Jangankan setelah 'menjadi' anak, sejak dalam kandungan saja, mereka sudah banyak berbeda. Warna-warni inilah yang ingin kuabadikan dalam sebuah catatan. Indah bagai pelangi.
Trimester Awal Kehamilan
Sebagaimana yang sudah panjang lebar kuceritakan di notes lalu, trimester pertama hamil Jihan ini tergolog cukup berat. Aku musti berjalan jauh setiap hari, menahan mual selama di rumah, tidak bisa makan dan minum. Taulah, bagaimana rasanya bumil yang hanya bisa minum air dingin, tapi tidak punya kulkas, hehe. Alhamdulillah di kampus ada dispenser air dingin yang dapat kumanfaatkan kegunaannya. Adapun selain waktu ngampus, aku membeli air dingin di warung demi menghindari mabok yang makin menjadi.
Pelaku LDR yang malang, aku selalu menangis tiap ditinggal Mase kembali ke pesantren. Oleh karenanya, Mase rajin menghiburku dengan mengajak jalan menikmati malam Jakarta, meskipun ujung-ujungnya aku tetap mabok.
Tapi alhamdulillah, selalu ada teman sharing kehamilan, bidan yang mau menjawab segala kekepoan ini, dan janinku yang sehat meskipun diajak 'kerja keras' lima hari sepekan.
Adapun di kehamilan keduaku, aku hidup di perumahan, kemudian pindah ke pesantren, tidak lagi kesepian karena ada Jihan dan Mase di sampingku.
Alhamdulillah di trimester pertamaku tak ada kata mabok. Aku masih bisa makan, masak, minum, bahkan nyebokin Jihan. Hanya sedikit mual ketika mencium bau seafood, terasi, dan jengkol.
Hmm, awal tinggal di pesantren entah kenapa sering tercium bau Jengkol dan bangkai. Anehnya, Mase mengaku tak pernah mencium bau Jengkol, bahkan aku uring-uringan ga jelas. Kalau bau bangkai memang kadang menjelma entah dari mana dan membuat parno kita berdua.
Aku sudah mengenal pola makan food combining yang berusaha aku jalankan sebisa mungkin. Berharap dengannya mualku berkurang, dan aku bisa lebih prima.
Di awal trimester ini juga aku sempat mengalami flek, padahal tidak banyak kerja keras dan jalan kaki seperti saat hamil Jihan dulu. Mase jadi pelit mengajak jalan, karena takut baby di janin kenapa-kenapa. Hasilmya emak yang tinggal jauh dari 'peradaban' ini sering keceplosan senewen.
Trimester Kedua Kehamilan
Bulan keempat baby Jihan, alhamdulillah mabok dan pusing-pusing berangsur hilang, meskipun baru benar-benar hilang saat bulan kelima.
Tapi, aku tetap tidak bisa makan banyak, sehingga berat badanku hanya bertambah sedikit sekali. Sempat sesekali pusing dan keringat dingin, tapi mungkin itu hanya gejala hipotensi atau kurang darah. Yang terpenting adalah aku bisa makan apa saja, minum apa saja, dan kebal bau bawang. Senangnyaaa...
Trimester ini aku mulai duduk di bangku fakultas Syariah sampai akhirnya aku mengambil cuti. Bukan hanya jarak jauh yang mesti ditempuh, tapi juga musti naik-turun tangga. Alhamdulillah Allah karuniakan kesehatan, kemampuan dan kesabaran, sehingga aku tetap menjadi wonder bumil, yang sudah mulai giat mencuci baju sendiri dan jalan jauh sendirian.
Di kehamilan kedua, aku masih sensitif dengan bau seafood. Aku tak pernah berani masak ikan-ikanan, lebih baik beli jadi langsung santap ketimbang mood memasakku turun drastis.
Di trimester ini, pergerakanku serasa makin terbatas, untuk berjinjit, aku kesakitan, sakit pinggang juga sudah mulai kurasakan. Perut serasa besar sekali, tidak seperti dulu saat hamil Jihan. Dalam dua bulan, berat badanku naik 10 kg wow wow, tak dapat kubayangkan bagaimana nanti-nanti jika berat badanku terus bertambah.
Pekerjaan rumah, seperti mencuci dan menyetrika cukup membuatku kewalahan. Karena menyetrika dalam posisi duduk sangat tidak nyaman bagi perut buncitku. Tapi apa boleh buat, hidup harus tetap berjalan seperti apa adanya -ciah-, sehingga semua pekerjaan kulakukan dengan perlahan asal selesai.
Trimester Ketiga
Trimester ketiga inilah dimana berat badanku mulai bertambah, meskipun hanya 10 kg. Baby di perutku juga tampaknya mulai gemuk.
Aku mulai merasakan sakit pinggang yang cukup parah, bahkan kadang sampai kesulitan berjalan. Bayangkan seorang bumil yang sudah kebelet pipis, tapi tak bisa jalan karena pinggangnya sakit, subhanallah rasanya menahan hasrat yang terpendam, hehe.
Saat pindah ke Bogor dan bertemu tukang sayur yang 'klik', alhamdulillah perkara masak dan belanja bukan lagi masalah. Bahkan Bang Somad dengan baik hatinya bersedia membawakan air kelapa untukku tiap hari (di Jakarta musti beli, harganya 2.500). Ya, khasiat air kelapa bagi bumil memang mitos, tapi waktu itu aku masih terlalu lugu untuk membedakan mana mitos mana fakta, hiks.
Tapi, tetaplah air kelapa lebih baik ketimbang minum soda atau kafein, ya gak?!
Aku mulai sering menjalani hibernasi, maklum, suasana rumah sepi, tak banyak tugas berarti, kadang masih jomblo (mau masak untuk siapa?). Aku menjelma jadi putri tidur yang menghabiskan waktu hanya untuk tidur dan ngemil. Seperti kepompong yang bentar lagi jadi kupu-kupu syantiek, hehehe.
Karena belum punya pengalaman hamil sebelumnya, aku tak tahu browsing apa. Aku hanya mencari hal-hal mengenai kehamilan yang membuatku penasaran, itu saja. Bahkan tak berfikir untuk browsing mengenai menyusui, menyapih, MPASI, dan lainnya. Ini sebuah pelajaran penting bagiku. Kelak, kalau Jihan hamil, aku harus bisa membimbing dia untuk mencari tahu hal-hal penting. Biar saja dia cari di internet, toh pengetahuan selalu berkembang seiring kemajuan zaman. Setidaknya, aku bisa membimbing dan meng-edukasi dia dengan cara yang sedikit berbeda.
Trimester terakhir di kehamilan keduaku cukup berat. Alhamdulillah 'ala kulli hal, Allah menuliskan semuanya dengan begitu indah.
Aku merencanakan untuk melahirkan di Semarang, karena membayangkan kondisi di perantauan yang dikhawatirkan membuat Mase semakin kerepotan. Di Semarang, aku memilih rumah sakit dan dokter muslimah yang direkomendasi.
Bayiku, mmm, dia semakin gemuk, perut makin buncit, aku semakin suka makan, tapi berat badanku tetap di angka 60 kg.
Aku dipersilahkan untuk memilih tanggal kelahiran anakku. Berbeda dengan kehamilan pertama yang harus menunggu kontraksi.
Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shaalihaat.
No comments:
Post a Comment