Laman

Monday, May 23, 2016

Catatan Seorang Istri 2

25 Agustus 2013

Dua bulan, bukan waktu yg lama untuk usia pernikahan. Karena, apabila diberi umur panjang, kita masih akan menghabiskan lebih dari 2/3 umur kita dalam status M E N I K A H.

Tapi aku bahagia bisa melaluinya bersamamu. Dengan rukun, saling mengerti, saling terbuka satu sama lain.

Aku bahagia, karna dalam dua bulan ini bisa mencintai dengan halal, cinta yang tulus berpahala.

Aku ingin melalui semua kisah dan lika-liku hidup bersamamu.
Merasakan manis pahit di sampingmu.
Aku ingin berjalan seiring waktu, berdua denganmu.
Berjalan tuk menuai kebaikan,
bergandengan denganmu.

Rabbi, aku belum menjadi sosok sempurna baginya.
Dan Kau tahu seberapa aku berusaha.

Rabbi, jadikan kelak aku istri yang cocok untuknya, dapat mengikuti langkah dan komandonya, tepat di belakangnya.

Rabbi, jadikan kami keluarga yang diliputi ketenangan dan kasih sayang,
Hingga nanti, akhir waktu menentukannya ...

Dan Kau wahai yang lembut hatinya, terimakasih atas segala kebaikan, kelembutan, kearifan, dan kesetiaan yang telah kau perlihatkan. Lalu ajari aku untuk dapat menjadi sepertimu ...

Alhamdulillaahilladzi bi ni'matihi tatimmush shaalihaat ... 😊

Catatan Seorang Suami

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Dzat yg telah mempertemukan kita di atas ikatan yg diridhainya -insya Allah.

Sebagaimana Dia telah menurunkan hujan ke bumi dan menumbuhkan berbagai tanaman yg beraneka ragam, maka Dia-lah pula yg telah mengembang tumbuhkan cinta dan kasih sayang di antara kita. Dan dengan itu kita mengharap dari-Nya supaya ikatan cinta yg telah  tumbuh ini bisa langgeng baik di dunia yg fana ini, maupun di kampung halaman yg abadi.

Tak bosan aku meminta dan memanjatkan doa kepada-Nya, ya Allah, karuniakanlah keberkahan bagiku dengan datangnya pendamping hidupku di dunia, dan berilah ia keberkahan karenaku.

Wahai kekasih dan cintaku, ketahuilah aku bukanlah type pangeran yg kau impikan selama ini, aku bukan sosok imam yg patut diikuti, dan aku tidak pula memiliki dunia yg bisa dibanggakan. Tapi, aku punya bekal tanggung jawab, dan aku akan berpegang teguh dengannya selama ruh masih bersanding dengan raga. 

Wahai kasih hatiku, semoga rasa penyesalan tidak menghampirimu karena bersanding denganku di pelaminan itu.
Mari kita berpengang erat mengarungi bahtera yg indah ini, masih banyak badai dan karang di hadapan kita, tanpamu aku tak sanggup melaluinya.

Aku mencintaimu, dimanapun engkau berada, sejauh apapun jarak memisahkan kita, aku selalu mencintaimu dan merindukanmu.

Salam kangen dari Masyang

Catatan Seorang Istri


12 Juli 2013

Bismillahirrahmanirrahiim...
Suamiku, akan lewat di depan kita
masa2 sulit, masa2 saat kita mungkin
merasa renggang dan jauh.
Masa dimana kita harus lebih menggali
lebih dalam satu sama lain.
Menyelami sifat pasangan dan belajar
menyikapi semua dengan bijak dan
hikmah.


Kasih, bila masa itu tiba, cepat atau
lambat, apa yang harus kita lakukan?
Ah, aku percaya kau akan mengambil
sikap dewasa seperti biasanya,
dengan wajah teduhmu yang
menentramkan.
Adapun aku... Ehm,
dengan sikap kekanakan ini, aku akan
mencoba, tak hanya mencoba, bahkan
berjuang untuk mengambil sikap
yang sama.

Masa2 itu, cinta, adalah masa yang
berat, masa penjajakan, masa
penggemblengan.
Masa dimana
bahtera didebur ombak dan digerus
kerasnya badai.


Hari dimana kau akan mengambil
setir dengan gagah, dan aku berada
di belakangmu, mendampingimu,
mendukungmu.
Aku belum bisa menjadi istri yang
sempurna, bahkan aku tak memiliki
sebagian kecil kesempurnaan itu.


Tapi yang kutahu, sempurna ada
padamu, ada ditanganmu, didik aku,
rubah aku, jadikan aku istri idaman
bagimu...
Karna padamulah aku
diwajibkan taat.

