Laman

Saturday, June 6, 2015

A Little Risk

Di kehamilanku yang mulai menua ini, mual2 sudah hilang, tergantikan dengen nafsu makan yang menggebu2, disertai perut yang sudah mulai membuncit. Walaupun secara kasat mata, aku seperti sedang tidak hamil. Hehe.

Berjalan sejauh 1km setiap hari dengan jalanan terjal menanjak -ini lebay-, ditambah harus menaiki tangga kampus cukup menguras tenagaku. Setiap berangkat, aku selalu mampir dulu ke Warteg langgananku membeli nasi bungkus untuk kusantap begitu sampai di kampus. Nasi putih dengan orek tempe dan kentang balado seharga lima ribu rupiah menjadi menu favoritku saat itu.

Kitab tebal yang begitu berat pun jarang kubawa pulang. Semuanya kutata rapi di kusen jendela kelas. Alhamdulillah pihak kampus mengizinkan kami meninggalkan beberapa kitab di kelas. Aku hanya berbekal pdf, catatan, dan foto-copyan, untuk membaca materi yang telah dan akan dipelajari di kontrakan.

Yah seperti inilah kehidupan mahasiswi yang sangat aku nikmati. Sayangnya aku dan Mase sudah mengambil keputusan agar aku mengajukan cuti di semester ini. Sedih dan galau, itu yang pastinya menghantui hatiku. Setiap hari aku maksimalkan segala jiwa dan raga, demi bisa meraup apa yang para dosen sampaikan dalam tempo waktu yang sangat singkat ini.

Ya, hanya sebulan aku mencicipi manisnya belajar di Fakultas Syariah kampusku. Tempat duduk yang sejak 3 tahun silam kuharapkan, kini mau tak mau harus kutinggalkan, mungkin bahkan untuk selamanya. 

Sempat aku menawarkan diri kepada Mase, untuk terus kuliah dan melahirkan di Jakarta, sambil berharap agar bayiku mau menunggu hingga aku selesai UAS. 
Namun Mase mengambil keputusan yang lain yang lebih bijak. Yaitu aku mengambil cuti, pindah ke Bogor, istirahat dan memaksimalkan persiapan menyambut si kecil.

"Kita ga tau de, mungkin ini salah satu jalan yang Allah tetapkan untuk kebaikan kelak. Siapa tau dengan berhenti kuliah, Dede bisa umrah suatu saat nanti." Katanya. Aku mengaminkan dengan sepenuh hati sambil melawan panggilan jiwaku yang tamak ini. 

Ya, inilah kehidupan, tak ada satu langkah dan keputusan yang kita ambil, melainkan ia menyembunyikan minimal satu risiko. Kita tak diminta untuk menghindarinya, melainkan menghadapinya dan berseru "Ya, this is my choice, what is life whithout a little risk?!"


Friday, June 5, 2015

Mudik, Yuk...

Akhirnya aku bisa melepas rindu dengan sanak saudara di kampung halamanku di Jawa Tengah. Sayangnya, saat itu aku dan Mase -lagi2- harus LDR-an lantaran Mase harus kembali ke Bogor dan ikut fieldtrip ke Pare bersama warga Pesantren.

Di akhir masa libur, aku dikejutkan oleh kabar banjir yang datang dari teman kampus -yang juga sebagai tetangga kontrakan-, intinya adalah rumah kami semua kebanjiran.

Saat mendengar kabar itu, hati rasanya langsung tak karuan. Bagaimana nasib buku-buku kesayangan yang tersusun rapi dalam kardus, pikiran melayang ke baju dagangan Mase yang tergeletak di lantai, baju di lemari, barang elektronik yang semuanya duduk manis di atas lantai karena saat itu kami tak punya rak atau meja yang dapat memuat semua barang tersebut. Qaddarallah wa ma sya-a fa'al. Mau ga mau kita harus segera kembali ke Jakarta sebelum benda-benda tersebut membusuk atau berubah wujud 
____________________
Aku ingat betul, hari itu sekitar jam 11 siang. Mamah pulang dari ngaji di Mushala, sibuk dengan telepon sambil menangis. Saat itu hanya aku dan adikku, Uyun yang ada di rumah. Kami bisik2, memperkirakan kenapa gerangan Mamah sampai sesedih itu. Siapa yang sakit atau meninggal?

Setelah selesai dengan kesibukannya, Mamah cerita, Papah baru saja dibawa ke RS lantaran merasakan sesak di dada. Hati ini rasanya pedih. Ga tau penyakit apapun itu, tapi nampaknya ia bukan keluhan dari penyakit Fertigo yang selama ini Papah derita.

