Pernah nggak kalian membenci suatu pekerjaan? Yang mana tiap mengerjakan itu, bawaannya badmood dan cepat lelah.
Aku? Aku dulu tidak suka mencuci piring. Malas sekali rasanya saat Mamah menyuruhku untuk mencuci piring setiap hari. Apalagi kalau isinya adalah perabot yang berminyak, berbau, atau kalau ada piring bau amis ikan pindang bekas makan kucing adikku. Mual dan jijik rasanya. Ya, ini biasanya aku lakukan saat sedang liburan musim panas, dimana selama tiga bulan itu aku pulang ke Semarang.
Saking jengahnya dengan aktifitas cuci piring di rumah (ortu), saat kembali ke kosan, aku tidak pernah mau menyentuh pekerjaan itu. Aku melobi teman-teman sekamar untuk membantuku mencuci piring bekas makanku. Sebagai imbalannya, aku akan menyapu dan mengepel kamar SETIAP HARI. Siapa lah yang akan menolak? Hehe.
Namun makin ke sini, tiap kembali pulang ke Semarang, yang mana tiap hari 2-3 kali aku berkutat dengan perabot kotor, aku berusaha menantang diri. Alih-alih mengeluh, BT, dan merasa terbebani dengan tugas itu, aku menjadikannya challenge. Aku harus bisa mencuci piring bahkan sebelum Mamah memintaku melakukannya. Ya! Dengan begitu, aku merasa 'menang' meskipun sebenarnya enggak juga. Aku hanya menang melawan diri sendiri. Melawan ketakutan dan keresahanku.
Sekarang, aku bahkan mencuci piring tiga sampai empat kali sehari. Dengan berbagai bekas lemak dan kerak-ketak lainnya!
Sama halnya saat dulu aku takut pada benda bernama kancing. Ya, kancing baju yang banyak kalian temukan di kemeja. Tiap melihat benda itu aku merinding bahkan ingin muntah. Bagiku, kancing dengan lubang-lubangnya itu terlihat sangat menggelikan, bau, dan bisa saja masuk ke mulutku.
Karena tinggal di asrama, aku bersyukur saat itu aku bebas memilih model gamisku sendiri, yang tentu semuanya tanpa kancing. Maklum, saat itu aku belum dewasa, siapa sangka kalau nantinya aku harus memaksa diri melawan 'phobia'ku ini.
Setelah menikah, aku harus menyetrika baju suamiku, yang kebanyakannya adalah kemeja berkancing. Awalnya jujur saja, aku merinding dan selalu ingin muntah. Tapi, kalau dipikir-pikir, kenapa aku harus kalah pada hal kecil seperti ini? Kalau pun aku turuti, mau sampai kapan?
Aku berusaha melawan "Lihat, ini hanya kancing, benda mati yang nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak akan tertelan dan membuatku muntah. Lubangnya benangnya nggak akan mengeluarkan sesuatu yang menjijikkan. Baju ini juga bersih, jadi kancingnya tidak berbau".
Sepekan dua pekan, aku berusaha melawan ketakutanku sendiri. Alhamdulillah akhirnya aku terbiasa. Aku sempat lupa kalau dulu 'phobia kancing', haha. Bahkan aku sekarang bisa mengancingkan kancing seragam sekolah (jenis kancing paling mengerikan bagiku), yang dipakai anakku setiap hari.