia banyak berkembang dari banyak sisi -masya Allah.

Kosakata bertambah, bahkan sudah bisa merangkai kata-kata dan mengungkapkan keinginan. 

Ia juga mulai respect membantu mamanya bekerja, seperti mencuci baju, menjemur pakaian, meletakkan baju kotor di ember, menaruh piring kotor di washtafel, membersihkan air yang tumpah, membuang sampah di tempatnya, hingga menyapu serpihan makanan yang tercecer. Alhamdulillah nilai kepekaannya terhadap lingkungan cukup tinggi. Aku tak boleh lupa mengucapkan terimakasih setelah dibantunya. 

Ia makin mencintai boardbooknya, dan menghafal banyak gambar di sana. Mulai mengenal alat-alat transportasi dan binatang dengan baik. Aku menghadiahkan e-book untuknya, dan buku barunya segera menjadi kesayangannya. 

Ia juga sangat menyayangi bonekanya. Menggendongnya, mencium, dan memeluknya. Kepekaannya terhadap binatang juga baik, kucing, jangkrik, laron, cicak, bahkan kecoa bisa menyita perhatiannya. Rasa penasarannya cukup tinggi. 

Ia juga sudah mulai menghafalkan beberapa surat al-Qur'an yang sering didengarnya dari bacaan shalat imam masjid, seperti al-Fatihah, an-Nas, dan potongan ayat lain, termasuk lafal adzan. 

Jihan juga sudah menghafal beberapa nasyid yang sering didengarnya, lucu rasanya melihatnya menggumamkan nasyid dengan ekspresi menghayati. 

Barakallahu fiiha, masya Allah tabarakallah. Semua keindahan ini merupakan karunia dari Allah, bukan karena kepandaianku mendidik. Aku hanyalah seorang ibu bodoh yang masih belajar, lebih banyak membuat kesalahan dibanding membuahkan hasil. Maka, jika hasil didikanku baik, semata-mata hanyalah fitrah yang telah Allah karuniakan kepadanya.

Yang aku harapkan adalah semoga Jihan siap menyambut adiknya nanti, bersedia untuk berbagi kasih sayang dengannya. Karena usia Jihan sedang dalam masa possesif, tak mau Abah atau Mamanya dimiliki orang lain. 

Ya Allah, mudahkan kami dalam mendidik generasi rabbani yang Kau titipkan dan percayakan. Mampukan kami mengemban amanah ini. Aamiin. 


2016

Memasuki tahun 2016, Mase kembali ke kesibukannya seperti biasa, bahkan makin sibuk. Aku juga mulai berkonsentrasi memikirkan persiapan lahiran dari mencari dokter perempuan, rumah sakit murah, BPJS, mempersiapkan rumah untuk baby baru, hingga menghitung kebutuhan baju bayi yang kurang.

Atas bantuan ummahat teman-teman kajian di Citra, aku banyak mendapatkan informasi dokter dan rumah sakit. 

Ketika Mase sedang senggang, aku sering menyelipkan obrolan-obrolan tentang tempat lahiran, mencari rumah sakit yang murah tapi berkualitas dan dekat dari pesantren. 

Melihat tarif operasi secar yang WOW, aku dan Mase merundingkan kembali untuk lahiran di Semarang. Kurasa, dengan melahirkan di kampung, aku akan banyak terbantu oleh sanak saudara, ada yang menjaga Jihan selama aku di rumah sakit, dan mungkin terif secar lebih murah dibandingkan Bogor. 

Juga melihat kesibukan Mase yang makin padat, rasanya sulit bagi emak lelet manja sepertiku untuk bekerja keras mengurus dua anak sendirian, apalagi pasca operasi secar kedua. Adapun Mami sudah menyatakan tak bisa menemaniku melahirkan kalau aku 'nekat' melahirkan di Bogor. 

Aku terus mencari info dokter dan rumah sakit di Semarang, beserta menanyakan prosedur pembuatan dan penggunaan BPJS, dan fix, insya Allah aku akan melahirkan di Semarang. Ya Allah, semoga ini yang terbaik bagi kami, meskipun kali ini harus LDR-an lagi. 

__________
Tanggal 25 Februari 2016, aku pulang ke Semarang, mempersiapkan hati untuk berjauhan dengan yang tercinta. Mudahkanlah ya Allah, sesungguhya Engkau mampu merubah kesulitan menjadi kemudahan. 

Tahun Baru

Tahun baru 2016. Kenapa selalu ada kesan berbeda dengan tahun baru? 

Aku adalah penggemar kembang api. Sejak kecil, warna-warni di langit malam terlihat begitu indah dan memesona. Apalagi sejak di Jakarta, dimana orang-orang menyalakan kembang api di mana-mana hingga gang-gang sempit. 

Tahun baru 2014, saat itu aku sedang hamil Jihan, jomblo, dan sedang mempersiapkan ujian. Suara petasan menggelegar, namun aku tak bisa melihatnya. Lahan jemuran di rumah kontrakan terlalu sempit untuk melihat kembang api, ketutupan genteng rumah tetangga. Haha. 

Tahun baru 2015, saat itu aku tinggal di Citra indah, iseng jalan keliling perumahan, kebetulan Mase ada di rumah. Ga kerasa, kami sampai rumah sudah hampir tengah malam. Jadilah kami menikmati indahnya kembang api dari balik jendela rumah kontrakan, bertiga, sambil mengenang masa-masa pacaran dulu. 

Tahun 2016 agak berbeda. Aku sedang hamil anak kedua. Sore hari kita refreshing di sekitar pesantren sekalian membeli kebutuhan dapur. Tergoda pemandangan jagung dan duren yang menggiurkan, kami mampir untuk membelinya, rencananya, ingin bakar jagung nanti malam sambil pacaran. 

Malam harinya, bumil labil badmood karena acara bakar-bakar ditunda hingga besok pagi. Tidur sebelum tengah malam, dan melewatkan pemandangan indah kembang api. 

Di sini, bukan berarti aku mendukung perayaan tahun baru, apalagi mendukung pesta pora pembakaran uang yang dilakukan oleh masyarakat kita. Aku hanya mengungkapkan keindahan kembang api yang menghiasi malam, yang bisa dinikmati di malam tahun baru, meskipun kadang mengganggu. 

Bagiku, perayaan tahun baru tetaplah tasyabbuh, membakar kembang api tetaplah suatu kemubadziran dan kedzaliman, seindah apapun ia. 

Holiday di Bokekday

Sekembali dari Bekasi, ternyata santri-santri juga sedang liburan semester. Mase lagi-lagi tidak bisa ikut field trip ke Pare karena musti menjemputku seusai ujian kemarin. Hmm, waktunya holiday nih, khayalanku melayang. 

Namun, ternyata kegiatan kami selama liburan tak jauh berbeda dari hari biasa. Ngajak piknik, bokek (tanggal tua cuy), ngajak jalan gratis, ga tau harus kemana. Akhirnya kita hanya sekedar menikmati spot bagus sekitar pesantren, seperti ke sungai, lihat pemandangan dari ketinggian, jajan bakso murah, hunting duren (duren Jonggol masya Allah menggoda), dan sebagainya. 

Suatu hari saat lagi iseng pengen makan enak, kami pergi ke Citra Indah (maklum banget dah anak kampung mainnya cuma ke Citra hehe). Qaddarallah hujan deras menyambut kami di tengah perjalanan pulang. Jadilah kami bertiga menggigil di atas motor yang melaju kencang malam itu.

Itulah hiburan kami saat liburan tiba, sementara gaji tak sudi menyapa. Hihi. Asalkan ada suami tercinta, princess kecil, dan baby di kandungan sehat, itu adalah anugerah terbesar bagiku. We time, saat yang paling kutunggu. 

__________
"Dede udah buka lemari belum?" Tanya mase suatu hari. 
"Ha? Belum, dari kemarin adek cuma ngambil baju ganti dari koper yang adek bawa ke Bekasi doang, ga buka lemari".
"Hmm, yasudah".
Penasaran, kubuka lemari bajuku, masya Allah, ada hape baru yang selama ini kuidam-idamkan terselip di antara baju-bajuku. Tepat sekali datang saat tab lama rusak. Barakallahu fiika ya habibi, wa jazakallahu khairan katsira. 