Mamah segera berangkat ke RS. Sedangkan kami di rumah, tetap memantau keadaan Papah via SMS. Ternyata menurut diagnosa, Papah mengalami serangan jantung. La haula wa la quwwata illa billah.

Malamnya, kami datang menjenguk Papah dengan menumpang mobil tetangga.  Di sana kami bertemu dengan  Mbak Ta, kakak kandungku yang langsung datang dari Jogja. Tapi sayangnya malam itu Papah belum bisa ditemui, kerana sedang dirawat di ruang ICU, dan sudah melewati jam bezuk. Ya, malam terakhir di Semarang kali ini betul2 membuatku sedih. Membuatku galau untuk kembali ke perantauan.

Keesokan paginya aku datang lagi ke RS, menaiki taksi selama satu jam untuk menjenguk Papah, sekalian pamitan. Di dalam ruangan ICU, mendengar alat pendeteksi jantung, hatiku sedih tak terkira. Susah payah kutahan air mata ini agar tak keluar. Sedih, terlalu sedih untuk berpisah, takut apabila Papah kesayanganku tak bisa lagi kutemui pada kepulanganku berikutnya. Syafahullah...

"Pah, apakah Mbak Nitta dan Mas Luthfi perlu menunda keberangkatan ke Jakarta?" Tanyaku. Rencana kami memang saat itu bertemu di stasiun. Mase dan Mbak Qori berangjat dari Magetan, dan aku menunggu di stasiun Semarang untuk sama-sama melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Tapi Papah menggeleng, katanya tak usah khawatir berlebihan dan tak perlu membatalkan tiket keberangkatan yang sidah kami bayar. 
____________________
Malam hari  itu juga, kereta berjalan perlahan meninggalkan Stasiun, di sampingku ada Mbak Qori, dan dihadapanku ada Mase, manusia yang aku cintai. Namun saat ini kehadiran dan pertemuanku dengannya tak dapat memperbaiki perasaanku. Hatiku serasa sakit, hancur. Ingin kembali duduk menanti kesembuhan Papah di depan ruang ICU... Belum beranjak dari stasiun, namun hatiku sudah rindu pada ayahku.
____________________
Paginya saat Subuh, kami tiba di Jakarta. Lelah, sedih, perasaan kacau, ditambah lagi pemandangan istimewa di dalam rumah yang porak poranda oleh banjir. 

Begitu sampai di kontrakan, aku dan Mase kerja bakti membersihkan rumah. Tentunya tanpa sempat merebahkan diri, karena saat itu tak ada sejengkalpun lantai rumah yang layak direbahi (bahasa apaan tuh). Bahkan kasur karet 'kapal' kamipun basah dan terbalik.

Aku bekerja keras bersama suamiku. Perut yang sudah mulai membesar dan cepat lelah tak kupedulikan. Aku tak mungkin beristirahat sementara suamiku yang sama-sama lelah sibuk mengurus rumah. Aku ingin ini cepat selesai. Kemudian aku ingin tidur bersamanya dengan nyenyak.

Alhamdulillah, berjam-jam bekerja penuh perjuangan, akhirnya rumah sudah bisa dibilang layak huni. Ya, meskipun bau buku berjamur, tumpukan pakaian basah, dan serombongan alat elektronik yang kemasukan air masih menanti untuk ditindak lanjuti. Fiuh, sejenak membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh yang pegal.

"Harus kita selesaikan sekarang ya Mase. Besok Mase balik ke Pesantren kan? Adek ga ada yang nemenin beberes nanti." Dan iapun mengangguk. 

Alhamdulillah, terimakasih Allah. Bagiku, suami yang pengertian lebih berharga dibanding segala jenis keromantisan. 



UAS


Jujur saja, ngidamku ini membuat semangat belajarku down. Rasa mual yang parah, lemas, dan cepet lelah sukses membuatku banyak tidur. Pulang kuliah, tidur. Di kampus, tidur. Malam setelah Isya, tidur.

Aku yang tadinya nyaris tak pernah bolos pun beberapa kali harus absen karena kondisi ini. Ya, bolos, karena aku terlalu ribet dan jomblo untuk pergi ke Dokter dan minta surat keterangan sakit. Ekhem...

Ketakutanku menjadi mahasiswi 'mahrumah' alias tidak akan bisa ikut ujianpun mulai menghampiri. Tapi alhamdulillah ternyata ga segitu parahnya. Aku masih bisa ikut ujian dengan tenang.



