Laman

Wednesday, March 9, 2016

Second Opinion

Sampailah kami di rumah seorang bidan. Plang namanya memang tidak mencolok. Butuh ketelitian dan kejelian untuk bisa menemukannya. 

Aku lupa siapa nama bidannya. Kesan yang kudapat beliau ramah dan pengertian. 

Tibalah sesi 'curhat' ke beliau, dan benar, menurut beliau itu adalah ketuban rembes. Namun beliau tidak berani melakukan 'periksa dalam' karena HPL masih dua pekan lagi. Beliau menyarankan untuk banyak beristirahat dan -istimewanya- meminta Mase untuk menungguiku 24 jam dan minta cuti dari pesantren. Wow!

"Aa, tetehnya tinggal 2 pekan lagi mau lahiran, Aanya harus standby di rumah, nungguin Teteh, jadi suami siaga, cuti dulu dari pesantren, biar kalau kenapa-napa, Aanya bisa langsung bawa teteh ke bidan, kasihan atuh si teteh sendirian di rumah". Kurang lebih seperti itu pesannya. Hihi. 

Akhirnya, kami pulang dengan perasaan sedikit tenang. Aku hanya butuh istirahat, lebih santai, dan menunggu hari H. Adapun ketuban yang rembes ini -kalau benar itu air ketuban-, tidak perlu terlalu dikhawatirkan. 


No comments:

Post a Comment