Keterangan gambar: Sungai yang masih jernih dan bersih, cocok untuk main keceh. 

Go to Bekasi



Bulan Desember tiba, tanggal 10 sampai 22 adalah jadwal ujian kuliah online-ku. Persiapanku sangat minim, aku kurang semangat belajar otodidak, juga karena modul kuliah agak sulit dimengerti oleh otak pas-pasan sepertiku. 

Semester ini, aku menginjak semester satu (seharusnya dua, tapi aku mengambil cuti semester lalu). Berarti, aku harus mendapatkan nilai yang baik agar terbebas dari huruf D. 

Aku memilih markaz di pesantren Al-Bina Bekasi. Bagaimanapun juga, aku dan Mase harus LDR-an selama kurang lebih sepekan. 

__________
Akhirnya hari H tiba, aku diantar mase menggunakan mobil pesantren. Hmm, ternyata tujuan kami cukup jauh. Apalagi fisikku sedang kurang fit karena beberapa hari terakhir begadang kebut pelajaran dan menangani Jihan yang tantrum. Jihan pun tampaknya kelelahan dan terbawa stress mamanya. Bismillah ya Allah, beri aku kekuatan. 

Di Bekasi, banyak adik-adik kelasku di pesantren yang sekarang juga sedang melaksanakan ujian. Mereka sedikit banyak membantuku mengurus Jihan. Tentu meminta tolong pada yang dikenal bertahun-tahun lebih mudah ketimbang merepotkan orang yang baru kita kenal.

__________
Kegiatan rutin di Bekasi adalah menggendong Jihan kemana-mana dan naik turun tangga. Aku cukup kelelahan dengan aktifitas ini, ditambah hawa dingin AC di asrama tempat kami tinggal membuat tenagaku terforsir. Akhirnya, aku dan Jihan tumbang. Aku terkena flu (padahal aku jarang flu), dan Jihan demam tinggi. 

Sebagai wanita yang jauh dari suami, hamil muda (4 bulan), flu berat, ga punya hape (hapeku rusak karena kebanting sebelum berangkat ke Bekasi, hehe), anak sakit, dan dalam masa ujian, tentunya tingkat stressku meningkat tajam. Tapi bi idznillah aku masih bisa menguatkan diri untuk menjalani semuanya. Meskipun di akhir ujian aku memilih ngelaju ketimbang harus tinggal di asrama yang sangat dingin itu. Maklum lah, manusia kamfung tak kuat AC, hehe. 

Alhamdulillah, setelah selesai ujian, perasaanku lega tak terkira. Aku kembali ke aktifitas harianku, IRT. Allah, tiada kekuatan dan daya kecuali dari-Mu. 

I Feel Free...!

Suatu sore di akhir bulan September, Mase mengajakku pergi ke Citra Indah, untuk mengunjungi Ummu Fauzan. Sudah lama sekali kami tak berkunjung ke sana. Kebetulan juga beliau baru pindahan rumah. 



Perjalanan motor terjauh sejak aku hamil, 20 Km. Rasanya memang lelah sekali, namun akhirnya aku bisa sampai tujuan meskipun badan rasanya remuk redam. 

Kabar gembiranya adalah: mulai pekan depan, setiap Kamis pagi, Mase akan pergi ke Citra Indah untuk menghadiri kajian, dan aku akan membujuknya untuk boleh ikut. Alhamdulillah Mase mengijinkan meskipun perjalanan ditempuh menggunakan motor. Bismillah, sehat terus ya dede bayi. 

Akhirnya aku bisa refreshing tiap pekan dengan cara yang berbeda. Refreshing tak harus piknik dan makan-makan. Hal sederhana bisa menjadi penghilang jenuh, tergantung bagaimana kita menyikapinya. 

Tuesday, March 15, 2016

Aktivitas Baru Jihan

Di Andalus, Jihan ikut kegiatan play group yang diadakan oleh ummahat. Meskipun rada kagok awalnya, lama kelamaan Jihan kelihatan enjoy dan menikmati sekolah tiga kali sepekan itu.

Meskipun kegiatan PG diadakan masih dalam lingkungan pesantren, namun Jihan tidak bisa menghadirinya setiap hari. Karena medan yang naik turun menyebabkanku harus diantar-jemput oleh Mase, sementara kegiatan Mase makin padat saja setiap harinya. 

__________
Akhir-akhir ini, Mase selalu sibuk dan banyak kerjaan. Rapat ini, rapat itu, maklumlah namanya pesantren belia, perlu perbaikan di banyak sisi. 

Terkadang aku sedih melihatnya begitu kelelahan ketika sampai rumah. Kadang ia baru pulang tengah malam. Ingin rasanya membantunya dan meringankan bebannya. Namun aku bisa apa? 

Bersyukur saat-saat seperti ini, aku sudah tinggal di dalam komplek pesantren. Tak terbayang kalau aku masih tinggal di perumahan, pasti lelah Mase makin berlipat-lipat. 

Ya Allah, berikanlah padanya kekuatan dan kesehatan untuk berjihad mendidik generasi salaful ummah. Aamiin

Kehidupan Baru

Usia Jihan 15 bulan. Kosakata yang dihafalnya sudah mulai banyak. Doi juga tiba-tiba makin doyan makan. Padahal, biasanya urat kesabaranku harus bekerja keras ketika menungguinya makan. 

Suasana di Andalus sangat sejuk dan menyenangkan. Apalagi suara adzan, iqamah, muhadharah, selalu terdengar jelas sampai rumah. Aku tak lagi merasa kesepian, tak ada lagi gonggongan anjing galak. 

Aku sudah mulai berkenalan dengan ummahat para tetangga, meskipun aku masih jarang keluar rumah (emang udah watak suka sepi sih kayaknya). Tapi masya Allah, bahagia rasanya punya tetangga yang shalihah dan semanhaj. 

__________
Mengingat flek di awal kehamilanku, aku meminta Mase untuk menemani periksa ke bidan puskesmas. Alhamdulillah, menurut bidan, kondisiku dan janin baik. Hanya saja aku perlu menjaganya dengan mengurangi aktifitas yang menguras tenaga, dan mengurangi bepergian menggunakan motor. 

Mase banyak membantuku, mencuci baju, mencuci piring, menyapu, dilakukannya ketika ia sempat. 

__________ 
Baru beberapa pekan tinggal di Andalus, aku merasa sangat bosan dan ingin refreshing. Jelas berbeda rasanya, dulu di perumahan, kami rutin 'jalan-jalan' meskipun sekedar membeli lauk makan, jajan, ataupun melihat-lihat cluster yang baru dibangun. Sedangkan sekarang, aku harus menjaga kandunganku dan tidak banyak naik motor. 

Berkali-kali aku meminta diajak jalan, namun Mase menolak dengan baik sambil mengingatkan pesan bu bidan. 

Ya Rabbi, rasanya jenuh ini akan membunuhku!

__________
Sayur-sayuran dan bahan makanan di Andalus lumayan mahal. Sementara aku belum menemukan tukang sayur yang klop dan eksis seperti bang Somad. 

Mase mulai memikirkan untuk belanja ke pasar sekali sepekan, sehingga aku tak perlu galau memikirkan bahan makanan yang mahal dan kadang kurang segar. 

Beruntungnya aku memiliki suami yang 'merakyat', tidak ragu melakukan pekerjaan rumah tangga, suka membantu istri, dan yang terpenting, tidak gengsi belanja ke pasar. Alhamdulillah, masya Allah. 


Hadiah Kedua



Saat masih di rumah lama, suatu Jumat malam di bulan Agustus (lagi-lagi Mase sedang tidak di rumah). Seperti biasa, Jihan duduk di atas perutku sambil mengobrol denganku. Tapi, aku merasa ada yang aneh, seperti ada daging di dalam sana. Segera aku meminta Jihan untuk turun karena suatu firasat. 

Haidku memang sudah terlambat sepekan. Tapi masih tak terpikir kalau aku hamil lagi, rasanya belum siap. 

