Friday, March 25, 2016
Perbedaan Dua Kehamilanku
Wednesday, March 16, 2016
Perkembangan Jihan
2016
Tahun Baru
Holiday di Bokekday
Go to Bekasi
I Feel Free...!
Tuesday, March 15, 2016
Aktivitas Baru Jihan
Kehidupan Baru
Hadiah Kedua
Pindah ke Rumah Dinas
Kembali ke Perantauan
Ramadhan 2015
Pulang Kampung
Pindah Rumah
Monday, March 14, 2016
Tragedi Traumatis
Sunday, March 13, 2016
Berpetualang ke Jakarta
Fase MPASI
Perkembangan Jihan
Ramadhan Pertama Jihan
Saturday, March 12, 2016
Hidup Baru bagi Kami
Friday, March 11, 2016
Blogging Pasca Melahirkan
Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami, pada hari Rabu, 21 Mei 2014, pukul 17.07 di RS Harapan Mulia, Kabupaten Bekasi, dengan selamat dan sehat, yang kami beri nama JIHAN ABDULLAH. Semoga kelak bisa menjadi putri yang shalihah, berbakti pada orang tua, berguna bagi bangsa dan masyarakat, aamiin.
Ya, alhamdulillah proses persalinanku berjalan dengan lancar, walaupun harapan melahirkan dengan normal belum bisa diwujudkan, qaddarallahu wa maa syaa-a fa’al, semoga semuanya bisa diambil hikmahnya dan menjadi tabungan amalan baik bagi semuanya yang ikut andil dalam menolong proses persalinanku.
Rasanya menjadi ibu baru, yang baru memiliki anak sekaligus baru belajar, rasanya nano-nano. Kadang panik, kadang ketakutan, kadang sedih juga karena belum bisa mengurus bayi dengan profesional. Kadang bahagia luar biasa bisa memandang Jihan kecilku dan berlama-lama mengecup pipi mungilnya, terharu…
Saat aku tidur di tengah antara suamiku tercinta dan Jihan kecil, rasanya hatiku melayang. rasa bahagia membuncah memenuhi hatiku. menengok ke kiri, kudapati suamiku tertidur lelap, setelah menempuh perjalanan pulang puluhan kilometer, pengorbanan fisik dan mental yang sama sekali tak mudah, wajahnya terlihat lelah, tapi rona teduh tak hilang darinya. Kemudian kutoleh ke kanan, kudapati Jihan jecilku sedang lelap tertidur juga, wajah putih kemerahan tanpa dosanya itu membuat mataku berkaca-kaca, selamat datang nak, selamat datang di dunia, kini aku dapat puas melihat wajahmu, tak sekedar mengusap-usap perut buncit seperti sebelumnya :’). Alhamdulillah, alhamdulillah…
Kukecup kening suamiku, ia tak bergeming, kemudian pipi Jihan, buah hati kami, dan air mataku menetes di pipi halusnya, ia menggeliat kecil, lalu kembali terlelap. Allah, terima kasih atas karunia ini, terima kasih, sungguh berdosa bila aku tak mensyukuri dan menjaga dua nikmat yang Kau berikan ini.
Melihat si Abah menggendong putri kecilnya, membacakan Qur’an untuknya, mengucapkan kalimat “Masya Allah, putri Abah nih”, hingga saat ia menggodai putrinya dengan berbagai keisengannya membuatku selalu tersenyum kecil. Rasa sakit yang kurasakan rasanya lunas terbayar sudah. Ternyata suka duka menjadi ibu adalah keharusan yang hampa bila ditinggalkan salah satu komponennya.
Kini aku mengantarkan suamiku pergi bekerja dengan menggendong si kecil, dan menyambutnya pulang dengan begitu pula. Warna baru, betul-betul warna baru. Karena sebelum ini ia pulang dan pergi hanya dengan mengusap perut buncitku, alhamdulillah…
Allah, nikmat yang Kau anugerahkan begitu besarnya, hadiah yang Kau berikan begitu indahnya, karunia yang Kau titipkan begitu sempurna; suami yang luar biasa, dan kini Kau tambahkan dengan anak yang luar biasa, sungguh sempurna ciptaan-Mu, sungguh besar keagunganMu.
Allah, mudahkanlah aku untuk menjaga amanah sekaligus nikmat yang Kau titipkan, sebagai istri, dan kini sebagai ibu, aku hanya ingin menjadi yang terbaik bagi mereka, mengerahkan segala yang aku bisa, aku mampui, untuk membuat mereka nyaman hidup bersamaku, membuat mereka bahagia menemaniku, hingga akhir nanti.
Jadikan aku istri yang shalihah sekaligus ibu yang bijak, jadikan suamiku ayah yang bertanggung jawab dan penyayang, kemudian jadikan Jihan kami anak yang baik, yang dapat menjadi tabungan bagi kami saat harta dan tahta tak lagi dapat berarti, saat jasad kami terkubur tanah merah, berselimutkan kegelapan. Jadikan ia anak yang shalihah Ya Allah, yang selalu menjadi penyejuk pandangan bagi kami, aamiin aamiin aamiin.
Tambahan: Kenapa nama Jihan jadi Jihan Mahira, padahal di akikah Jihan Abdullah?
Itu karena si Mama ga rela bayi cantiknya diledek sama temen-temen kerja si Abah. "Hei Abdullah, cewek kok namanya Abdullah". Sementara Abahnya diam aja ga menanggapi, padahal Mamanya mencak-mencak kalo denger anaknya dikatain. Ehe.









