Tampaknya Bu Dokter kesal dengan aku yang -dianggapnya- suka mengeluh ini. Dengan sedikit ngomel, diputuskan bahwa aku harus menginap di RS malam itu juga, dan tindakan operasi dilakukan besok.
Perasaanku tak karuan. Suamiku masih di Bogor. Tak mungkin aku melahirkan tanpanya.
Sambil menahan tangis kekesalan, aku menghubungi suamiku. Mengabarkan segala yang terjadi. Ia mendoakan yang terbaik, memintaku untuk banyak berdzikir dan menenangkan diri.
Papah dan Mamah sibuk mengurus administrasi dan kamar rawat inapku, sementara aku hanya berdiam diri menekuri lantai rumah sakit yang putih pucar.
--------
Setelah urusan administrasi selesai, aku diminta menaiki kursi roda untuk menjalani rekam jantung dan uji lab. Setelah itu, aku diantar ke kamar Ayyub 1.
Tibalah saat terpedih itu, yaitu ketika harus berpisah dari Jihan untuk pertama kalinya. Aku menangis. Tak mampu rasanya berjauhan dengannya barang sebentar.
Semoga Allah masih berkehendak untuk mempertemukan kita kembali ya, sayang.