Besok paginya, hari Sabtu, moodku sedang baik dan ingin jalan pagi. Aku mendorong troli Jihan, iseng jajan, belanja sayur, dan membeli kebutuhan dapur, kutempuh jarak ratusan meter dengan berjalan cepat (namanya juga lagi goodmood). Nanti siang insya Allah Mase akan menjemputku untuk melihat rumah yang akan kami huni di pesantren, sekalian membawa barang-barang kecil yang bisa dibawa. 

Sampai di rumah, entah mengapa tiba-tiba aku merasa pusing dan tidak enak badan. Padahal tadi rasanya sehat saja. 

__________
Mase datang, aku langsung ke kamar mandi untuk bersiap. Ternyata aku haid. Alhamdulillah, lega rasanya, berarti yang kurasakan kemarin hanya firasat belaka. Aku membantu mase mengangkut barang ke atas mobil pesantren, lalu bersiap berangkat. 

Mobil baru berjalan beberapa ratus meter, saat aku merasakan mulas di perutku, seperti nyeri haid. Sudah lama sekali aku tidak pernah kesakitan saat haid. Kupikir, 'Ah, mungkin ini pengaruh dari haidku yang terlambat', dan aku tak ambil pusing. 

Sore harinya, kami pulang dari pesantren, perutku sudah tidak melilit, tapi darah haidku juga berhenti. 
__________
Aneh, darah haidku tidak keluar lagi setelah sore itu. Aku juga makin lemas, pusing, dan lesu. Rabu besok kami akan pindahan ke pesantren, jadi aku tetap harus packing meskipun sedang tak enak badan. 

Berkonsultasi dengan beberapa teman tentang masalah haid dan flek kehamilan, aku akhirnya memutuskan untuk memcoba testpack. Seandainya betul hamilpun, tak ada salahnya aku mengetahuinya sejak dini, daripada harus mengalami kejadian yang tak diinginkan. 

__________
Subuh hari Rabu sebelum kami pindahan, Mase masih di masjid, padahal aku harus segera shalat subuh untuk finishing packing. Tidak mungkin menunggu Mase pulang dan melakukan test bersama. Bismillah, aku melakukan tes urine sendirian. 

Ya Allah, anak adalah rezeki dari-Mu, tak pantas aku mengeluhkan hadiah-Mu. Berilah aku kekuatan dan kesabaran untuk mendidik anak-anakku kelak.

Saat Mase tiba dari masjid ...
"De, gimana, udah dicoba testpacknya?"
"Sudah dong, tu lihat aja sendiri di situ."
"Haaaaaa...?! Dua garis tu artinya positif kan De?"
Aku hanya tertawa.

Pindah ke Rumah Dinas

Kami masih menghuni rumah di Citra Indah. Aktifitas kembali seperti sedia kala. Sepi, mencekam, dan suara gonggongan anjing galak yang setia menemani. 

Oh, iya, saat mudik kemarin, Mase bercerita kalau pesantren sedang membangun dua rumah baru. Yang kemungkinan salah satunya bisa kita pakai. Wow, seneng sih, karena kalau benar kami bisa pindah, Mase bisa lebih menghemat uang bensin dan tenaga untuk bolak-balik, ditambah memperingan beban pikiran uang kontrakan. Apalagi, di sana banyak lahan cocok tanam yang mendukung penuh hobi Mase. 

__________
Setelah berunding dan menimbang. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke rumah dinas. Packing kilat aku lakukan, karena rumah kontrakan yang aku tempati akan segera dihuni oleh ustadz lain yang tidak mendapat rumah dinas. 

Sebagian barang yang kecil diangkut menggunakan mobil pesantren, barang yang besar akan dibawa menggunakan pick-up yang kami sewa. 

__________
Alhamdulillah pindahan kami berjalan dengan lancar. Kini aku tinggal di komplek pesantren, Mase bisa pulang setiap hari, bahkan makan pagi, siang, dan sore bisa dilakukannya di rumah. 

Semoga berkah. Aamiin. 

Keterangan: Halaman samping rumah dinas yang hijau dan subur.


Kembali ke Perantauan

Alhamdulillah, mudik kali ini, Mase dapat pinjaman mobil dari Bulek Mi, sehingga ga perlu ribet mikir tiket meskipun mungkin boros di BBM dan tenaga. 

Di Semarang, kami bertiga sempat jalan-jalan sebentar, ke Cimory farm, Banaran Coffe, sampai Salatiga dan masuk ke pesantren almamater Mase. Masya Allah, sejak dulu penasaran, baru sekarang bisa melihat langsung pesantren yang katanya 'jodoh'nya pesantren almamaterku. Hehe.

__________
Kami mudik ke Magetan dan berlebaran di sana. Alhamdulillah usia Jihan sudah 13 bulan, dia sudah bisa berjalan meskipun sebatas tempat datar saja, dan mengucapkan beberapa kosakata sederhana. 

Aku sangat bahagia dengan perkembangannya. Karena 'tugas' motorik sudah bisa dianggap selesai, sekarang konsentrasiku kupusatkan pada pendidikan karakternya.

Masya Allah, sungguh berat proses belajar yang perlu dilalui seorang bayi. Dari tak berdaya, hingga bisa berjalan. Namun ia terus belajar, tak malas ataupun putus harapan, kadang aku sebagai orang dewasa malah kalah gigih. Anak-anak berjiwa suci memang ajaib. Masya Allah tabarakallah. 

__________
Tiba waktu kami kembali ke perantauan, menggunakan mobil yang sama, menempuh perjalanan panjang, macet, sampai jalanan yang belum jadi pun kami lalui. Alhamdulillah saat itu mase tidak sendiri, ada adik dan sepupu yang menemani. Jadi, aku sebagai wanita bisa nyantai kaya di pantai, hehe. 

Ramadhan 2015

Akhirnya bulan mulia datang menyapa. Ini adalah Ramadhan ketiga setelah pernikahan kami, dan kedua bagi Jihan. Aku sangat bersyukur karena dalam waktu yang singkat ini, aku sudah diizinkan Allah untuk memetik berbagai pengalaman dan pelajaran. 

Shalat Tarawih tetap aku laksanakan di rumah, karena Jihan belum terlalu lancar berjalan, jadi aku belum berani mengajaknya shalat di mushala. Tapi di tahun ini, aku bisa ikut acara buka bersama setiap hari, itung-itung mencari udara segar untuk Jihan. 

Hampir sebulan usia LDRku dengan Mase. Rasanya rindu, tapi tak ada pilihan melainkan sabar, karena sebentar lagi insya Allah kita akan bertemu. 

Jihan sudah mulai berjalan beberapa langkah, setelah sebelumnya 'lupa' caranya berjalan. Aku tetap bangga sebagai ibunya, toh, cepat lambatnya anak berjalan tak membuktikan prestasi saat dewasanya nanti. Yang penting si kecil sehat dan ceria, itu sudah lebih dari cukup. Love you Jihanku, Love you bebebku. 

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihat. 

Pulang Kampung



Tanggal 15 Mei, kami bertiga mudik ke Semarang, untuk menghadiri nikahan Mbak Ta. Setelah itu, aku akan tetap tinggal di Semarang sampai Ramadhan, sementara Mase kembali ke Jonggol. Setiap tahun tampaknya kami harus mencicipi LDR. Hmmm ... .

Di Semarang, Jihan tampaknya agak terkejut melihat keramaian. Sementara banyak sanak saudara ingin menggendongnya. Jihan (lagi-lagi) mengalami hambatan dalam adaptasi. Dia tak mau lepas dari abah dan mamanya. Bahkan, dia seolah harus belajar rambatan lagi dari awal, lupa bagaimana caranya berdiri dan melangkahkan kaki. 

Sebagai ibu yang selama ini memonitor perkembangannya secara seksama, tentu aku merasa sangat sedih melihat penurunan ini. Namun, apa yang dapat aku lakukan? Tidak mungkin juga aku mem-protect Jihan secara berlebihan. 

