Laman

Wednesday, March 16, 2016

Tahun Baru

Tahun baru 2016. Kenapa selalu ada kesan berbeda dengan tahun baru? 

Aku adalah penggemar kembang api. Sejak kecil, warna-warni di langit malam terlihat begitu indah dan memesona. Apalagi sejak di Jakarta, dimana orang-orang menyalakan kembang api di mana-mana hingga gang-gang sempit. 

Tahun baru 2014, saat itu aku sedang hamil Jihan, jomblo, dan sedang mempersiapkan ujian. Suara petasan menggelegar, namun aku tak bisa melihatnya. Lahan jemuran di rumah kontrakan terlalu sempit untuk melihat kembang api, ketutupan genteng rumah tetangga. Haha. 

Tahun baru 2015, saat itu aku tinggal di Citra indah, iseng jalan keliling perumahan, kebetulan Mase ada di rumah. Ga kerasa, kami sampai rumah sudah hampir tengah malam. Jadilah kami menikmati indahnya kembang api dari balik jendela rumah kontrakan, bertiga, sambil mengenang masa-masa pacaran dulu. 

Tahun 2016 agak berbeda. Aku sedang hamil anak kedua. Sore hari kita refreshing di sekitar pesantren sekalian membeli kebutuhan dapur. Tergoda pemandangan jagung dan duren yang menggiurkan, kami mampir untuk membelinya, rencananya, ingin bakar jagung nanti malam sambil pacaran. 

Malam harinya, bumil labil badmood karena acara bakar-bakar ditunda hingga besok pagi. Tidur sebelum tengah malam, dan melewatkan pemandangan indah kembang api. 

Di sini, bukan berarti aku mendukung perayaan tahun baru, apalagi mendukung pesta pora pembakaran uang yang dilakukan oleh masyarakat kita. Aku hanya mengungkapkan keindahan kembang api yang menghiasi malam, yang bisa dinikmati di malam tahun baru, meskipun kadang mengganggu. 

Bagiku, perayaan tahun baru tetaplah tasyabbuh, membakar kembang api tetaplah suatu kemubadziran dan kedzaliman, seindah apapun ia. 

No comments:

Post a Comment