Suasana di Andalus sangat sejuk dan menyenangkan. Apalagi suara adzan, iqamah, muhadharah, selalu terdengar jelas sampai rumah. Aku tak lagi merasa kesepian, tak ada lagi gonggongan anjing galak.
Aku sudah mulai berkenalan dengan ummahat para tetangga, meskipun aku masih jarang keluar rumah (emang udah watak suka sepi sih kayaknya). Tapi masya Allah, bahagia rasanya punya tetangga yang shalihah dan semanhaj.
__________
Mengingat flek di awal kehamilanku, aku meminta Mase untuk menemani periksa ke bidan puskesmas. Alhamdulillah, menurut bidan, kondisiku dan janin baik. Hanya saja aku perlu menjaganya dengan mengurangi aktifitas yang menguras tenaga, dan mengurangi bepergian menggunakan motor.
Mase banyak membantuku, mencuci baju, mencuci piring, menyapu, dilakukannya ketika ia sempat.
__________
Baru beberapa pekan tinggal di Andalus, aku merasa sangat bosan dan ingin refreshing. Jelas berbeda rasanya, dulu di perumahan, kami rutin 'jalan-jalan' meskipun sekedar membeli lauk makan, jajan, ataupun melihat-lihat cluster yang baru dibangun. Sedangkan sekarang, aku harus menjaga kandunganku dan tidak banyak naik motor.
Berkali-kali aku meminta diajak jalan, namun Mase menolak dengan baik sambil mengingatkan pesan bu bidan.
Ya Rabbi, rasanya jenuh ini akan membunuhku!
__________
Sayur-sayuran dan bahan makanan di Andalus lumayan mahal. Sementara aku belum menemukan tukang sayur yang klop dan eksis seperti bang Somad.
Mase mulai memikirkan untuk belanja ke pasar sekali sepekan, sehingga aku tak perlu galau memikirkan bahan makanan yang mahal dan kadang kurang segar.
Beruntungnya aku memiliki suami yang 'merakyat', tidak ragu melakukan pekerjaan rumah tangga, suka membantu istri, dan yang terpenting, tidak gengsi belanja ke pasar. Alhamdulillah, masya Allah.

No comments:
Post a Comment