Laman

Thursday, October 7, 2021

Pernah Nggak Kalian...

7 Oktober 2021

Pernah nggak kalian membenci suatu pekerjaan? Yang mana tiap mengerjakan itu, bawaannya badmood dan cepat lelah. 

Aku? Aku dulu tidak suka mencuci piring. Malas sekali rasanya saat Mamah menyuruhku untuk mencuci piring setiap hari. Apalagi kalau isinya adalah perabot yang berminyak, berbau, atau kalau ada piring bau amis ikan pindang bekas makan kucing adikku. Mual dan jijik rasanya. Ya, ini biasanya aku lakukan saat sedang liburan musim panas, dimana selama tiga bulan itu aku pulang ke Semarang. 

Saking jengahnya dengan aktifitas cuci piring di rumah (ortu), saat kembali ke kosan, aku tidak pernah mau menyentuh pekerjaan itu. Aku melobi teman-teman sekamar untuk membantuku mencuci piring bekas makanku. Sebagai imbalannya, aku akan menyapu dan mengepel kamar SETIAP HARI. Siapa lah yang akan menolak? Hehe. 

Namun makin ke sini, tiap kembali pulang ke Semarang, yang mana tiap hari 2-3 kali aku berkutat dengan perabot kotor, aku berusaha menantang diri. Alih-alih mengeluh, BT, dan merasa terbebani dengan tugas itu, aku menjadikannya challenge. Aku harus bisa mencuci piring bahkan sebelum Mamah memintaku melakukannya. Ya! Dengan begitu, aku merasa 'menang' meskipun sebenarnya enggak juga. Aku hanya menang melawan diri sendiri. Melawan ketakutan dan keresahanku. 

Sekarang, aku bahkan mencuci piring tiga sampai empat kali sehari. Dengan berbagai bekas lemak dan kerak-ketak lainnya!

Sama halnya saat dulu aku takut pada benda bernama kancing. Ya, kancing baju yang banyak kalian temukan di kemeja. Tiap melihat benda itu aku merinding bahkan ingin muntah. Bagiku, kancing dengan lubang-lubangnya itu terlihat sangat menggelikan, bau, dan bisa saja masuk ke mulutku. 

Karena tinggal di asrama, aku bersyukur saat itu aku bebas memilih model gamisku sendiri, yang tentu semuanya tanpa kancing. Maklum, saat itu aku belum dewasa, siapa sangka kalau nantinya aku harus memaksa diri melawan 'phobia'ku ini. 

Setelah menikah, aku harus menyetrika baju suamiku, yang kebanyakannya adalah kemeja berkancing. Awalnya jujur saja, aku merinding dan selalu ingin muntah. Tapi, kalau dipikir-pikir, kenapa aku harus kalah pada hal kecil seperti ini? Kalau pun aku turuti, mau sampai kapan? 

Aku berusaha melawan "Lihat, ini hanya kancing, benda mati yang nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak akan tertelan dan membuatku muntah. Lubangnya benangnya nggak akan mengeluarkan sesuatu yang menjijikkan. Baju ini juga bersih, jadi kancingnya tidak berbau". 

Sepekan dua pekan, aku berusaha melawan ketakutanku sendiri. Alhamdulillah akhirnya aku terbiasa. Aku sempat lupa kalau dulu 'phobia kancing', haha. Bahkan aku sekarang bisa mengancingkan kancing seragam sekolah (jenis kancing paling mengerikan bagiku), yang dipakai anakku setiap hari. 

Tuesday, October 5, 2021

Banyak Hal yang Membuatku Kurang Bersyukur

5 Oktober 2021

Akhir-akhir ini, aku merasa tingkat stress-ku meningkat. Banyak hal-hal kurang menyenangkan yang membebaniku dan mrmbuatku kurang nyaman. 

