Oh, iya, sejak Jihan berusia 5 bulanan, aku sudah kembali memasak, loh, bahkan kami mulai berjualan makanan kecil-kecilan ke kantin pesantren.
Dari tape goreng, martabak mie, sate telur puyuh, pisang coklat, es, semuanya kami jajal satu persatu secara bergantian, agar customer tidak bosan. Tidak banyak, maksimal hanya 50 buah, namun rasanya senang luar biasa kalau dagangan kami ludes.
Kembali ke Jihan, pada saat itu, ada sebuah kejadian traumatis yang cukup membuatku sedih dan merasa sangat bersalah padanya.
Suatu malam (saat itu Mase menginap di pesantren), aku sedang menulis dengan posisi duduk hampir seperti sujud. Tiba2, jihan berpegangan pada punggungku dan berdiri. Dengan posisi seperti itu, sangat sulit bagiku untuk menggapai tangannya. Qaddarallah, ia langsung melepaskan pegangannya dan berdiri sendiri, belum sempat kupegang tangannya, Jihan sudah keburu terjatuh, kepalanya membentur lantai.
Dia menangis kesakitan, bahkan akupun ikut menangis karena kurang cekatan melindunginya. Sejak itu, Jihan agak trauma untuk berdiri. Sehingga harus belajar rambatan dari awal sekali.
Dari kejadian itu aku tahu, anak seperti orang dewasa, memiliki rasa takut dan trauma. Mereka bukan makhluk yang kosong dari perasaan, hanya saja mereka belum bisa mengungkapkannya dalam kata.
Semoga perkembangan Jihan tidak terlambat. Aamiin.
No comments:
Post a Comment