Di kehamilanku yang mulai menua ini, mual2 sudah hilang, tergantikan dengen nafsu makan yang menggebu2, disertai perut yang sudah mulai membuncit. Walaupun secara kasat mata, aku seperti sedang tidak hamil. Hehe.
Berjalan sejauh 1km setiap hari dengan jalanan terjal menanjak -ini lebay-, ditambah harus menaiki tangga kampus cukup menguras tenagaku. Setiap berangkat, aku selalu mampir dulu ke Warteg langgananku membeli nasi bungkus untuk kusantap begitu sampai di kampus. Nasi putih dengan orek tempe dan kentang balado seharga lima ribu rupiah menjadi menu favoritku saat itu.
Kitab tebal yang begitu berat pun jarang kubawa pulang. Semuanya kutata rapi di kusen jendela kelas. Alhamdulillah pihak kampus mengizinkan kami meninggalkan beberapa kitab di kelas. Aku hanya berbekal pdf, catatan, dan foto-copyan, untuk membaca materi yang telah dan akan dipelajari di kontrakan.
Yah seperti inilah kehidupan mahasiswi yang sangat aku nikmati. Sayangnya aku dan Mase sudah mengambil keputusan agar aku mengajukan cuti di semester ini. Sedih dan galau, itu yang pastinya menghantui hatiku. Setiap hari aku maksimalkan segala jiwa dan raga, demi bisa meraup apa yang para dosen sampaikan dalam tempo waktu yang sangat singkat ini.
Ya, hanya sebulan aku mencicipi manisnya belajar di Fakultas Syariah kampusku. Tempat duduk yang sejak 3 tahun silam kuharapkan, kini mau tak mau harus kutinggalkan, mungkin bahkan untuk selamanya.
Sempat aku menawarkan diri kepada Mase, untuk terus kuliah dan melahirkan di Jakarta, sambil berharap agar bayiku mau menunggu hingga aku selesai UAS.
Namun Mase mengambil keputusan yang lain yang lebih bijak. Yaitu aku mengambil cuti, pindah ke Bogor, istirahat dan memaksimalkan persiapan menyambut si kecil.
"Kita ga tau de, mungkin ini salah satu jalan yang Allah tetapkan untuk kebaikan kelak. Siapa tau dengan berhenti kuliah, Dede bisa umrah suatu saat nanti." Katanya. Aku mengaminkan dengan sepenuh hati sambil melawan panggilan jiwaku yang tamak ini.
Ya, inilah kehidupan, tak ada satu langkah dan keputusan yang kita ambil, melainkan ia menyembunyikan minimal satu risiko. Kita tak diminta untuk menghindarinya, melainkan menghadapinya dan berseru "Ya, this is my choice, what is life whithout a little risk?!"
Picture by: http://instagram.com/fauzeeyyah