Alhamdulillah, setelah Mase kembali ke Bogor, Jihan jadi lebih lunak, mulai mau digendong tante dan eyangnya. Alhamdulillah, aku tak lagi kewalahan menggendongnya kemana pun aku pergi. 


Pindah Rumah

Usia Jihan 10 bulan saat kami pindah rumah kontrakan. Alhamdulillah rumah yang akan kami huni hanya berjarak 100 meter dari rumah lama. Sehingga Mase bisa memindahkan barang-barang kecil menggunakan motor, barang yang besar diangkut gotong-royong dengan berjalan kaki. 

Kami sudah cukup lama mencari rumah untuk pindah, karena struktur bangunan rumah lama kami ternyata sudah tidak layak huni. Berbulan mencari, namun selalu ada ketidak-cocokan, dari letak rumah, luas, maupun harganya. Hehe.

'Rumah baru' kami lebih luas dari rumah lama, meskipun lahan bercocok tanam tidak ada lagi, karena taman sudah dipenuhi tanaman hias. Jadi, Mase hanya bisa menuangkan hobinya di pot-pot kecil dan botol air mineral bekas. 

Rumah ini berjarak agak jauh dari masjid, sehingga suasananya makin sepi mencekam. Sebelah kiri rumah kosong, sebelah kanan dihuni kakek-nenek yang jarang keluar rumah, rumah belakang kosong, sebelah belakang punya anjing galak, depan rumah hanya padang rumput luas tanpa penerangan. 

Aku makin kesepian, kadang aku mengusir sepi ke ibu nasi uduk, ngobrol sejenak, kemudian pulang. Alhamdulillah wi-fi dan suara radio full 24 jam cukup membantu mengusir sepi. 

Tanggal 17 Mei, Insya Allah kakakku, Mbak Ta akan menikah. Bahagia dan tak sabar rasanya menunggu hari itu. 

Semantara perkembangan Jihan, dia sudah mulai makan nasi lembek, meskipun kadang suka asal comot nasi kuning atau gorengan jatah Mama. Hehe. 

Jihan sudah mulai bisa melangkahkan kaki beberapa langkah, tiga, lima, kemudian menyeberangi 2/3 ruang tamu kami. Rasanya senang sekali bisa melihatnya berkembang. Tawa dan antusiasnya merupakan amunisi yang membuat semangatku makin meningkat. 

Qiila dan Suci (dua anak yang menjadi teman hafalanku) datang ke rumah setiap hari Sabtu, tentunya ini banyak mengurangi rasa kesepian, apalagi kalau hari itu Mase ada tugas di pesantren. 

Monday, March 14, 2016

Tragedi Traumatis

Sembilan bulan, Jihan sudah mulai rambatan (belajar berdiri sambil berpegangan pada tembok, meja, dll), kemudian melepas tangannya dan berdiri sesaat. Penjagaanku harus semakin ekstra. Kini pandanganku tak bisa terlepas darinya. Mengerjakan pekarjaan rumah hanya saat dia tidur, baik itu mencuci, menyetrika, ataupun memasak. 

Oh, iya, sejak Jihan berusia 5 bulanan, aku sudah kembali memasak, loh, bahkan kami mulai berjualan makanan kecil-kecilan ke kantin pesantren. 

Dari tape goreng, martabak mie, sate telur puyuh, pisang coklat, es, semuanya kami jajal satu persatu secara bergantian, agar customer tidak bosan. Tidak banyak, maksimal hanya 50 buah, namun rasanya senang luar biasa kalau dagangan kami ludes. 

Kembali ke Jihan, pada saat itu, ada sebuah kejadian traumatis yang cukup membuatku sedih dan merasa sangat bersalah padanya. 

Suatu malam (saat itu Mase menginap di pesantren), aku sedang menulis dengan posisi duduk hampir seperti sujud. Tiba2, jihan berpegangan pada punggungku dan berdiri. Dengan posisi seperti itu, sangat sulit bagiku untuk menggapai tangannya. Qaddarallah, ia langsung melepaskan pegangannya dan berdiri sendiri, belum sempat kupegang tangannya, Jihan sudah keburu terjatuh, kepalanya membentur lantai. 

Dia menangis kesakitan, bahkan akupun ikut menangis karena kurang cekatan melindunginya. Sejak itu, Jihan agak trauma untuk berdiri. Sehingga harus belajar rambatan dari awal sekali. 

Dari kejadian itu aku tahu, anak seperti orang dewasa, memiliki rasa takut dan trauma. Mereka bukan makhluk yang kosong dari perasaan, hanya saja mereka belum bisa mengungkapkannya dalam kata. 

Semoga perkembangan Jihan tidak terlambat. Aamiin. 

Sunday, March 13, 2016

Berpetualang ke Jakarta

Alhamdulillah, dengan karunia Allah kemudian atas pengertian Mase, aku diizinkan untuk mengambil program S1 online yang sebetulnya belum pernah terpikir olehku. Ya, tak ada salahnya aku tetap menuntut ilmu semampuku, karena ilmu sejatinya dibutuhkan untuk bahan ajar anak-anakku kelak. 

Kuliah ini terdiri dari 9 semester, satu semester sebagai persiapan, dan 8 semester sisanya sebagai kuliah inti. Semuanya dilalui online jarak jauh, kecuali saat ujian, para mahasiswa harus datang ke tempat yang ditentukan panitia. 

Ujian kali ini diadakan di kampus lamaku, tempat yang tak asing bagiku, sehingga banyak channel mencari info tumpangan  sementara bagi aku dan Jihan selama sepekan. 



__________
Januari 2015

Waktu ujian tiba, aku diantar Mase ke kosan teman, tempatku akan menumpang selama ujian. Setelah itu Mase langsung kembali ke Jonggol karena kegiatan pesantren sedang padat. 
Mbak Qori alhamdulillah bersedia membantu mengurus Jihan meskipun doi sedang hamil juga. 

Aku berangkat ke kampus pukul 9.00 padahal ujian dimulai pukul 09.30, mepet, berbeda jauh dengan kebiasaanku saat masih benar-benar kuliah di kampus biru tersebut, pantang terlambat. 

Hal ini kulakukan karena terlalu berat meninggalkan Jihan meskipun barang satu-dua jam. 

Aku selalu mengerjakan ujian secepat mungkin, kemuadian berjalan cepat kembali ke kosan, sebelum hujan turun, dan juga karena rindu pada putriku. 

__________
Saat itu usia Jihan 8 bulan. Sudah mulai belajar titah meskipun belum bisa berdiri tegak. Jihan bersemangat sebagaimana aku, belajar banyak hal baru dari nol. From zero to hero. 

MPASI bubur saring, aku membuatkan untuk Jihan setiap hari, daripada musti membeli bubur jadi atau instan yang entah bagaimana kualitas, kadar garam, dan penyedap rasanya. Aku juga rutin menyiapkan ASIP bagi Jihan, meskipun tak pernah banyak menghasilkan. 

Bagiku, yang penting adalah memberikan yang terbaik bagi anak, meskipun sedikit bersusah payah. Daripada musti keluar dari standar kesehatan yang dianjurkan. 

Teringat nasehat seorang ustadzah yang merubah total pandanganku tentang seorang ibu. Bukankan seorang ibu memang diciptakan untuk anak dan dituntut untuk mengasuh anak? Kewajiban terbesar seorang ibu adalah mendidik, bukan bekerja di luar atau mengejar tittle sarjana.  
 
Merupakan suatu kekonyolan ketika kita meninggalkan kewajiban demi suatu yang tidak wajib. 

Fase MPASI

Alhamdulillah Jihan selalu bisa menghabiskan makanan yang aku sediakan. Aku masih memfokuskan makanannya pada buah-buahan saja. Meskipun awalnya sempat mencoba kentang, namun akhirnya aku mengambil keputusan untuk full buah, dua kali sehari. 



MPASI masih sangat asing bagiku. Aku musti banyak mencari tahu tentangnya. Bertanya ke sana ke mari, mencari referensi, hingga terkadang membuat sebuah kesalahan kecil. 