Dengan bantuan teman2 sekelas, terutama si Hanik, aku jatuh bangun belajar. Sendirian di rumah, begadang, terpaksa minum kopi, dan tragedi 'ga sengaja ketiduran' sampai pagipun sudah kualami. Laa haula wa laa quwwata illa billah... Padahal saat itu mata pelajaran nahwu yang soalnya pasti menantang karena diampu oleh DR. Sarmini, MA.

Tapi Alhamdulillah semua itu tidak membuatku patah semangat. Saat semangatku mulai low, segera aku charge ulang, terus begitu, setiap hari, sepanjang masa2 ujian. Tentunya para sahabat dan Mase adalah para penyemangat terbesarku saat itu.

Dan hasilnyaaa? Hehehe, alhamdulillah masih dapat nilai mepet, dengan peringkat anjlok. Sebelumnya IP ku selalu di atas 92 IP di atas 90, peringkatku 123. Namun kali ini IP 89, IPK 90, dan aku menerima peringkat ke sepuluh. Alhamdulillah 'alaa kulli haal.

Jujur saja, sebagai pemilik watak melankolis yang cenderung perfeksionis, aku tertekan dengan hasil yang kucapai. Tapi masya Allah, Mase dengan watak phlegmatisnya bisa menetralkan kegaduhan hatiku, sembari mengingatkan bahwa apa yang kita dapat adalah yang terbaik dari Allah untuk kita.
Yang penting, libur 'tlah tiba, saatnya packing untuk pulang kampung. Ayeeey...

Ujian Seleksi Fakultas Syariah

Pagi itu, teman-teman sekelasku heboh. Katanya ada pengumuman ujian masuk Fakultas Syariah akan dilaksanakan pada tanggal sekian.

Kami berbondong-bondong keluar untuk memastikan. Dan ternyata benar. Waduh, dengan semangat yang naik turun ini, aku masih harus ikut ujian? Padahal besar harapan bisa masuk dengan 'gratis' sudah memenuhi angan-anganku.

Selama ini, mahasiswi yang memiliki predikat mumtazah (istimewa) memang mendapatkan hak berpindah tingkatan tanpa tes. Dan baru tahun ini kebijakan tersebut diubah. Semua mahasiswa-i wajib mengikuti tes masuk dengan mengesampingkan predikat nilai mereka di tingkat sebelumnya. Merasa tertantang? Yes I am. Tapi takut juga Yes I am.

Hmm,  ujian seleksi ini dilaksanakan sebelum UAS. Jadi, semua yang mendaftar wajib ikut seleksi, baik yang nilainya tinggi, ataupun yang dibawahnya, tanpa terkecuali!



Saat ujian tulis tiba, kami melaksanakan ujian di gedung tempat mahasiswi Syariah menimba ilmu. Hari itu adalah hari Sabtu, dimana seluruh mahasiswa/wi libur, kecuali kami yang hari itu mengikuti ujian.

Soal yang kami hadapi menakjubkan, 80 soal checkpoint, yang beberapa diantaranya adalah hal-hal yang sama sekali tidak kami mengerti karena belum kami pelajari. Tapi alhamdulillah aku yakin, setidaknya jawabanku bisa diharapkan. Bismillah...

Pekan depannya, hari Sabtu pagi juga, kami menjalani interview di tempat yang sama. Saat menaiki tangga, tiba-tiba rasa lelah menjalari tubuhku. Hmm, namanya saja hamil muda, naik tangga pun rasanya lemas dan tak berdaya. Apalagi aku telah menempuh jarak jauh dari rumah ke kampus dengan berjalan kaki. 

Saat menunggu giliran pun aku sempat kebingungan mencari makan siang, laper cuy. Sedangkan hari Sabtu kantin kampus libur. Beginilah rasanya orang ngidam, saat di luar rumah ingin makan segala sesuatu yang enak, tapi saat membuka pintu rumah, semua makanan mendadak minta dimuntahkan. 

Alhamdulillah setelah selesai, sekitar menjelang Ashar, sahabatku Hanik Hidayah berkenan memberi tumpangan dan mengantarku sampai rumah.

Senang rasanya, walaupun kelihatannya jomblo, tapi suami, saudari dan teman-teman tetep care dan banyak sekali membantu. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan limpahan kasihsayang-Nya.


Mabuk Kepayang

Aku menuliskan kabar kehamilanku di beberapa grup Whatsapp. Semuanya mendoakan kebaikan, semuanya ikut senang, alhamdulillah...

Keluarga juga ikut berbahagia. Walaupun mungkin mereka menahan geli saat mendengar berita ini. Well, mungkin terdengar lucu sih di telinga mereka. Karena secara kelakuan dan umur, aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah dan hamil. Padahal mah udah tua juga sebenernya. Hehe.