Cinta dan sanjungan ini tulus, dari
hatiku, yang bahkan lisan tak mampu
mengungkap, yang bahkan pandangan
tak kuasa mengirimkan sinyal2
kerinduan ini.

Kutuliskan semua, disini, agar kau
tahu apa yang kurasa, apa yang
kulihat darimu selama ini...
Harapan tak pernah lepas dari untaian
doa-doa ku...

Menjelang Kehadiran Baby

Tanggal 4 April 2016, aku mulai mengurus berkas-berkas BPJS untuk persiapan operasiku nanti. 

Awalnya aku mendatangi bidan BPJS ditemani mamah, papah, dan Jihan tentunya. Bu bidan terkejut saat melihat luka jahitan sesar lamaku memerah. 

"Ini udah merah jahitannya. Saya takut kenapa-kenapa. Hari ini juga mondok ya di RS, besok harus tindakan. Kamu nih, lukanya udah perih-perih kok diam saja?!"

Setelah itu, aku langsung ke klinik dokter keluarga. Bismillah, semoga rujukannya tembus. Setelah menunggu antrean selama 2,5 jam sembari menahan lapar dan pegal, alhamdulillah surat ajaib itu aku dapatkan. Segalanya dipermudah oleh Allah, dengan bantuan keluarga di Semarang. 


Friday, May 20, 2016

Semarang 2

Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Mengurus Jihan, mengerjakan pekerjaan rumah meskipun jauh lebih sedikit dibanding di Bogor dulu. Jihan juga lebih banyak di-handle oleh Eyang dan tante-tantenya.

Aku sudah menentukan tanggal kelahiran calon bayi kami, yaitu tanggal 13 April. Sengaja kupilih hari Rabu, karena aku, mase, dan Jihan kebetulan lahir di hari yang sama. 

Semakin hari, rasa sakit di perut bagian bawahku makin mengganggu. Dokter bilang aman, tapi tak menyebutkan sebabnya. Itulah yang kadang membuatku tidak puas dengan jawaban beliau dan bertanya terus menerus, hingga nyaris terdengar seperti keluhan.

Terlebih ketika perut mulai kaku lantaran sedikit lebih banyak bekerja daripada biasanya, aku hanya bisa berbaring, mengistirahatkan baby yang mulai 'protes'.


Tuesday, May 17, 2016

Semarang

Akhir Februari 2016, kami mudik ke Semarang. Kepulangan yang awalnya direncanakan bulan Maret harus diajukan karena banyak urusan kehamilan yang harus aku selesaikan. Mulai dari mencari dokter muslimah yang bagus, hingga pengurusan kartu BPJS. 

Jihan sudah mulai beradaptasi dengan orang rumah. Sudah mulai menemukan 'kesenangannya' di sini. Aku mulai bisa beristirahat sedikit.

__________
Dengan berbekal info dari beberapa teman kajian Mamah, aku mendapat rekomendasi beberapa obgyn muslimah dengan berbagai karakter. Ada yang penyabar dan ramah, namun antrean pasien selalu panjang. Ada yang sedikit tegas dan ceplas-ceplos, namun telaten dan jelas pasiennya tidak terlalu banyak. 

Bismillah, berbekal keberanian, aku memilih dokter yang tegas. 
__________
Kunjungan Pertama- RS Roemani
Dokter: "Apa keluhannya bu?"
Saya: "Ga ada, Dok"
D: "Lha terus ngapain ke sini?"
S: "Ya mau kontrol aja, Dok"

D: "Anak pertama kenapa secar? Takut lahiran normal ya?"
S: "Err, presentasi wajah, Dooooook"

D: USG "Ini posisi bayinya sungsang bu".
S: "Ah, terakhir USG kata bidan udah di panggul kok Dok". (pasien ngeyel)
D: "Ini lho saya tunjukin, nih, kepalanya di sini. Ni buat mematahkan argumen njenengan. Dibilangin jangan ngeyel!"

Mamah: "Terus gimana ini dok, apa ibunya harus jalan banyak biar posisi anaknya ga sungsang lagi?"
D: "Ga usah bu. Orang juga nantinya kan akan secar. Ga usah dipikir susah lah. Kasian ibunya, kelihatan sekali orangnya penakut. Anak masih kecil sudah hamil lagi, berat sekali beban hidupnya". (Mak jlebb kayak ketusuk pedang dari depan nembus ke punggung hihi)
 
Yah, begitulah pengalaman saya berkonsultasi dengan seorang dokter yang sudah cukup sepuh dan berbicara apa adanya. Well, dibikin enjoy aja. Asal nanti baby bisa lahir dengan selamat, itu udah cukup mengobati rasa di hati. Wakwaw!