Di masa ini pula, aku mulai banyak dirundung kesedihan. Bayiku tersayang sering sembelit. Hingga kadang aku harus melihat darah keluar dari duburnya karena sangking kerasnya fases, atau malah harus menyuntikkan pencahar yang pastinya membuat perutnya kurang nyaman. 

Jihan hanya BAB tiga hari sekali, bahkan kadang hingga sepekan. Itupun selalu keras dan susah dikeluarkan. Aku sering menangis melihatnya. Sadar itu kesalahanku, namun tak mengerti bagaimana solusinya, padahal dia hanya makan buah. 

Tapi beruntung, Jihan adalah anak yang baik, ia masih saja ceria seperti biasanya, sehingga aku tidak khawatir berlebihan. 

Perkembangan Jihan

Alhamdulillah Jihan tumbuh dengan baik. Aku tetap berkomitmen untuk memberikannya ASI eksklusif. ASIku cukup melimpah, Jihan doyan minum dan tidur, sehingga badannya menjadi cepat gemuk. 

Imunisasi juga kami berikan secara teratur meskipun awalnya agak terlambat. Ya, tadinya aku menolak vaksinasi, tapi setelah belajar dan membaca dari sumber terpercaya, serta menimbang dari segi kesehatan dan agama, aku dan Mase berdiskusi untuk memberikan bagi Jihan yang terbaik dalam pandangan kami, yaitu imunisasi. 

Usia 3 bulan, Jihan sudah bisa tengkurap. Aku sangat bahagia. Excited menunggu saat dia bisa berjalan nanti. 

Usia lima bulan, dia sudah mulai bisa merangkak meskipun belum mahir, dan belajar duduk. Di usia ini, aku mulai mencari tahu tentang MPASI. Membeli buku resep, bertanya kepada teman-teman, dan mencari ilmu dari internet. Bahagianya menjadi seorang Ibu, dari nol besar, kemudian mempelajari semua hal, kedokteran, dapur, hingga remeh-temeh seperti cara menyuapi anak. 


Ramadhan Pertama Jihan


Anakku Jihan termasuk anak yang anteng. Kalau menangis mudah dibujuk, juga bukan tipe anak yang harus digendong terus alias bau tangan. 

Kepribadian inilah yang amat sangat banyak membantu ibu labil sok sibuk sepertiku.

Aku bisa 'bekerja' dengan tenang tanpa harus menggendongnya. Cukup terpantau pandangan mata, dan mempertajam telinga kalau sewaktu-waktu ia merasa kurang nyaman, insya Allah aman. 

Bulan Ramadhan tiba. Ini adalah Ramadhan kedua setelah kami menikah, dan yang pertama bagi si mungilku. 

Si Abah masih terus bolak-balik pesantren-rumah setiap hari, kecuali bila ada rapat malam atau urusan mendesak. Doi biasa pulang setelah shalat Tarawih, sehingga sampai rumah baru pukul 9 atau 10 malam. 

Sebenarnya, keadaan seperti ini sangat membuatku kesepian. Biasanya aku melaksanakan Tarawih berjamaah, kali ini musti sendirian. Tapi sesekali Mase menyempatkan waktu untuk shalat di rumah dan menjadi imam bagiku. 

__________
Suatu hari di bulan itu, Mase pulang dan mengeluhkan nyeri di bahu kanannya. Di bagian itu memang ada pen tulang yang seharusnya sudah dilepas sejak beberapa bulan lalu. 

Ketika dilihat, ternyata ada luka terbuka, pennya sampai terlihat jelas. Dan tentunya sangat menyakitkan kalau dibawa pulang-pergi menempuh jalanan yang tak mulus. 

Beruntung, saat itu santri sudah selesai ujian dan tinggal menunggu hari terima raport dan liburan. Jadi Mase bisa mengerjakan tugas koreksi dan input nilai secara jarak jauh. 

__________
Beberapa hari kemudian, setelah santri pulang. Kami juga mempersiapkan diri untuk mudik. Menurut dokter umum, pen mase harus segera dilepas agar tidak infeksi. Maka jadilah kami pulkam dengan menumpang mobil teman Mase yang menuju Salatiga. 

Kami turun di Semarang, menginap semalam, besok paginya Mase harus segera pulang ke Magetan. Sementara aku dan Jihan tetap tinggal di Semarang karena mengkhawatirkan kesehatan putri kecil kami. #LDRlagi

Saturday, March 12, 2016

Hidup Baru bagi Kami

Mami kembali ke Semarang, Mase kembali ke aktifitas biasa. Meskipun sedih, aku harus kuat, karena inilah jalan yang kupilih; melahirkan dan mengurus anak kami di perantauan. 

Aku kembali mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Mencuci dan menjemur baju bayi pagi dan sore hari, menyetrika siang hari, membersihkan rumah, dan yang jelas mengurus kebutuhan bayi seharian. 

Alhamdulillah Mase memberikan keringanan padaku untuk tidak memasak. Aku bisa membeli lauk dari pedagang lauk yang lewat di depan rumah, atau Mase membelikannya untukku sepulang dari pesantren. Dia juga membantu mencuci baju-baju besar, karena untuk sementara aku harus menjaga jahitan agar tidak kembali robek. 

Mengantar Mase berangkat pagi, kemudian menyambutnya di malam hari. Aku sebenarnya tak tega melihatnya begitu kelelahan. 20 km pulang pergi bukan perjalanan yang ringan bukan?

Sampai di rumah, Mase menyempatkan diri juga untuk mengurus Jihan, sementara aku istirahat sejenak, mengumpulkan tenaga untuk menemani bayi begadang malam. 

Kadang, karena kelelahan, saat Mase pulang, aku dalam keadaan badmood. Mase dengan begitu sabarnya menghadapi istrinya yang labil ini, mengambil alih kesibukanku, membiarkanku mengembalikan mood sejenak. 

Alhamdulillah, karunia Allah begitu besar. Suami yang pengertian, dan anak mungil yang menghibur jiwa dan mengusir sepi. Syukurku pada-Mu ya Allah.

___________
Baru dua pekan umur Jihan, suatu saat sedang menyetrika baju didampingi Jihan, ada SMS masuk, rupanya dari Mase. 

Doi bilang kalau kemungkinan malam ini tidak bisa pulang, karena mau ada rapat penting jam 8 malam. Kemungkinan baru selesai pukul 22.00 atau lebih, dan sangat mustahil untuk bisa pulang di waktu itu. 

Rasanya sakit sekali hati ini. Memaksanya pulang tak tega, tapi untuk tinggal berdua saja aku merasa tak mampu, apalagi aku masih sangat kewalahan memakaikan bedong untuk Jihan. Aku hanya bisa menangis sesenggukan a la cewek cengeng. 

Alhamdulillah malam itu berlalu dengan lancar. Dan sudah bisa ditebak, besok-besok Mase tak ragu lagi untuk meninggalkan kami bermalam berdua saja di rumah, hiks. 

Friday, March 11, 2016

Blogging Pasca Melahirkan

Catatan ini kutulis sekitar sepekan setelah melahirkan. Kuambil dari blogku nimittablog.wordpress.com 

Alhamdulillah. 

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami, pada hari Rabu, 21 Mei 2014, pukul 17.07 di RS Harapan Mulia, Kabupaten Bekasi, dengan selamat dan sehat, yang kami beri nama JIHAN ABDULLAH. Semoga kelak bisa menjadi putri yang shalihah, berbakti pada orang tua, berguna bagi bangsa dan masyarakat, aamiin.

Ya, alhamdulillah proses persalinanku berjalan dengan lancar, walaupun harapan melahirkan dengan normal belum bisa diwujudkan, qaddarallahu wa maa syaa-a fa’al, semoga semuanya bisa diambil hikmahnya dan menjadi tabungan amalan baik bagi semuanya yang ikut andil dalam menolong proses persalinanku.

