Laman

Wednesday, April 18, 2018

Hari Kelahiran Anak Keduaku

Pukul empat pagi, suamiku membangunkanku untuk sahur. Ia juga ternyata ingin ikut berpuasa bersamaku. Semoga hari ini semua urusan kami dilancarkan oleh Allah.

Kami sahur sambil berbincang ringan. Sebetulnya aku tak bisa tidur lagi malam tadi. Perasaanku campur aduk. Senang ia ada di sini tapi kami tak bisa tidur berdampingan karena ranjang rumah sakit yang sempit dan tanganku digelayuti selang infus. Rasa ecxited menjelang kelahiran baby sekaligus rindu Jihan yang tidur di rumah Eyangnya juga bercampur aduk. Ditambah lagi jam dua tadi ada keributan antara nenek bayi pasien sebelah dengan perawat. Hmm, jadi makin sulit untuk kembali tertidur.

---------------------------
Pagi hari, aku kembali menjalani tes darah untuk melihat kadar HB. Kemudian cek alergi antibiotik yang rasa suntikannya begitu menggigit sampai aku merintih kesakitan. Mungkin karena disuntikkan vertikal di permukaan kulit.

Alhamdulillah HB sudah normal, aku diminta untuk mempersiapkan diri. Akupun membersihkan diri sebelum mengenakan baju operasi.Rasanya berat saat harus menggunakan baju berwarna hijau itu. Aku takut, tapi rindu pada anakku. Hingga akhirnya datang panggilan untuk segera ke ruang operasi.

Suamiku, mami, dan seorang perawat mendorong ranjangku menuju ruangan operasi. Saat itu hampir jam 9. Sebelum masuk ke ruangan, aku mengucapkan kata maaf pada suamiku yang dibalas dengan kalimat serupa. Saat berpisah, kulihat sekilas, matanya berkaca-kaca. Hatiku kencang berharap agar diberi kesempatan kedua untuk meningkatkan baktiku pada pria jangkung itu.

Aku diminta mengganti bajuku (lagi), kali ini berwarna kuning. Aku juga melepas ikatan rambut dan menggantinya dengan penutup kepala. Setelah itu, ranjang didorong masuk ke ruang yang super dingin, dan aku diminta pindah ke meja operasi yang sempit. Takut gelundung euy!

Jam sembilan tepat. Dokter tak kunjung datang. Sambil berbaring kedinginan, aku menyimak permbicaraan perawat. Mereka membicarakan Masitis, yaitu infeksi yang menyerang ibu yang menyusui atau sedang menyapih anaknya. Penyakit ini dapat menimbulkan pembengkakan dan peradaangan di payudara.

Meskipun penyebabnya beragam, yang dibahas kala itu adalah yang disebabkan oleh penyumbatan saluran ASI lantaran terlambat menyusui anak karena ditinggal bekerja atau karena ASInya menggumpal. Mereka membicarakan cara menanganinya baik secara medis maupun anjuran orang tua Jawa. Ternyata semuanya bisa dipraktekkan dan sesuai teori medis.

Fokusnya satu, yaitu menghangatkan daerah yang bengkak dengan air panas atau uap, plus gerakan memijat ke arah puting. Dalam versi kejawen, biasanya ibu yang menderita Masitis diminta membalut tubuh dengan kain jarit, berendam air hangat, kemudian menyisir daerah yang bengkak dengan sisir rambut. Mungkin maksudnya agar pijatan merata dan mengenai seluruh daerah payudara.

Di tengah obrilan mereka, sesekali ada yang mendekatiku, mengecek keadaanku. Jarum infus sempat mampet, kemungkinan tersumbat sisa darah saat transfusi kemarin, terpaksa mereka mengganti jarum dan menancapkannya di bagian tanganku yang lain.

Lama sekali rasanya menunggu dokter datang. Pantas saja, sekarang sudah jam sepuluh. Artinya aku sudah berbaring di ruang dingin itu dengan pakaian tipis selama satu jam. Apalagi posisi tangan terikat sebelah plus biip biip tensimeter membuatku makin tak nyaman.

"Oh, itu dokter Risty sedang bersiap-siap." Salah satu perawat memberikan kabar. Alhamdulillah, aku tak perlu terlalu lama lagi menunggu.
Saat semua perawat sudah di tempat. Lagi-lagi ada masalah. Tensiku menurun (pasti ini karena serangan panik) hanya 90/60. Aliran infus mampet lagi, mereka kali ini memindahkannya ke tangan kananku.

Dokter anastesi masuk, aku dibantu duduk dan disuntikkan obat bius di tulang belakang. Banyak ibu-ibu yang bercerita bahwa rasanya suntikan anastesi sangat menyakitkan. Sedangkan aku sudah dua kali menjalaninya dan tidak merasakan sakit yang berarti.  

