Kepribadian inilah yang amat sangat banyak membantu ibu labil sok sibuk sepertiku.
Aku bisa 'bekerja' dengan tenang tanpa harus menggendongnya. Cukup terpantau pandangan mata, dan mempertajam telinga kalau sewaktu-waktu ia merasa kurang nyaman, insya Allah aman.
Bulan Ramadhan tiba. Ini adalah Ramadhan kedua setelah kami menikah, dan yang pertama bagi si mungilku.
Si Abah masih terus bolak-balik pesantren-rumah setiap hari, kecuali bila ada rapat malam atau urusan mendesak. Doi biasa pulang setelah shalat Tarawih, sehingga sampai rumah baru pukul 9 atau 10 malam.
Sebenarnya, keadaan seperti ini sangat membuatku kesepian. Biasanya aku melaksanakan Tarawih berjamaah, kali ini musti sendirian. Tapi sesekali Mase menyempatkan waktu untuk shalat di rumah dan menjadi imam bagiku.
__________
Suatu hari di bulan itu, Mase pulang dan mengeluhkan nyeri di bahu kanannya. Di bagian itu memang ada pen tulang yang seharusnya sudah dilepas sejak beberapa bulan lalu.
Ketika dilihat, ternyata ada luka terbuka, pennya sampai terlihat jelas. Dan tentunya sangat menyakitkan kalau dibawa pulang-pergi menempuh jalanan yang tak mulus.
Beruntung, saat itu santri sudah selesai ujian dan tinggal menunggu hari terima raport dan liburan. Jadi Mase bisa mengerjakan tugas koreksi dan input nilai secara jarak jauh.
__________
Beberapa hari kemudian, setelah santri pulang. Kami juga mempersiapkan diri untuk mudik. Menurut dokter umum, pen mase harus segera dilepas agar tidak infeksi. Maka jadilah kami pulkam dengan menumpang mobil teman Mase yang menuju Salatiga.
Kami turun di Semarang, menginap semalam, besok paginya Mase harus segera pulang ke Magetan. Sementara aku dan Jihan tetap tinggal di Semarang karena mengkhawatirkan kesehatan putri kecil kami. #LDRlagi
No comments:
Post a Comment