Rasanya menjadi ibu baru, yang baru memiliki anak sekaligus baru belajar, rasanya nano-nano. Kadang panik, kadang ketakutan, kadang sedih juga karena belum bisa mengurus bayi dengan profesional. Kadang bahagia luar biasa bisa memandang Jihan kecilku dan berlama-lama mengecup pipi mungilnya, terharu…

Saat aku tidur di tengah antara suamiku tercinta dan Jihan kecil, rasanya hatiku melayang. rasa bahagia membuncah memenuhi hatiku. menengok ke kiri, kudapati suamiku tertidur lelap, setelah menempuh perjalanan pulang puluhan kilometer, pengorbanan fisik dan mental yang sama sekali tak mudah, wajahnya terlihat lelah, tapi rona teduh tak hilang darinya. Kemudian kutoleh ke kanan, kudapati Jihan jecilku sedang lelap tertidur juga, wajah putih kemerahan tanpa dosanya itu membuat mataku berkaca-kaca, selamat datang nak, selamat datang di dunia, kini aku dapat puas melihat wajahmu, tak sekedar mengusap-usap perut buncit seperti sebelumnya :’). Alhamdulillahalhamdulillah

Kukecup kening suamiku, ia tak bergeming, kemudian pipi Jihan, buah hati kami, dan air mataku menetes di pipi halusnya, ia menggeliat kecil, lalu kembali terlelap. Allah, terima kasih atas karunia ini, terima kasih, sungguh berdosa bila aku tak mensyukuri dan menjaga dua nikmat yang Kau berikan ini.

Melihat si Abah menggendong putri kecilnya, membacakan Qur’an untuknya, mengucapkan kalimat “Masya Allah, putri Abah nih”, hingga saat ia menggodai putrinya dengan berbagai keisengannya membuatku selalu tersenyum kecil. Rasa sakit yang kurasakan rasanya lunas terbayar sudah. Ternyata suka duka menjadi ibu adalah keharusan yang hampa bila ditinggalkan salah satu komponennya.

Kini aku mengantarkan suamiku pergi bekerja dengan menggendong si kecil, dan menyambutnya pulang dengan begitu pula. Warna baru, betul-betul warna baru. Karena sebelum ini ia pulang dan pergi hanya dengan mengusap perut buncitku, alhamdulillah…

Allah, nikmat yang Kau anugerahkan begitu besarnya, hadiah yang Kau berikan begitu indahnya, karunia yang Kau titipkan begitu sempurna; suami yang luar biasa, dan kini Kau tambahkan dengan anak yang luar biasa, sungguh sempurna ciptaan-Mu, sungguh besar keagunganMu. 

Allah, mudahkanlah aku untuk menjaga amanah sekaligus nikmat yang Kau titipkan, sebagai istri, dan kini sebagai ibu, aku hanya ingin menjadi yang terbaik bagi mereka, mengerahkan segala yang aku bisa, aku mampui, untuk membuat mereka nyaman hidup bersamaku, membuat mereka bahagia menemaniku, hingga akhir nanti.

Jadikan aku istri yang shalihah sekaligus ibu yang bijak, jadikan suamiku ayah yang bertanggung jawab dan penyayang, kemudian jadikan Jihan kami anak yang baik, yang dapat menjadi tabungan bagi kami saat harta dan tahta tak lagi dapat berarti, saat jasad kami terkubur tanah merah, berselimutkan kegelapan. Jadikan ia anak yang shalihah Ya Allah, yang selalu menjadi penyejuk pandangan bagi kami, aamiin aamiin aamiin. 

Tambahan: Kenapa nama Jihan jadi Jihan Mahira, padahal di akikah Jihan Abdullah?

Itu karena si Mama ga rela bayi cantiknya diledek sama temen-temen kerja si Abah. "Hei Abdullah, cewek kok namanya Abdullah". Sementara Abahnya diam aja ga menanggapi, padahal Mamanya mencak-mencak kalo denger anaknya dikatain. Ehe.

Pengorbanan Orang Terdekatku

Tiga hari di rumah sakit merupakan tiga hari sibuk bagi Mase, Mami, dan tante Nuk. Juga merupakan hari berat bagi anak manja sepertiku ini.  

Belajar berjalan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung berhasil. Mata berkunang-kunang, keringat dingin mengucur deras demi menahan rasa sakit yang luar biasa. Akhirnya aku kembali berbaring. 

Sekedar duduk untuk menyusui saja, aku minta agar tempat tidurku didudukkan.

Ke toilet, musti ditemani, untuk BAB aku tak berani.

Bersin dan tertawa? Susah sekali dilakukan. 

Belum lagi sakit kepala luar biasa dari tengkuk hingga pangkal hidung selama berhari-hari.

Alhamdulillah para pendampingku sangat pengertian dan tulus membantuku. 

Teringat malam pertama di rumah sakit, Mase harus tidur duduk di kursi sambil menjaga bayi kami. Sementara Mami dan tante Nuk tidur apa adanya, satu di ranjang sebelah yang kosong, satu lagi beralaskan tikar tipis. 

Malam kedua, Mase tidur melingkar di ranjangku dekat kakiku. Kakinya disandarkan ke kursi. Pasti sangat tidak nyaman. 

Malam ketiga, Mase baru bisa nyaman tidur berdampingan denganku. Itupun juga musti terbangun tengah malam menggendong bayi kami ketika menangis, untuk bisa aku susui. 

Bayiku? Dia juga musti bersabar. Ruangan kamar ber-AC, kadang terlalu dingin, sementara remote entah kemana rimbanya. Para perawat saling lempar tanpa kejelasan dimana kami bisa meminjam remote. Bayi kami sesekali harus menangis karena kedinginan, padahal sudah dibedong. 

__________
Sesampai kami di rumah, aku masih merasakan sakit kepala hebat di kepalaku. Menurut bidan, itu merupakan efek dari anastesi sebelum operasi. 

Untuk makan aku tak selera, Mase sampai membujukku, tapi aku benar-benar kewalahan. Rasanya ingin muntah.

Alhamdulillah, bidan memberikan service memandikan bayi selama 3 hari. Jadi aku masih punya waktu untuk belajar memandikan. Aku harus siap, bismillah, sebentar lagi kehidupanku akan banyak berubah. 




Thursday, March 10, 2016

Allah, Kupasrahkan Jiwa Raga Kami

Alhamdulillah, mobil datang segera, dikemudikan oleh Abu Fauzan. 

Sebelum keributan terjadi, Mami dan Ummu Fauzan sudah bertukar nomor handphone. Inilah takdir Allah, banyak hal yang terkesan kebetulan, namun sesungguhnya Allah telah mengaturnya dengan sedemikian indah. 

__________
Aku segera dilarikan ke rumah sakit Harapan Mulia. Sampai di sana, aku langsung dipersiapkan untuk operasi. Dokter sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. 

Dari hasil USG, akhirnya dokter menentukan bahwa operasi harus segera mungkin dilakukan, karena detak jantung bayi sudah mulai lemah, dan juga aku masih tidak bisa menahan mengejan. 

"Pak, kita harus segera operasi Ibu sekarang juga, yang penting kita selamatkan ibunya, untuk anaknya, kita berdoa saja". 

Perkataan itu melukai hatiku, menyayat hati Mase. Ya Allah, bagaimana bisa perjuangan selama ini harus diakhiri dengan kematian anak kami? 

Sebelum masuk ruang operasi, sambil menahan sakit, kugenggam tangan kawan seperjuanganku yang telah setia mendampingiku selama 11 bulan terakhir, yang surga dan nerakaku berada dalam ridhonya, kekasihku tercinta, "Mase, maafin kesalahan adek ya..."

Semoga operasi berjalan lancar, dan Allah masih berkenan mempertahankan nyawaku dalam jasad. 
__________

Aku tak ingat banyak kejadian sore itu. Yang aku tahu aku malu berada di ruangan bersama dokter dan perawat laki-laki. Yang aku tahu mereka membicarakan masalah politik. Yang aku ingat aku berada dalam ruangan dingin, setengah tertidur karena lelah luar biasa. Aku ingat bagaimana tanganku diikat gemetar kedinginan. 

Tak lama, tepatnya pukul 17.07 tangis bayiku menggema di ruangan hijau.
"Bayinya perempuan, Bu, sehat, panjang 48, berat 2,5 kg" (suster salah ngukur, seharusnya 51 cm)
Aku mengecup pipi bayiku sebelum dibawa ke luar ruangan. 