Aku kembali berbaring, kateter dan oksigen dipasangkan ke tubuhku. Kemudian dengan membaca basmalah, dokter Risty dan team memulai operasi.

Aku hanya dapat menyimak semuanya sambil berzikir. Berusaha menikmati sayatan demi sayatan, dentingan alat operasi, dan cahaya lampu yang silau sembari mengingat sesaat lagi akan berjumpa dengan putraku. Aku menyadari momen seperti ini seharusnya dilalui dengan penuh syukur, bukan ketakutan yang traumatis seperti saat melahirkan anak pertamaku.

Operasi telah berjalan 10 menit, tiga orang dokter menekan perut dan dadaku dengan begitu kuat.

"Ayo dorong yang kuat, bentar lagi keluar nih." Dua dokter yang menanganiku berbincang di antara mereka.

Sesak, sakit, sulit bernafas ... Hingga akhirnya tangisan  menggema dalam ruang dingin berdinding hijau itu.
Aku ikut menangis layaknya bayi itu. Seperti tangis ratapan.

"Alhamdulillah bayinya laki-laki ya bu..." perawat mengabariku. Aku bersyukur, akhirnya setelah dua tahun lalu diberikan putri, kini Allah memberiku anugerah seorang putra. Sepasang anak yang kuharap keduanya kelak dapat saling melindungi dan berkejaran dalam amal saleh.

Putraku didekatkan kepadaku. Kulitnya merah, badannya terlihat lebih berisi dibanding saat kakaknya lahir. Kucium bayi yang masih basah dengan air ketuban. Lalu ia dibawa pergi untuk dibersihkan dan diperlihatkan ke abah, kakak, nenek dan kakeknya di luar.

Dokter2 itu melanjutkan pekerjaannya tanpa memperhatikan air mataku yang masih saja mengalir.

"Dok, pasiennya nangis", bisik salah satu kepada dokter kandungan.

"Oh, iya, kesakitan kayaknya. Pastinya sakit banget lah perut sama dadanya ditekan seperti tadi."

Bu dokter, Anda tak tau ya rasanya terharu karena denger tangisan baby? *ga bisa tepok jidat karena kedua tangan dibelenggu selang infus dan tensimeter.

"Bu, ini operasi kedua, rumit sekali masalah jahit-jahitnya. Besok kali yang ketiga akan lebih rumit lagi ya bu..." Dokter Risty mengomentari.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan karena air mata haru belum berhenti mengalir jua.

Perjuangan seorang ibu sejak hamil hingga melahirkan, lemahnya, lelahnya, sakitnya, dapat mengalirkan pahala bila dijalani dengan hati ikhlas dan ridha. Tak ada beda apakah ia melahirkan normal ataupun melalui operasi. Semuanya sama berjihad mempertaruhkan nyawa.

Manusia bisa berencana, namun hasil akhir tergantung campur tangan Allah.

H-1

Malam itu rasanya panjang sekali. Aku tidur di kamar Ayyub 101. Kamar kelas satu yang dihuni dua ranjang pasien yang dipisahkan dengan tirai. Kamarnya ber-AC, toilet bersih, dan ada wastafel di depannya. Aku bersyukur sekali bisa mendapat kamar yang cukup nyaman meskipun menggunakan jasa BPJS. Setidaknya, kamar ini berlipat lebih bagus ketimbang yang kutempati saat melahirkan Jihan dulu.

Mamah dan Papah pulang bersama Jihan. Aku berbaring saja, tanpa infus dan obat apapun. Suamiku menyebutnya "kayak orang bahlul". Di rumah sakit tapi ga sakit. Duh duh.

Waktu rasanya lama sekali berlalu. Di sebelahku, menginap pasien asal Gorontalo yang baru melahirkan secara sesar juga. Ditemani ibunya.

Subuh itu, Papah datang membawakan pakaian yang kubutuhkan, alat shalat, serta perlengkapan menginap untuk suamiku nanti. Mase masih dalam proses mencari tiket pesawat agar bisa sampai Semarang setidaknya malam hari.

Pagi hari, Mami datang. Masya Allah, aku bersyukur diberi keluarga yang amat-amat memperhatikanku, sehingga aku tenang dan nyaman. 

---------------------------
"Bu, berdasarkan cek lab trombosit ibu di bawah batas normal untuk operasi. Yaitu hanya 8,9. Minimal 11 untuk dapat menjalankan operasi. Jadi, kita putuskan untuk transfusi darah ya bu...", perawat menjelaskan demikian detil. Aku hanya mengangguk saja sambil berusaha menabahkan hati, meskipun rasanya hati ini panik tak karuan.