Berikutnya merupakan hari-hari yang susah-susah gampang. Penuh dengan ujian, ngenes-ngenes sedap deh.

Aku ingat rasanya harus berangkat kuliah lebih pagi, yaitu jam 6. Ini adalah salah satu strategi agar tidak terburu-buru saat jalan, sehingga janin mungilku tetap aman.

Dalam perjalanan ke kampus, aroma bawang2an bertebaran di udara. Iya, jam segitu 'kan ibu-ibu, warung makan, tukang jualan, semuanya sedang prepare untuk sarapan dan dagangan. Hal ini menambah bebanku sebagai bumil. Ihik...



Di rumah pun, saat libur, aku kerap muntah saat mencium bau masakan tetangga, ataupun bau amis ikan yang datang menjelma ntah dari mana. 

Mencium bau air kamar mandi pun tak kuat, taulah, bagaimana air kebanyakan daerah Jakarta, kuning dan bau besi. Sehingga aku selalu menyediakan karbol dan antiseptik untuk menetralkan bau dan menyelamatkan makanan yang baru saja dicerna lambungku.

Aku bersyukur,  sebesar-besar syukurku kepada Allah. Karena walaupun ngenes gini, di sampingku selalu ada Masyang, yang mau 'mempertanggung jawabkan' perbuatannya. Dengan sabarnya menanggapi aku yang rewel tiap kali ditinggal, menemani jalan malam keliling Jakarta tanpa tujuan tiap kali aku bosan, dan bersabar karena sepulang dari jalan, aku selalu termabok-mabok dan malah badmood (jalanan Jakarta kalo malam dipenuhi bau masakan ala pedagang kaki lima). Jazakallahu kullal khair, Bebebku...

Di lain itu, saat aku menjadi jomblo weekdays, akik iparku begitu perhatian menemaniku tinggal. Ngobrol, makan, dan tidur. Sehingga rasa mabok berat ini benar-benar banyak terkurangi. Jazahallahu khairan.

Teman-teman pun banyak  membantu. Di kelas saat itu ada beberapa teman yang sama-sama sedang hamil muda. Kami saling berbagi kisah dan pengalaman.
Teman lajangwati banyak berbagi untuk ibu-ibu yang sedang ngidam. Ada yang membawakan Bakpia Pathok, keripik singkong, bahkan ada yang sukarela membawakan mangga muda untuk bumil. Masya Allah, betapa indahnya ukhuwah kami saat itu.

Selainnya, rasa mual ini aku anggap sebagai ajang komunikasi antara aku dan jabang bayi. Karena aku tahu, saat aku mual, berarti ia sedang tumbuh dan berkembang. Walaupun rasanya benar-benar seperti orang pesakitan, tapi aku aku berusaha buat sabar. Dinikmati? Emm, yaa, bisa, bisa. Wkwkwk #elus perut ga buncit.

Oh, iya, jika mungkin ada diantara teman-teman yang mabok parah sepertiku, makan apapun, minum apapun akan langsung keluar, aku punya sedikit tips nih;

Untuk minum, minumlah air  putih yang Anda suka. Selera orang kan beda-beda ya. Bagi yang suka air hangat, minumlah air hangat. Bagiku yang suka es, alhamdulillah kalau minum air dingin aman dan ga keluar lagi.

Juga jangan lupa siapkan permen jahe setiap waktu. Kenapa permen jahe? Agar mudah dibawa dan nggak ribet nyeduh segala. Boleh banget lah kalau di rumah nyediain minuman jahe juga, kan kelihatannya lebih sehat daripada permen hehe.

Awal Kehamilanku


Jakarta, sekitar pertengahan bulan September 2013
Dua garis. Jantungku berdegup kencang. Rasanya seluruh tubuh ini lemas. Kaget, seneng, malu, pokoknya semua rasa nimbrung bertumpuk jadi satu dalam hatiku.
Apa yang harus aku bilang ke Mase?

"Klining...", hapeku berbunyi tanda ada pesan Whatsapp masuk. Ternyata pesan dari Mase,
"Gimana De, dah dicoba tespacknya?"
Glegg... Tuh kan betulan ditanya, batinku. "Mase, telpon Adek sekarang yaa...", balasku singkat.

Ga lama kemudian Mase nelpon, dan perbincangan singkatpun berlangsung. Intinya, walaupun serasa belum siap, apapun yang terjadi, kita berdua harus menguatkan diri. Bagaimanapun, anak adalah anugerah, amanah, yang harus dijaga baik-baik.