Hatiku mulai tenang, meskipun bayiku terlahir dengan bibir dan muka yang bengkak karena tragedi siang itu. Bayiku, maafkan Mama, semoga kelak kau bisa bersabar mempelajari segala hal baru bersama Mama. 

____________
Aku dipindahkan ke ruang pasca operasi. Menunggu dalam diam hingga Mami masuk. Mami bercerita tentang anak perempuan yang baru kulahirkan. Tangisnya menggema, mungkinlah lapar, atau kedinginan? Sementara itu setenga tubuhku masih mati rasa hingga tengah malam.

Mami keluar, Mase masuk. Duduk di sampingku, menggenggam tanganku. Ia meminta maaf lagi. Kemudian tersedu sambil menciumi tanganku. Pria yang selama ini terlihat kokoh, sabar, dan tahan banting ternyata bisa juga menangis karena khawatir. Ah sayangku...

Malam itu anakku tidak langsung minum ASI. Kurangnya wawasan membuatku dan keluarga menerima saat suster menyodorkan sufor untuk dikonsumsi Jihan. Tapi ia tetap rewel seolah tak puas dengan sufor. Di hari kedua bahkan muntah berwarna kuning. Hingga akhirnya kami putuskan untuk mulai menyusuinya. Alhamdulillah ia tenang dalam dekapan ketiak Mamanya, dan tidak lagi terlalu rewel. 


Wednesday, March 9, 2016

The Day

Rabu, 21 Mei 2014. 


Pagi itu, sekitar pukul 7 pagi, aku mulai merasakan kontraksi. Rasanya seperti ingin BAB, tapi lebih parah lagi. Aku hanya bisa berbaring di kasur, sementara Mase menyiapkan sarapan untukku. 

Ia mencuci piring, mengepel rumah, bebenah merapikan rumah, dan mencuci baju, mengingat siang ini Mami sampai di Jonggol, jadi setidaknya rumah kami siap menerima tamu untuk menginap. Terharu diriku melihatnya berkutat di dapur dan melakukan 'pekerjaan wanita'. 

Aku mulai memberi kabar Mami dan orang-orang rumah. Minta doa agar dipermudah. Semuanya memberi support dan mendoakan kebaikan. Adapun teman-teman, rasanya tak kuat jari ini untuk memberi mereka kabar bahagia. Aku sangat kesakitan dan kelelahan. 

Jam 10 pagi, kami berangkat ke bidan dengan membawa tas perlengkapan bayi. Setelah dicek, ternyata masih pembukaan dua. Bidan memberi pilihan untuk tetap di klinik dan berjalan keliling komplek, atau pulang ke rumah berjalan mondar-mandir di dalamnya. Aku memilih yang kedua, karena bagiku rumah tetap tempat ternyaman dalam situasi ini. 

Sampai di rumah, Mase menuntunku berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Tapi tak lama, aku menyerah, rasanya lemas dan sakit luar biasa. Aku meminta untuk diberi kesempatan istirahat dan tidur. 

__________
Berbaring di lantai, aku masih terus kesakitan, hingga ketiduran, kemudian terbangun lagi oleh rasa sakit, dan begitu seterusnya. 

Mase masih saja berkutat dengan 'pekerjaan wanita' yang tak kunjung usai, sambil sesekali mengecek keadaanku. 

__________
Setelah Zuhur, sekitar pukul 13.00, Mami dan tante Nuk sampai di rumah, dengan diantar tante Wit (tetangga lama Mami yang sekarang berdomisili di Jakarta). 

Dengan menahan sakit, aku menemui mereka, mengobrol sebentar, dan akhirnya minta izin untuk kembali ke kamar. 

Sekitar jam 14.00, Tante Wit masuk ke kamar untuk oamit pulang. Ketika berdiri untuk bersalaman, 
"Bresss..." Air deras mengalir dari vagina seperti balon pecah. Qaddarallah, air ketubanku pecah duluan. 

Segera aku mengenakan gamis lengkap, kemudian pergi ke klinik bidan menggunakan mobil tante Wit. 
Mase masih tetap di rumah untuk membereskan genangan air ketuban di kamar. 

__________
Sampai di klinik, aku langsung dibawa ke ruang bersalin, diminta menghadap ke kiri. Masih pembukaan 4. Ya Rabb, lama sekali. 

Tak lama, Mase datang dan duduk di sampingku, sambil memperdengarkan suara qori kesukaanku; Syaikh Sa'ad al-Ghamidi. 

Kontraksi yang kurasa semakin menjadi, bahkan keinginan untuk mengejan begitu hebatnya. Tak tertahankan. 

Saat mase keluar untuk shalat Asar, bidan, asistennya, Mami, Tante Nuk, semuanya menghampiriku. 
Ada suatu benda aneh terlihat hampir keluar dari vagina. Kata bidan, itu semacam kista. Kata tante Nuk (beliau perawat), itu seperti mulut rahim. 

Kedua tenaga kesehatan tersebut berdebat lumayan lama, sampai akhirnya bu bidan setuju dengan pendapat tante Nuk; ini adalah mulut rahim, dan bahaya kalau sampai dia keluar atau pecah! 

__________
Mase kembali masuk ruangan saat bidan sedang menelpon dokter spog kenalannya. 

"Pak, ini harus segera dibawa ke rumah sakit, harus segera secar, daripada mulut rahimnya pecah". Kata bidan. 
"Dokternya perempuan kan bu?" Tanya Mase
"Wah, susah, pak kalau saat seperti ini masih cari dokter perempuan. Adanya laki-laki". 

Aku pasrah, Mase pasrah, yang terpenting sekarang adalah mencari mobil untuk mengantar ke rumah sakit. 

Makin Dekat dengan HPL

Sekitar sepekan ini, mbak Qori main ke Jonggol. Kebetulan kampus sedang libur 10 hari sebagai hari persiapan ujian. 

Alhamdulillah, jujur aja rasanya senang mendapat temen di masa sepiku. Apalagi sekarang-sekarang ini, tingkat setress bertambah seiring mendekatnya HPL, dan masih sering ditinggal Mase sendirian. 

Bahkan, pada tanggal 17 Mei, yang merupakan HPL anak kami, Mase tetap harus menginap di pesantren karena sedang ada acara tahfidz camp. Kalau seandainya ga ada mbak Qori yang nemenin, mungkin hatiku sudah hancur berkeping bagaikan butiran debu. Ihikk... 

__________
Tanggal 17, 18, 19, belum ada tanda-tanda kontraksi. Meskipun kadang jalan lahir masih terasa disayat-sayat saat mengeluarkan cairan kontroversial tersebut. 

Tanggal 20 sore, Mase pulang dari pesantren, untuk mengantarkan mbak Qori kembali ke Jakarta karena waktu liburan tlah usai. Dengan memohon-mohon, aku minta Mase bisa pulang malam itu juga, jangan menginap di Jakarta, karena bagaimanapun juga, Hayati tak sanggup menanggung semua rasa ini, bang. Ihikk. 

Dan, pada tanggal itu juga, Mami dan tante Nuk (dua budheku) sedang dalam perjalanan dari Semarang menuju Jonggol untuk mendampingiku melahirkan. Rasanya bahagia, keluarga jauh di sana bersedia mendampingiku melahirkan. Meskipun bukan Mamah Papah karena mengingat kondisi beliau yang masih belum stabil. Namun aku bersyukur, setidaknya ada 'orang tua' yang akan mengurangi kepanikanku. Allahumma sahhil lana umuurana aamiin. 

Second Opinion

Sampailah kami di rumah seorang bidan. Plang namanya memang tidak mencolok. Butuh ketelitian dan kejelian untuk bisa menemukannya. 

Aku lupa siapa nama bidannya. Kesan yang kudapat beliau ramah dan pengertian. 

Tibalah sesi 'curhat' ke beliau, dan benar, menurut beliau itu adalah ketuban rembes. Namun beliau tidak berani melakukan 'periksa dalam' karena HPL masih dua pekan lagi. Beliau menyarankan untuk banyak beristirahat dan -istimewanya- meminta Mase untuk menungguiku 24 jam dan minta cuti dari pesantren. Wow!

