Laman

Wednesday, February 17, 2021

Aku Memulai Kembali

 Februari 2021

Tinggal di rumah mengasuh tiga orang anak dengan tanpa asisten. Mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, memikirkan menu makan, snack -dengan budget sangat terbatas-, sekolah, belajar, mengaji kedua anak tertua di rumahku merupakan rutinitas yang di satu sisi kunikmati, di sisi lain membuatku jenuh. 

Memang ya, manusia diciptakan banyak mengeluh. Disibukkan dengan pekerjaan luar rumah, mengeluh overload. Fokus

bekerja di rumah, merasa bosan. 

Sebetulnya, aku mensyukuri keadaan yang mengharuskanku kembali 'pulang' menjadi IRT... Namun aku butuh teman berbincang. Aku saat ini membutuhkan seseorang yang mau FOKUS mendengarkanku, dan sebaliknya, BUTUH didengarkan. Sebentar saja, 10? 15 menit misalnya?. 

Untuk mengurangi rasa sepi kadang aku berusaha menyisipkan foto anak-anak saat kami berkirim pesan WA dengan suamiku di siang hari. Meskipun kadang tak ditanggapi. Hmm, mungkin memang aku yang terlalu serakah. Inginnya aku bisa banyak bercerita langsung dan saling berbincang dalam waktu yang lama. Quality time bagi orangtua beranak tiga ternyata tak semudah itu, Ferguso.

Suamiku belakangan sibuk dengan urusan kantor. Rutinitasnya Subuh di masjid, hingga jam-6an. Saat ia pulang tentunya aku sudah repot masak seadanya atau menyiapkan bekal anak-anak sekolah. Anak-anak pun sudah bangun, meminta kudapan pagi, atau bertanya ini-itu. Saat itu pun biasanya ia sibuk membungkus barang dagangan yang harus dikirim hari ini. Ikhtiyarnya sebagai kepala keluarga untuk menambah penghasilan. Atau kadang di jam-jam itu ia membuat pancake untuk sarapan kami. Aku sibuk mengurus Romi. Intinya, pagi hari kami nyaris tidak ada waktu untuk bercengkrama. 

Sore hari, ia pulang sesaat sebelum maghrib atau bahkan jauh setelah Isya. Kemudian untuk menghibur diri dan mengusir lelah, ia memainkan gadgetnya, atau bercengkrama dengan anak-anak. Di waktu itu, aku sudah sangat lelah fisik dan mental. Akibatnya aku rentan badmood, mudah tersinggung. Oleh karenanya aku sadar kami kadang saling menghindar. Daripada salh ngomong kemudian bikin nggak enak hati. 

Aku tidak mau menyalahkan suamiku, pun diriku sendiri. Aku hanya butuh kawan bercerita. Aku hanya butuh didengarkan. Dan bagiku itu adalah hak. Namun kondisi pekerjaan suami, dan ia yang bekerja keras menambah penghasilan di tengah prihatin ekonomi keluarga membuatku menahan lisan untuk menuntut. Bukan tidak mau berkomunikasi, namun aku tak mau menambah bebannya.

Jadi, aku memutuskan mulai sekarang untuk kembali bercerita di sini. Entah bagaimana nanti, apakah blog ini akan dibaca oleh anak-anakku, atau ia hanya akan menjadi saksi bisu perjalanan hidupku yang sepi. 

Mengapa sulit sekali bagi kami untuk menyempatkan diri quality time berdua? Sebetulnya yang kami jalani ini, rumah tangga atau rumah kos?

Namanya Romi Najib

Kehamilan Keempatku

Kehamilan Ketigaku

Beratnya menjadi IRT pkus 'Wanita Karir'

Jihan 3-5 tahun

Umar 2-4 tahun

Jihan 2-3 th

Umar 0-1 th

Namanya Umar Fayyadh