Misalnya seperti hari ini... Umar keluar rumah dan lupa menutup kembali pintu rumah. Aku sibuk menyapu, membereskan rumah, sambil menahan rasa gerah yang membuatku banyak berkeringat dan tidak fokus. Tiba-tiba, aku mendapati pintu depan terbuka, Romi sudah berjalan melewati pintu. Aku ingin segera menolongnya, namun di saat bersamaan seorang tetangga lewat di depan rumah (kondisiku tentu sedang tidak berhijab), mau tak mau aku harus bersembunyi. Aku Hanya bisa memanggil nama Romi keras-keras agar dia tidak pergi makin jauh, kemudian segera menariknya masuk setelah seorang tadi lewat. Padahal baru kemarin kejadian yang sama hampir terjadi. 

Setelah itu, moodku langsung memburuk. Aku melanjutkan membereskan rumah sambil gemetar menahan efek panik yang belum hilang, khawatir, marah, dan menyalahkan diriku sendiri.

Sebenarnya itu HANYA salah satu sebab bad-moodku kali ini. Sejak pagi, aku jarus berjibaku dengan ompol anak, ditambah mesin cuci yang kerannya mampet, dapur yang bau masakannya tak kunjung hilang karena blower rusak dan belum bisa diperbaiki suamiku... Ruwet. 

Masih menahan itu semua, maghribnya Romi ikut dengan suamiku ke masjid. Aku mengambil kesempatan itu untuk fokus mengerjakan tugas kuliahku; khuttatul bahts (semacam proposal untuk skripsi kualitatif) matkul Ushulul Fiqh yang deadlinenya Jumat depan. Riset sana, riset sini, sambil mengawasi Kakak Jihan mengerjakan PR sekolahnya... Anggap saja tinggal sedikiit lagi. Aku hanya perlu merapikan tulisannya dan mengubah format word menjadi PDF sampai... Datang chat dari TU kampusku, bahwa dospem-ku diganti. Yang lebih mengejutkan lagi... Tema yang diambil seluruh mahasiswa adalah matkul akidah, bukan ushulul fiqh...! Rasanya lemes banget. Karena nggak sering loh, waktu me-time-ku benar-benar kugunakan untuk kepentinganku. Biasanya kalau nggak dipakai untuk membereskan rumah, mendampingi anak mengerjakan PR, kalau enggak ya menyiapkan lauk makan malam. Nggak tahu kapan lagi aku akan dapat waktu seperti ini. 

Yang lebih menyedihkan adalah... I have no one untuk mendengarkan keluhanku. Suamiku seharian di kantor sibuk, again, pasti hanya Ingin mendengar dan melihat hal-hal yang menyenangkan di rumah. Main bersama anak, makan enak, dll. 

Terlalu banyak yang aku keluhkan dalam hari-hari ini. Yang kuungkap saja sudah sebegini, yang di dalam hati tentu saja masih banyak! Rasanya lelah, jenuh, stress, pengennya semua uneg-unegku ini kuluapkan aja, biar semua orang tahu apa yang aku inginkan. 

Tapi, aku belajar bahwa kita harus mengubah keluhan menjadi rasa syukur... aku belajar itu dari sisi agama, dan makin tercerahkan setelah membaca buku parenting way danish. 

Anakku ngompol hampir setiap malam, syukurlah umurnya masih lima tahun. Masih ada waktu untuk belajar mandiri. Dia juga sudah mau membilas baju-bajunya yang kena ompol. 

Romi nyaris terkena bahaya, Alhamdulillah aku masih bisa menyelamatkannya tepat waktu. Bahagia banget karena Allah menciptakan aku peka dan teliti pada hal-hal kecil. Romi tumbuh sebagai anak yang sehat, aktif, dan ceria, itu adalah suatu kebahagiaan seorang ibu. 

Dan masalah bahtsku, aku malah mendapatkan hikmah. Mendapat judul bahts yang lebih mudah dari dospem yang baru. Khutthoh juga sudah disiapkan. Tentunya rasa grogi berkurang karena aku akan mengerjakan tema yang sama dengan 35 temanku lainnya. 