"Aa, tetehnya tinggal 2 pekan lagi mau lahiran, Aanya harus standby di rumah, nungguin Teteh, jadi suami siaga, cuti dulu dari pesantren, biar kalau kenapa-napa, Aanya bisa langsung bawa teteh ke bidan, kasihan atuh si teteh sendirian di rumah". Kurang lebih seperti itu pesannya. Hihi. 

Akhirnya, kami pulang dengan perasaan sedikit tenang. Aku hanya butuh istirahat, lebih santai, dan menunggu hari H. Adapun ketuban yang rembes ini -kalau benar itu air ketuban-, tidak perlu terlalu dikhawatirkan. 


Tuesday, March 8, 2016

Ketuban Rembes, Entahlah.

Sejak pindah rumah, Mase sering mengantar dan menemaniku jalan pagi. Habis subuh, kita biasanya jalan keliling cluster. Setelah itu barulah Mase siap-siap berangkat ke pesantren. 

Suatu pagi di hari Ahad, sekitar awal bulan Mei, setelah jalan pagi, Mase sibuk menyiangi rumput di halaman depan rumah. Entah kenapa, rasanya aku ingin membantu meskipun badan ini sudah tak nyaman untuk berjongkok. Padahal biasanumya aku sangat enggan saat harus duduk membersihkan rumput yang lebat. Akhirnya, kita kerja bakti berdua sambil berbincang. Sampai saat itu, rasanya tidak ada yang aneh dari kandunganku. 

Malam harinya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengalir dari vagina, disertai rasa nyeri seperti disayat-sayat. 

Aku segera ke toilet, khawatir kalau-kalau  pembukaan sudah dimulai. Ternyata minus, tidak ada darah apapun, yang ada hanya cairan bening seperti putih telur. Baunya biasa saja, seperti keputihan. 

Aku bertanya ke orang-orang yang berpengalaman melalui chat. Bolak-balik ke kamar mandi, siapa tau keluar darah atau flek. Rasa sakit seperti disayat masih terasa terus. 

Mase terlihat khawatir, tapi sayang beliau mengungkapkannya dengan sikap cuek. Sementara aku menghadap nangis dalam sepi karena takut mau lahiran. Haha. 

Sebagian orang memang mengungkapkan kepanikan dengan cara yang agak berbeda. Bukan menambah kadar perhatian, tapi malah cenderung cuek. Beberapa teman mengungkapkan bahwa suaminya melakukan hal yang sama. Jadi, maklumi saja meskipun sulit. Itulah laki-laki. Hehe.

___________
Keesokan harinya, kami pergi ke bidan terdekat, yang memang sudah beberapa kali kami kunjungi.
Opini mereka, itu bukan ketuban rembes, hanya keputihan. Dan aku malah dianjurkan memperbanyak kerja di rumah. 
Oke, fine, meskipun kurang percaya, aku tetap menjaga kedamaian dan mengesampingkan kepanikanku. 

Sedikit curhat ke Ummu Fauzan (tetangga yang juga wali santri pesantren), beliau menyarankan untuk mencari second opinion. Di RSU dekat perumahan kebetulan juga ada Spog perempuan. Oke, kita coba lagi besok. 

__________
Selasa malam, sepulang Mase dari pesantren, kami pergi ke RSUD, untuk menanyakan jadwal dokter kandungan wanita. Ternyata, jadwalnya hanya tiap hari Senin dan Selasa saja. 

Qaddarallah, untuk menunggu hingga pekan depan rasanya terlalu lama. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan ke arah Barat, bukan untuk mencari kitab suci seperti Kera Sakti. Kami hanya ingin mencari bidan terdekat lain yang siapa tahu bisa memberi second opinion. 

Sebulan Menjelang Kelahiran Baby

Kegiatan harianku di Bogor agak berbeda jauh dengan kegiatan di Jakarta dulu. 

1. Sekarang, aku musti memasak setiap hari. Seneng juga sih, karena bisa mengusir sepi. Dan kebetulan juga si Abang Somad (tukang sayur) setiap hari berhenti di depan rumah. 

2. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk online dan nonton tutorial masak di youtube. Maklum lah, manusia udik ini baru dapat fasilitas wi-fi yang murah tapi bagus. 

3. Bangun bisa lebih pagi, karena speaker masjid menghadap ke rumah, pastinya adzan subuh, zuhur, asar, magrib, isya, sampai suara alarm jam masjid pun terdengar juelas dari rumah. Alhamdulillah. Ini salah satu hal yang mengusir sepi dari hidupku. 

4. Mase pulang dua hari sekali. Pagi hari rutinitasku mengantar Mase berangkat kerja, besok malamnya menyambut Mase pulang kerja. Berasa benar-benar IRT sejati. Hehe. 

5. Karena di sana sepi, dan pada dasarnya aku malas keluar rumah. Teman ngobrolku sebatas Ibu nasi uduk, Bang Somad, dan Ibu samping kanan rumah (samping kiri rumah kosong), dan para kurir ekspedisi. Kadang rindu akan teman-teman di Jakarta dan kesibukan harianku di sana. Tapi, inilah hidup. Perubahan dan adaptasi memang harus dijalani. 

6. Sering Mendapat Paket.
Dulu, karena tempat kulakan Masyang dekat, barang dagangan biasa diantar atau diambil sendiri oleh Mase. Sekarang berhubung tempat tinggal kami jauh, mau ga mau dipakailah ekspedisi pengiriman. 

Ditambah lagi asatidzah pesantren yang menggunakan alamat kami sebagai alamat surat mereka (kurir tidak bersedia mengantar barang ke pesantren karena terlalu jauh, hehe), jadilah para kurir mengenal diriku dengan begitu baik lantaran hampir tiap hari berurusan dengan mereka. 

Paket para asatidzah kadang berukuran besar dan sangat berat, terkadang kecil. Suamiku begitu penyabar tiap hari menjadi kurir kedua membawakannya ke pesantren. Suatu hari saat motornya full dengan barang titipan, seorang ibu yang tinggal di sekitar pesantren menyapa,

"Ooh, kurir pos sampai sini juga ya kang?" Maksudnya, ibu itu mengira Mase adalah kurir pos yang mengantar paket ke pesantren. Hehe. Sabar ya beb.  


Pindah Rumah

Setelah selesai mengurus berkas cuti kuliah, aku dan Mase mulai menimbang dan mencari rumah kontrakan di daerah Jonggol, kabupaten Bogor, agar lebih dekat dengan Mase. 

Setelah berdiskusi panjang, aku memilih tinggal di Perumahan Citra Indah (sekarang Citra Indah City) yang berjarak kurang lebih 20 Km dari pesantren. 

Jauh amat, kenapa ga ngontrak deket-deket pesantren aja? Point penting pertimbangan kami ada dua: 

Pertama: Aku phobia berat dengan ular, dan sebagaimana kabar yang beredar, bahwa di pesantren masih banyak ular dan hewan-hewan 'mengerikan' yang berkeliaran, seperti kalajengking segede lobster (ini lebay), kelabang, de el el yang semuanya sukses membuatku parno stadium akhir, hehe. 

Kedua: Mase sedang menjalankan usaha online yang mengharuskan tempat tinggal kami berdekatan dengan ekspedisi pengiriman. Dan kebetulan di perumahan tersebut, ekspedisi pengiriman lengkap kap, tinggal pilih. 

Alhamdulillah akhirnya kita berhasil menemukan hunian yang masuk dalam kriteriaku yang parnoan ini. Satu rumah dengan dua kamar, halaman belakang yang luas cocok untuk bercocok tanam yang merupakan hobi Mase. Dekat dengan masjid, jalan besar, penjual nasi uduk, tukang sayur juga lewat depan rumah, dekat juga dari rumah salah satu wali santri yang alhamdulillah sudah dikenal, plus harganya yang lumayan murah hanya empat juta pertahunnya.

Bismillah, ya Rabb, semoga setahun ke depan kami nyaman tinggal di dalamnya.