Kami sudah cukup lama mencari rumah untuk pindah, karena struktur bangunan rumah lama kami ternyata sudah tidak layak huni. Berbulan mencari, namun selalu ada ketidak-cocokan, dari letak rumah, luas, maupun harganya. Hehe.
'Rumah baru' kami lebih luas dari rumah lama, meskipun lahan bercocok tanam tidak ada lagi, karena taman sudah dipenuhi tanaman hias. Jadi, Mase hanya bisa menuangkan hobinya di pot-pot kecil dan botol air mineral bekas.
Rumah ini berjarak agak jauh dari masjid, sehingga suasananya makin sepi mencekam. Sebelah kiri rumah kosong, sebelah kanan dihuni kakek-nenek yang jarang keluar rumah, rumah belakang kosong, sebelah belakang punya anjing galak, depan rumah hanya padang rumput luas tanpa penerangan.
Aku makin kesepian, kadang aku mengusir sepi ke ibu nasi uduk, ngobrol sejenak, kemudian pulang. Alhamdulillah wi-fi dan suara radio full 24 jam cukup membantu mengusir sepi.
Tanggal 17 Mei, Insya Allah kakakku, Mbak Ta akan menikah. Bahagia dan tak sabar rasanya menunggu hari itu.
Semantara perkembangan Jihan, dia sudah mulai makan nasi lembek, meskipun kadang suka asal comot nasi kuning atau gorengan jatah Mama. Hehe.
Jihan sudah mulai bisa melangkahkan kaki beberapa langkah, tiga, lima, kemudian menyeberangi 2/3 ruang tamu kami. Rasanya senang sekali bisa melihatnya berkembang. Tawa dan antusiasnya merupakan amunisi yang membuat semangatku makin meningkat.
Qiila dan Suci (dua anak yang menjadi teman hafalanku) datang ke rumah setiap hari Sabtu, tentunya ini banyak mengurangi rasa kesepian, apalagi kalau hari itu Mase ada tugas di pesantren.
No comments:
Post a Comment