Pagi itu, sekitar pukul 7 pagi, aku mulai merasakan kontraksi. Rasanya seperti ingin BAB, tapi lebih parah lagi. Aku hanya bisa berbaring di kasur, sementara Mase menyiapkan sarapan untukku.
Ia mencuci piring, mengepel rumah, bebenah merapikan rumah, dan mencuci baju, mengingat siang ini Mami sampai di Jonggol, jadi setidaknya rumah kami siap menerima tamu untuk menginap. Terharu diriku melihatnya berkutat di dapur dan melakukan 'pekerjaan wanita'.
Aku mulai memberi kabar Mami dan orang-orang rumah. Minta doa agar dipermudah. Semuanya memberi support dan mendoakan kebaikan. Adapun teman-teman, rasanya tak kuat jari ini untuk memberi mereka kabar bahagia. Aku sangat kesakitan dan kelelahan.
Jam 10 pagi, kami berangkat ke bidan dengan membawa tas perlengkapan bayi. Setelah dicek, ternyata masih pembukaan dua. Bidan memberi pilihan untuk tetap di klinik dan berjalan keliling komplek, atau pulang ke rumah berjalan mondar-mandir di dalamnya. Aku memilih yang kedua, karena bagiku rumah tetap tempat ternyaman dalam situasi ini.
Sampai di rumah, Mase menuntunku berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Tapi tak lama, aku menyerah, rasanya lemas dan sakit luar biasa. Aku meminta untuk diberi kesempatan istirahat dan tidur.
__________
Berbaring di lantai, aku masih terus kesakitan, hingga ketiduran, kemudian terbangun lagi oleh rasa sakit, dan begitu seterusnya.
Mase masih saja berkutat dengan 'pekerjaan wanita' yang tak kunjung usai, sambil sesekali mengecek keadaanku.
__________
Setelah Zuhur, sekitar pukul 13.00, Mami dan tante Nuk sampai di rumah, dengan diantar tante Wit (tetangga lama Mami yang sekarang berdomisili di Jakarta).
Dengan menahan sakit, aku menemui mereka, mengobrol sebentar, dan akhirnya minta izin untuk kembali ke kamar.
Sekitar jam 14.00, Tante Wit masuk ke kamar untuk oamit pulang. Ketika berdiri untuk bersalaman,
"Bresss..." Air deras mengalir dari vagina seperti balon pecah. Qaddarallah, air ketubanku pecah duluan.
Segera aku mengenakan gamis lengkap, kemudian pergi ke klinik bidan menggunakan mobil tante Wit.
Mase masih tetap di rumah untuk membereskan genangan air ketuban di kamar.
__________
Sampai di klinik, aku langsung dibawa ke ruang bersalin, diminta menghadap ke kiri. Masih pembukaan 4. Ya Rabb, lama sekali.
Tak lama, Mase datang dan duduk di sampingku, sambil memperdengarkan suara qori kesukaanku; Syaikh Sa'ad al-Ghamidi.
Kontraksi yang kurasa semakin menjadi, bahkan keinginan untuk mengejan begitu hebatnya. Tak tertahankan.
Saat mase keluar untuk shalat Asar, bidan, asistennya, Mami, Tante Nuk, semuanya menghampiriku.
Ada suatu benda aneh terlihat hampir keluar dari vagina. Kata bidan, itu semacam kista. Kata tante Nuk (beliau perawat), itu seperti mulut rahim.
Kedua tenaga kesehatan tersebut berdebat lumayan lama, sampai akhirnya bu bidan setuju dengan pendapat tante Nuk; ini adalah mulut rahim, dan bahaya kalau sampai dia keluar atau pecah!
__________
Mase kembali masuk ruangan saat bidan sedang menelpon dokter spog kenalannya.
"Pak, ini harus segera dibawa ke rumah sakit, harus segera secar, daripada mulut rahimnya pecah". Kata bidan.
"Dokternya perempuan kan bu?" Tanya Mase
"Wah, susah, pak kalau saat seperti ini masih cari dokter perempuan. Adanya laki-laki".
Aku pasrah, Mase pasrah, yang terpenting sekarang adalah mencari mobil untuk mengantar ke rumah sakit.

No comments:
Post a Comment