Bismillah, ya Allah, bimbing kami.
____________________

Beberapa hari setelahnya, aku pergi ke Bidan dekat dengan kontrakan kami, diantar oleh adik iparku, Mbak Qori. 

"Hamil ya, Bu." kata Bu bidan.
"He eh", aku mengangguk.
"Ini sudah satu setengah bulan, Bu. Sudah hampir dua bulan",
"Kok cepet amat sih, Bu?" aku penasaran, perasaan aku baru telat seminggu dari waktu haid, kok udah dibilang hampir dua bulan? Dasar pasien sok tau. Hihihi...

Ternyata setelah aku cek, waktu itu kehamilanku masih berusia 5 minggu, beda seminggu doang dari kata Bidan, sih.

"Berapa Mbak?" tanyaku kepada Mbak yang jaga kasir.
"120 ribu, Bu." jawabnya.

Hmm, memang betul bidan Jakarta. Cuma periksa, suntik dan vitamin aja harus merogoh kocek sedemikian dalam. Bisa bolong nih kantong kalo harus periksa ke sini tiap bulan.
____________________


Mulai malam harinya, entah kenapa tiba-tiba rasanya perutku mual, kepala pusing, dan badan rasanya lemas gak karuan. Mulailah fase terberat dalam kehamilanku, fase dimana aku dimabuk kepayang -eh, salah-, mabuk habis-habisan.

Padahal, sebelum pergi ke Bidan, aku sudah berbangga karena ga merasa mual sama sekali. Bahkan nafsu makanku sempat meningkat drastis.

Meskipun sempat mengeluh dan khawatir, aku bersyukur bahwa dengan mual ini, aku berkomunikasi dengan bayiku. Aku sadar bahwa tiap rasa yang kurasakan selama trimester adalah tanda bahwa anakku tumbuh dengan sehat.


Prolog

Aku adalah seorang Ibu Rumah Tangga muda -atau anggap saja begitu- beranak satu yang menikah saat masih kuliah di suatu lembaga pendidikan Islam di Jakarta.

Suamiku (Mase) adalah seorang lelaki (yaiyalah) yang juga alumni dari lembaga yang sama. Kini dia mengajar di sebuah pesantren di kabupaten Bogor.

Karena jarak Jakarta-Bogor yang lumanyun jauh, sejak sebelum menikah kami sepakat untuk LDR. Aku tinggal di rumah kontrakan di Jakarta, sedangkan Mase stay di Pesantren. Tiap akhir pekan, doi pulang ke Jakarta.

Dua bulan menikmati honeymoon,  alhamdulillah akhirnya aku hamil. Aku yang masih harus kuliah menyelesaikan sampai akhir semester terpaksa harus bersabar berjauhan dengan suami. Taulaaah, gimana rasanya orang hamil muda, bawaannya sensitif dan ga jelas. Hehehe...

Alhamdulillah, saat itu aku tinggal berdekatan dengan kontrakan adik iparku yang dengan tulusnya ikut merasakan suka duka bumil ini.

Sejak Jihan lahir, aku banyak belajar, banyak mengalami hal-hal fantastis yang sebelumnya ga pernah aku bayangin. Dan akupun membuat keputusan besar dalam hidupku: Mengundurkan diri dari tempat aku menuntut ilmu.

Makanya aku putuskan untuk membuat project ini, blog khusus untuk menceritakan suka dukaku selama hamil hingga sekarang. Niatnya sih, agar baby Jihan kelak ketika dewasa, tahu bagaimana pengalaman seru Mamanya saat mengandung anak pertama.

And this is My Story... 

Semoga tidak terlalu vulgar untuk dinikmati para teman pembaca. Dan semoga bermanfaat.

Akhirnya, aku hanyalah Ibu muda sekaligus penulis amatiran yang sedang belajar. Maka bagi yang mau memberikan krisan (kritik dan saran), atau meluruskan kesalahan, atau mungkin berbagi pengalaman yang sama, insya Allah saya akan terima dengan tangan terbuka, baik melalui kolom komentar atau secara pribadi lewat e-mail.

Terakhir nih, Syukran, Arigato, Terimakasih, Matursuwun... 


Wednesday, June 3, 2015

Kata Pembuka

Blog ini, dibuat oleh orang yang spesial dalam hidup saya, orang yang paling saya cintai setelah kedua orang tua, yaitu my lovely husband BabaJihan (i love you so much beb)

Terima kasih kepada si Mbah Google yang sudah menyediakan saya fasilitas berupa Blooger, dan terima kasih pula kepada Paman Blogger, karena saya diberi kesempatan untuk "ngontrak" gratis tanpa dipungut biaya, hehe..