Belajar berjalan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung berhasil. Mata berkunang-kunang, keringat dingin mengucur deras demi menahan rasa sakit yang luar biasa. Akhirnya aku kembali berbaring.
Sekedar duduk untuk menyusui saja, aku minta agar tempat tidurku didudukkan.
Ke toilet, musti ditemani, untuk BAB aku tak berani.
Bersin dan tertawa? Susah sekali dilakukan.
Belum lagi sakit kepala luar biasa dari tengkuk hingga pangkal hidung selama berhari-hari.
Alhamdulillah para pendampingku sangat pengertian dan tulus membantuku.
Teringat malam pertama di rumah sakit, Mase harus tidur duduk di kursi sambil menjaga bayi kami. Sementara Mami dan tante Nuk tidur apa adanya, satu di ranjang sebelah yang kosong, satu lagi beralaskan tikar tipis.
Malam kedua, Mase tidur melingkar di ranjangku dekat kakiku. Kakinya disandarkan ke kursi. Pasti sangat tidak nyaman.
Malam ketiga, Mase baru bisa nyaman tidur berdampingan denganku. Itupun juga musti terbangun tengah malam menggendong bayi kami ketika menangis, untuk bisa aku susui.
Bayiku? Dia juga musti bersabar. Ruangan kamar ber-AC, kadang terlalu dingin, sementara remote entah kemana rimbanya. Para perawat saling lempar tanpa kejelasan dimana kami bisa meminjam remote. Bayi kami sesekali harus menangis karena kedinginan, padahal sudah dibedong.
__________
Sesampai kami di rumah, aku masih merasakan sakit kepala hebat di kepalaku. Menurut bidan, itu merupakan efek dari anastesi sebelum operasi.
Untuk makan aku tak selera, Mase sampai membujukku, tapi aku benar-benar kewalahan. Rasanya ingin muntah.
Alhamdulillah, bidan memberikan service memandikan bayi selama 3 hari. Jadi aku masih punya waktu untuk belajar memandikan. Aku harus siap, bismillah, sebentar lagi kehidupanku akan banyak berubah.
No comments:
Post a Comment