Aku kembali mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa. Mencuci dan menjemur baju bayi pagi dan sore hari, menyetrika siang hari, membersihkan rumah, dan yang jelas mengurus kebutuhan bayi seharian.
Alhamdulillah Mase memberikan keringanan padaku untuk tidak memasak. Aku bisa membeli lauk dari pedagang lauk yang lewat di depan rumah, atau Mase membelikannya untukku sepulang dari pesantren. Dia juga membantu mencuci baju-baju besar, karena untuk sementara aku harus menjaga jahitan agar tidak kembali robek.
Mengantar Mase berangkat pagi, kemudian menyambutnya di malam hari. Aku sebenarnya tak tega melihatnya begitu kelelahan. 20 km pulang pergi bukan perjalanan yang ringan bukan?
Sampai di rumah, Mase menyempatkan diri juga untuk mengurus Jihan, sementara aku istirahat sejenak, mengumpulkan tenaga untuk menemani bayi begadang malam.
Kadang, karena kelelahan, saat Mase pulang, aku dalam keadaan badmood. Mase dengan begitu sabarnya menghadapi istrinya yang labil ini, mengambil alih kesibukanku, membiarkanku mengembalikan mood sejenak.
Alhamdulillah, karunia Allah begitu besar. Suami yang pengertian, dan anak mungil yang menghibur jiwa dan mengusir sepi. Syukurku pada-Mu ya Allah.
___________
Baru dua pekan umur Jihan, suatu saat sedang menyetrika baju didampingi Jihan, ada SMS masuk, rupanya dari Mase.
Doi bilang kalau kemungkinan malam ini tidak bisa pulang, karena mau ada rapat penting jam 8 malam. Kemungkinan baru selesai pukul 22.00 atau lebih, dan sangat mustahil untuk bisa pulang di waktu itu.
Rasanya sakit sekali hati ini. Memaksanya pulang tak tega, tapi untuk tinggal berdua saja aku merasa tak mampu, apalagi aku masih sangat kewalahan memakaikan bedong untuk Jihan. Aku hanya bisa menangis sesenggukan a la cewek cengeng.
Alhamdulillah malam itu berlalu dengan lancar. Dan sudah bisa ditebak, besok-besok Mase tak ragu lagi untuk meninggalkan kami bermalam berdua saja di rumah, hiks.
No comments:
Post a Comment