Pukul empat pagi, suamiku membangunkanku untuk sahur. Ia juga ternyata ingin ikut berpuasa bersamaku. Semoga hari ini semua urusan kami dilancarkan oleh Allah.
Kami sahur sambil berbincang ringan. Sebetulnya aku tak bisa tidur lagi malam tadi. Perasaanku campur aduk. Senang ia ada di sini tapi kami tak bisa tidur berdampingan karena ranjang rumah sakit yang sempit dan tanganku digelayuti selang infus. Rasa ecxited menjelang kelahiran baby sekaligus rindu Jihan yang tidur di rumah Eyangnya juga bercampur aduk. Ditambah lagi jam dua tadi ada keributan antara nenek bayi pasien sebelah dengan perawat. Hmm, jadi makin sulit untuk kembali tertidur.
---------------------------
Pagi hari, aku kembali menjalani tes darah untuk melihat kadar HB. Kemudian cek alergi antibiotik yang rasa suntikannya begitu menggigit sampai aku merintih kesakitan. Mungkin karena disuntikkan vertikal di permukaan kulit.
Alhamdulillah HB sudah normal, aku diminta untuk mempersiapkan diri. Akupun membersihkan diri sebelum mengenakan baju operasi.Rasanya berat saat harus menggunakan baju berwarna hijau itu. Aku takut, tapi rindu pada anakku. Hingga akhirnya datang panggilan untuk segera ke ruang operasi.
Suamiku, mami, dan seorang perawat mendorong ranjangku menuju ruangan operasi. Saat itu hampir jam 9. Sebelum masuk ke ruangan, aku mengucapkan kata maaf pada suamiku yang dibalas dengan kalimat serupa. Saat berpisah, kulihat sekilas, matanya berkaca-kaca. Hatiku kencang berharap agar diberi kesempatan kedua untuk meningkatkan baktiku pada pria jangkung itu.
Aku diminta mengganti bajuku (lagi), kali ini berwarna kuning. Aku juga melepas ikatan rambut dan menggantinya dengan penutup kepala. Setelah itu, ranjang didorong masuk ke ruang yang super dingin, dan aku diminta pindah ke meja operasi yang sempit. Takut gelundung euy!
Jam sembilan tepat. Dokter tak kunjung datang. Sambil berbaring kedinginan, aku menyimak permbicaraan perawat. Mereka membicarakan Masitis, yaitu infeksi yang menyerang ibu yang menyusui atau sedang menyapih anaknya. Penyakit ini dapat menimbulkan pembengkakan dan peradaangan di payudara.
Meskipun penyebabnya beragam, yang dibahas kala itu adalah yang disebabkan oleh penyumbatan saluran ASI lantaran terlambat menyusui anak karena ditinggal bekerja atau karena ASInya menggumpal. Mereka membicarakan cara menanganinya baik secara medis maupun anjuran orang tua Jawa. Ternyata semuanya bisa dipraktekkan dan sesuai teori medis.
Fokusnya satu, yaitu menghangatkan daerah yang bengkak dengan air panas atau uap, plus gerakan memijat ke arah puting. Dalam versi kejawen, biasanya ibu yang menderita Masitis diminta membalut tubuh dengan kain jarit, berendam air hangat, kemudian menyisir daerah yang bengkak dengan sisir rambut. Mungkin maksudnya agar pijatan merata dan mengenai seluruh daerah payudara.
Di tengah obrilan mereka, sesekali ada yang mendekatiku, mengecek keadaanku. Jarum infus sempat mampet, kemungkinan tersumbat sisa darah saat transfusi kemarin, terpaksa mereka mengganti jarum dan menancapkannya di bagian tanganku yang lain.
Lama sekali rasanya menunggu dokter datang. Pantas saja, sekarang sudah jam sepuluh. Artinya aku sudah berbaring di ruang dingin itu dengan pakaian tipis selama satu jam. Apalagi posisi tangan terikat sebelah plus biip biip tensimeter membuatku makin tak nyaman.
"Oh, itu dokter Risty sedang bersiap-siap." Salah satu perawat memberikan kabar. Alhamdulillah, aku tak perlu terlalu lama lagi menunggu.
Saat semua perawat sudah di tempat. Lagi-lagi ada masalah. Tensiku menurun (pasti ini karena serangan panik) hanya 90/60. Aliran infus mampet lagi, mereka kali ini memindahkannya ke tangan kananku.
Dokter anastesi masuk, aku dibantu duduk dan disuntikkan obat bius di tulang belakang. Banyak ibu-ibu yang bercerita bahwa rasanya suntikan anastesi sangat menyakitkan. Sedangkan aku sudah dua kali menjalaninya dan tidak merasakan sakit yang berarti.
Aku kembali berbaring, kateter dan oksigen dipasangkan ke tubuhku. Kemudian dengan membaca basmalah, dokter Risty dan team memulai operasi.
Aku hanya dapat menyimak semuanya sambil berzikir. Berusaha menikmati sayatan demi sayatan, dentingan alat operasi, dan cahaya lampu yang silau sembari mengingat sesaat lagi akan berjumpa dengan putraku. Aku menyadari momen seperti ini seharusnya dilalui dengan penuh syukur, bukan ketakutan yang traumatis seperti saat melahirkan anak pertamaku.
Operasi telah berjalan 10 menit, tiga orang dokter menekan perut dan dadaku dengan begitu kuat.
"Ayo dorong yang kuat, bentar lagi keluar nih." Dua dokter yang menanganiku berbincang di antara mereka.
Sesak, sakit, sulit bernafas ... Hingga akhirnya tangisan menggema dalam ruang dingin berdinding hijau itu.
Aku ikut menangis layaknya bayi itu. Seperti tangis ratapan.
"Alhamdulillah bayinya laki-laki ya bu..." perawat mengabariku. Aku bersyukur, akhirnya setelah dua tahun lalu diberikan putri, kini Allah memberiku anugerah seorang putra. Sepasang anak yang kuharap keduanya kelak dapat saling melindungi dan berkejaran dalam amal saleh.
Putraku didekatkan kepadaku. Kulitnya merah, badannya terlihat lebih berisi dibanding saat kakaknya lahir. Kucium bayi yang masih basah dengan air ketuban. Lalu ia dibawa pergi untuk dibersihkan dan diperlihatkan ke abah, kakak, nenek dan kakeknya di luar.
Dokter2 itu melanjutkan pekerjaannya tanpa memperhatikan air mataku yang masih saja mengalir.
"Dok, pasiennya nangis", bisik salah satu kepada dokter kandungan.
"Oh, iya, kesakitan kayaknya. Pastinya sakit banget lah perut sama dadanya ditekan seperti tadi."
Bu dokter, Anda tak tau ya rasanya terharu karena denger tangisan baby? *ga bisa tepok jidat karena kedua tangan dibelenggu selang infus dan tensimeter.
"Bu, ini operasi kedua, rumit sekali masalah jahit-jahitnya. Besok kali yang ketiga akan lebih rumit lagi ya bu..." Dokter Risty mengomentari.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan karena air mata haru belum berhenti mengalir jua.
Perjuangan seorang ibu sejak hamil hingga melahirkan, lemahnya, lelahnya, sakitnya, dapat mengalirkan pahala bila dijalani dengan hati ikhlas dan ridha. Tak ada beda apakah ia melahirkan normal ataupun melalui operasi. Semuanya sama berjihad mempertaruhkan nyawa.
Manusia bisa berencana, namun hasil akhir tergantung campur tangan Allah.