Ya Allah... Maafkan hamba-Mu yang terlalu banyak mengeluh. 

Wednesday, February 17, 2021

Aku Memulai Kembali

 Februari 2021

Tinggal di rumah mengasuh tiga orang anak dengan tanpa asisten. Mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, memikirkan menu makan, snack -dengan budget sangat terbatas-, sekolah, belajar, mengaji kedua anak tertua di rumahku merupakan rutinitas yang di satu sisi kunikmati, di sisi lain membuatku jenuh. 

Memang ya, manusia diciptakan banyak mengeluh. Disibukkan dengan pekerjaan luar rumah, mengeluh overload. Fokus

bekerja di rumah, merasa bosan. 

Sebetulnya, aku mensyukuri keadaan yang mengharuskanku kembali 'pulang' menjadi IRT... Namun aku butuh teman berbincang. Aku saat ini membutuhkan seseorang yang mau FOKUS mendengarkanku, dan sebaliknya, BUTUH didengarkan. Sebentar saja, 10? 15 menit misalnya?. 

Untuk mengurangi rasa sepi kadang aku berusaha menyisipkan foto anak-anak saat kami berkirim pesan WA dengan suamiku di siang hari. Meskipun kadang tak ditanggapi. Hmm, mungkin memang aku yang terlalu serakah. Inginnya aku bisa banyak bercerita langsung dan saling berbincang dalam waktu yang lama. Quality time bagi orangtua beranak tiga ternyata tak semudah itu, Ferguso.

Suamiku belakangan sibuk dengan urusan kantor. Rutinitasnya Subuh di masjid, hingga jam-6an. Saat ia pulang tentunya aku sudah repot masak seadanya atau menyiapkan bekal anak-anak sekolah. Anak-anak pun sudah bangun, meminta kudapan pagi, atau bertanya ini-itu. Saat itu pun biasanya ia sibuk membungkus barang dagangan yang harus dikirim hari ini. Ikhtiyarnya sebagai kepala keluarga untuk menambah penghasilan. Atau kadang di jam-jam itu ia membuat pancake untuk sarapan kami. Aku sibuk mengurus Romi. Intinya, pagi hari kami nyaris tidak ada waktu untuk bercengkrama. 

Sore hari, ia pulang sesaat sebelum maghrib atau bahkan jauh setelah Isya. Kemudian untuk menghibur diri dan mengusir lelah, ia memainkan gadgetnya, atau bercengkrama dengan anak-anak. Di waktu itu, aku sudah sangat lelah fisik dan mental. Akibatnya aku rentan badmood, mudah tersinggung. Oleh karenanya aku sadar kami kadang saling menghindar. Daripada salh ngomong kemudian bikin nggak enak hati. 

Aku tidak mau menyalahkan suamiku, pun diriku sendiri. Aku hanya butuh kawan bercerita. Aku hanya butuh didengarkan. Dan bagiku itu adalah hak. Namun kondisi pekerjaan suami, dan ia yang bekerja keras menambah penghasilan di tengah prihatin ekonomi keluarga membuatku menahan lisan untuk menuntut. Bukan tidak mau berkomunikasi, namun aku tak mau menambah bebannya.

Jadi, aku memutuskan mulai sekarang untuk kembali bercerita di sini. Entah bagaimana nanti, apakah blog ini akan dibaca oleh anak-anakku, atau ia hanya akan menjadi saksi bisu perjalanan hidupku yang sepi. 

Mengapa sulit sekali bagi kami untuk menyempatkan diri quality time berdua? Sebetulnya yang kami jalani ini, rumah tangga atau rumah kos?

Namanya Romi Najib

Kehamilan Keempatku

Kehamilan Ketigaku

Beratnya menjadi IRT pkus 'Wanita Karir'