"Mas Luthfi kapan datang, Nit?" Tanya Papah.
"Mm, ini masih nyari-nyari tiket, Pah. Kemungkinan jam 11 ada penerbangan. Semoga ga terlambat booking." Jawabku.
Papah bercerita kalau Jihan enjoy saja saat sampai rumah. Sempat mencariku namun tidak lama langsung tertidur. Aku lega, kupikir ia akan melow menangis semalaman seperti Mamanya yang labil ini.

Sementara itu, jarum infus dipasang di tanganku. Hmm, aku suka sekali memperhatikan cara perawat memasang jarum. Sepertinya sejak melahirkan Jihan, keberanianku akan hal-hal berbau darah dan medis meningkat.

Papah libur kerja untuk menungguiku hingga suamiku tiba. Ada juga Mami yang saking supelnya sampai mengajak pasien sebelah ngobrol panjang lebar :). Iya lah, di rumah sakit, mengobrol dengan sesama pasien selain dapat menghilangkan jenuh juga menambah wawasan.

Merindukan suamiku. Sejurus kemudian kuketik chat Whatsapp untuknya "Mase, jadinya naik pesawat jam berapa? Jadwalnya sore ini insya Allah operasi setelah Mase datang."
"Sori say, Mase terlambat booking pesawat jam 11. Baru dapat pesawat jam 1 siang nanti. Mungkin sore saat Ashar Mase sudah di rumah sakit."

Hati ini sebenarnya mencelos, hari ini hari Rabu, harusnya anak kita lahir sekarang agar kita sekeluarga bisa sama-sama lahir di hari Rabu (alay banget ya gue). Tapi di balik itu semua, ada Allah yang menentukan kelahiran seseorang. Meskipun dengan operasi secar orang tua dapat memilih tanggal kelahiran, namun kejadian absurd seperti 'telat booking pesawat' adalah pertanda Allah menginginkan hal lain yang lebih baik. Alhamdulillah.

-------------------------------

Setelah menunaikan salat Zuhur dijamak dengan Asar, aku mulai transfusi. Jarum infusku diganti dengan yang lebih besar lubangnya karena darah lebih kental dibanding cairan infus. Bisnillah, semoga darahnya cocok dan aku ga kenapa-napa, batinku.

Jam lima sore, hujan turun. Pesawat yang ditumpangi suamiku sudah mendarat dan Papah dalam perjalanan menjemputnya. Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat dan berkah untuk kami.

Hmm, baru sebulan tapi rasanya lama sekali aku tak berjumpa dengannya. Rasanya ia makin kurus saja. Atau memang dia selalu sekurus itu? Hehe.

Suamiku sedang berbincang dengan keluargaku, kemudian Jihan datang! Yeay, rasanya lengkap sekali. Jihan didudukkan di sampingku, ia hanya diam memasang tampang defaultnya sambil mengamati suasana sekitar. Kemudian karena Abahnya sangat rindu, mereka mengambil waktu berduaan di luar. Romantisnya pangeran dan putri kecilku.

Saat ia pamitan pulang, rasanya hati ini kembali kosong. Ingin rasanya kembali tidur berpelukan dengan Jihan, apalagi sebentar lagi ia akan punya adik yang sedikit banyak akan berbagi kasih sayang dengannya.

Maghrib itu, seorang perawat datang memberikan instruksi untuk operasiku besok. Ia amat menggebu-gebu sambio sesekali menakut-nakuti. It's OK, mungkin memang perlu bagi perawat untuk menjelaskan risiko dari tindakan ini dan itu, terutama saat ditakutkan pasien bandel dan tidak mendengarkan anjuran mereka.

Alasan dokter melarang makanan atau minuman beberapa jam sebelum operasi adalah untuk mencegah pneumonia aspirasi, infeksi paru-paru yang diakibatkan oleh terhirupnya sesuatu (makanan, cairan, atau muntah) ke dalam saluran pernapasan. 

Pada mekenisme normal, sebenarnya partikel kecil yang masuk ke saluran napas akan dikeluarkan oleh tubuh. Tetapi, pada orang yang lemah, keracunan, atau dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius, kondisi ini bisa menutup saluran napas dan menyebabkan paru terinfeksi. 

------------------------
Jam 22.00, dokter Risty melakukan kunjungan. Saat itu hanya ada aku dan suami di ruangan.

"Nah, ini udah seger nih, bu, kulitnya njenengan. Kemarin terlihat pucat dan lesu. Sudah transfusi satu kantong ya? Besok pagi akan kita cek HBnya, kalau sudah normal, insya Allah besok kita jalankan operasi.
Gimana? Udah enakan? Masih sakit ga bekas jahitan sesarnya? Enggak? Oh berarti kemarin njenengan sakit itu karena kangen ya sama Bapak (suami)?"

Beliau berbicara panjang lebar sambil sesekali meledek 'rindu suami' dan menjelaskan ulang instruksi puasa besok. The power of Obgyn nenek-nenek yang ga mau dibantah.