1. Sekarang, aku musti memasak setiap hari. Seneng juga sih, karena bisa mengusir sepi. Dan kebetulan juga si Abang Somad (tukang sayur) setiap hari berhenti di depan rumah.
2. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk online dan nonton tutorial masak di youtube. Maklum lah, manusia udik ini baru dapat fasilitas wi-fi yang murah tapi bagus.
3. Bangun bisa lebih pagi, karena speaker masjid menghadap ke rumah, pastinya adzan subuh, zuhur, asar, magrib, isya, sampai suara alarm jam masjid pun terdengar juelas dari rumah. Alhamdulillah. Ini salah satu hal yang mengusir sepi dari hidupku.
4. Mase pulang dua hari sekali. Pagi hari rutinitasku mengantar Mase berangkat kerja, besok malamnya menyambut Mase pulang kerja. Berasa benar-benar IRT sejati. Hehe.
5. Karena di sana sepi, dan pada dasarnya aku malas keluar rumah. Teman ngobrolku sebatas Ibu nasi uduk, Bang Somad, dan Ibu samping kanan rumah (samping kiri rumah kosong), dan para kurir ekspedisi. Kadang rindu akan teman-teman di Jakarta dan kesibukan harianku di sana. Tapi, inilah hidup. Perubahan dan adaptasi memang harus dijalani.
6. Sering Mendapat Paket.
Dulu, karena tempat kulakan Masyang dekat, barang dagangan biasa diantar atau diambil sendiri oleh Mase. Sekarang berhubung tempat tinggal kami jauh, mau ga mau dipakailah ekspedisi pengiriman.
Ditambah lagi asatidzah pesantren yang menggunakan alamat kami sebagai alamat surat mereka (kurir tidak bersedia mengantar barang ke pesantren karena terlalu jauh, hehe), jadilah para kurir mengenal diriku dengan begitu baik lantaran hampir tiap hari berurusan dengan mereka.
Paket para asatidzah kadang berukuran besar dan sangat berat, terkadang kecil. Suamiku begitu penyabar tiap hari menjadi kurir kedua membawakannya ke pesantren. Suatu hari saat motornya full dengan barang titipan, seorang ibu yang tinggal di sekitar pesantren menyapa,
"Ooh, kurir pos sampai sini juga ya kang?" Maksudnya, ibu itu mengira Mase adalah kurir pos yang mengantar paket ke pesantren. Hehe. Sabar ya beb.
No comments:
Post a Comment