Suatu pagi di hari Ahad, sekitar awal bulan Mei, setelah jalan pagi, Mase sibuk menyiangi rumput di halaman depan rumah. Entah kenapa, rasanya aku ingin membantu meskipun badan ini sudah tak nyaman untuk berjongkok. Padahal biasanumya aku sangat enggan saat harus duduk membersihkan rumput yang lebat. Akhirnya, kita kerja bakti berdua sambil berbincang. Sampai saat itu, rasanya tidak ada yang aneh dari kandunganku.
Malam harinya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengalir dari vagina, disertai rasa nyeri seperti disayat-sayat.
Aku segera ke toilet, khawatir kalau-kalau pembukaan sudah dimulai. Ternyata minus, tidak ada darah apapun, yang ada hanya cairan bening seperti putih telur. Baunya biasa saja, seperti keputihan.
Aku bertanya ke orang-orang yang berpengalaman melalui chat. Bolak-balik ke kamar mandi, siapa tau keluar darah atau flek. Rasa sakit seperti disayat masih terasa terus.
Mase terlihat khawatir, tapi sayang beliau mengungkapkannya dengan sikap cuek. Sementara aku menghadap nangis dalam sepi karena takut mau lahiran. Haha.
Sebagian orang memang mengungkapkan kepanikan dengan cara yang agak berbeda. Bukan menambah kadar perhatian, tapi malah cenderung cuek. Beberapa teman mengungkapkan bahwa suaminya melakukan hal yang sama. Jadi, maklumi saja meskipun sulit. Itulah laki-laki. Hehe.
___________
Keesokan harinya, kami pergi ke bidan terdekat, yang memang sudah beberapa kali kami kunjungi.
Opini mereka, itu bukan ketuban rembes, hanya keputihan. Dan aku malah dianjurkan memperbanyak kerja di rumah.
Oke, fine, meskipun kurang percaya, aku tetap menjaga kedamaian dan mengesampingkan kepanikanku.
Sedikit curhat ke Ummu Fauzan (tetangga yang juga wali santri pesantren), beliau menyarankan untuk mencari second opinion. Di RSU dekat perumahan kebetulan juga ada Spog perempuan. Oke, kita coba lagi besok.
__________
Selasa malam, sepulang Mase dari pesantren, kami pergi ke RSUD, untuk menanyakan jadwal dokter kandungan wanita. Ternyata, jadwalnya hanya tiap hari Senin dan Selasa saja.
Qaddarallah, untuk menunggu hingga pekan depan rasanya terlalu lama. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan ke arah Barat, bukan untuk mencari kitab suci seperti Kera Sakti. Kami hanya ingin mencari bidan terdekat lain yang siapa tahu bisa memberi second opinion.
No comments:
Post a Comment