Laman

Thursday, March 10, 2016

Allah, Kupasrahkan Jiwa Raga Kami

Alhamdulillah, mobil datang segera, dikemudikan oleh Abu Fauzan. 

Sebelum keributan terjadi, Mami dan Ummu Fauzan sudah bertukar nomor handphone. Inilah takdir Allah, banyak hal yang terkesan kebetulan, namun sesungguhnya Allah telah mengaturnya dengan sedemikian indah. 

__________
Aku segera dilarikan ke rumah sakit Harapan Mulia. Sampai di sana, aku langsung dipersiapkan untuk operasi. Dokter sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. 

Dari hasil USG, akhirnya dokter menentukan bahwa operasi harus segera mungkin dilakukan, karena detak jantung bayi sudah mulai lemah, dan juga aku masih tidak bisa menahan mengejan. 

"Pak, kita harus segera operasi Ibu sekarang juga, yang penting kita selamatkan ibunya, untuk anaknya, kita berdoa saja". 

Perkataan itu melukai hatiku, menyayat hati Mase. Ya Allah, bagaimana bisa perjuangan selama ini harus diakhiri dengan kematian anak kami? 

Sebelum masuk ruang operasi, sambil menahan sakit, kugenggam tangan kawan seperjuanganku yang telah setia mendampingiku selama 11 bulan terakhir, yang surga dan nerakaku berada dalam ridhonya, kekasihku tercinta, "Mase, maafin kesalahan adek ya..."

Semoga operasi berjalan lancar, dan Allah masih berkenan mempertahankan nyawaku dalam jasad. 
__________

Aku tak ingat banyak kejadian sore itu. Yang aku tahu aku malu berada di ruangan bersama dokter dan perawat laki-laki. Yang aku tahu mereka membicarakan masalah politik. Yang aku ingat aku berada dalam ruangan dingin, setengah tertidur karena lelah luar biasa. Aku ingat bagaimana tanganku diikat gemetar kedinginan. 

Tak lama, tepatnya pukul 17.07 tangis bayiku menggema di ruangan hijau.
"Bayinya perempuan, Bu, sehat, panjang 48, berat 2,5 kg" (suster salah ngukur, seharusnya 51 cm)
Aku mengecup pipi bayiku sebelum dibawa ke luar ruangan. 

Hatiku mulai tenang, meskipun bayiku terlahir dengan bibir dan muka yang bengkak karena tragedi siang itu. Bayiku, maafkan Mama, semoga kelak kau bisa bersabar mempelajari segala hal baru bersama Mama. 

____________
Aku dipindahkan ke ruang pasca operasi. Menunggu dalam diam hingga Mami masuk. Mami bercerita tentang anak perempuan yang baru kulahirkan. Tangisnya menggema, mungkinlah lapar, atau kedinginan? Sementara itu setenga tubuhku masih mati rasa hingga tengah malam.

Mami keluar, Mase masuk. Duduk di sampingku, menggenggam tanganku. Ia meminta maaf lagi. Kemudian tersedu sambil menciumi tanganku. Pria yang selama ini terlihat kokoh, sabar, dan tahan banting ternyata bisa juga menangis karena khawatir. Ah sayangku...

Malam itu anakku tidak langsung minum ASI. Kurangnya wawasan membuatku dan keluarga menerima saat suster menyodorkan sufor untuk dikonsumsi Jihan. Tapi ia tetap rewel seolah tak puas dengan sufor. Di hari kedua bahkan muntah berwarna kuning. Hingga akhirnya kami putuskan untuk mulai menyusuinya. Alhamdulillah ia tenang dalam dekapan ketiak Mamanya, dan tidak lagi terlalu rewel. 


No comments:

Post a Comment