Laman

Friday, June 5, 2015

Mudik, Yuk...

Akhirnya aku bisa melepas rindu dengan sanak saudara di kampung halamanku di Jawa Tengah. Sayangnya, saat itu aku dan Mase -lagi2- harus LDR-an lantaran Mase harus kembali ke Bogor dan ikut fieldtrip ke Pare bersama warga Pesantren.

Di akhir masa libur, aku dikejutkan oleh kabar banjir yang datang dari teman kampus -yang juga sebagai tetangga kontrakan-, intinya adalah rumah kami semua kebanjiran.

Saat mendengar kabar itu, hati rasanya langsung tak karuan. Bagaimana nasib buku-buku kesayangan yang tersusun rapi dalam kardus, pikiran melayang ke baju dagangan Mase yang tergeletak di lantai, baju di lemari, barang elektronik yang semuanya duduk manis di atas lantai karena saat itu kami tak punya rak atau meja yang dapat memuat semua barang tersebut. Qaddarallah wa ma sya-a fa'al. Mau ga mau kita harus segera kembali ke Jakarta sebelum benda-benda tersebut membusuk atau berubah wujud 
____________________
Aku ingat betul, hari itu sekitar jam 11 siang. Mamah pulang dari ngaji di Mushala, sibuk dengan telepon sambil menangis. Saat itu hanya aku dan adikku, Uyun yang ada di rumah. Kami bisik2, memperkirakan kenapa gerangan Mamah sampai sesedih itu. Siapa yang sakit atau meninggal?

Setelah selesai dengan kesibukannya, Mamah cerita, Papah baru saja dibawa ke RS lantaran merasakan sesak di dada. Hati ini rasanya pedih. Ga tau penyakit apapun itu, tapi nampaknya ia bukan keluhan dari penyakit Fertigo yang selama ini Papah derita.

Mamah segera berangkat ke RS. Sedangkan kami di rumah, tetap memantau keadaan Papah via SMS. Ternyata menurut diagnosa, Papah mengalami serangan jantung. La haula wa la quwwata illa billah.

Malamnya, kami datang menjenguk Papah dengan menumpang mobil tetangga.  Di sana kami bertemu dengan  Mbak Ta, kakak kandungku yang langsung datang dari Jogja. Tapi sayangnya malam itu Papah belum bisa ditemui, kerana sedang dirawat di ruang ICU, dan sudah melewati jam bezuk. Ya, malam terakhir di Semarang kali ini betul2 membuatku sedih. Membuatku galau untuk kembali ke perantauan.

Keesokan paginya aku datang lagi ke RS, menaiki taksi selama satu jam untuk menjenguk Papah, sekalian pamitan. Di dalam ruangan ICU, mendengar alat pendeteksi jantung, hatiku sedih tak terkira. Susah payah kutahan air mata ini agar tak keluar. Sedih, terlalu sedih untuk berpisah, takut apabila Papah kesayanganku tak bisa lagi kutemui pada kepulanganku berikutnya. Syafahullah...

"Pah, apakah Mbak Nitta dan Mas Luthfi perlu menunda keberangkatan ke Jakarta?" Tanyaku. Rencana kami memang saat itu bertemu di stasiun. Mase dan Mbak Qori berangjat dari Magetan, dan aku menunggu di stasiun Semarang untuk sama-sama melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Tapi Papah menggeleng, katanya tak usah khawatir berlebihan dan tak perlu membatalkan tiket keberangkatan yang sidah kami bayar. 
____________________
Malam hari  itu juga, kereta berjalan perlahan meninggalkan Stasiun, di sampingku ada Mbak Qori, dan dihadapanku ada Mase, manusia yang aku cintai. Namun saat ini kehadiran dan pertemuanku dengannya tak dapat memperbaiki perasaanku. Hatiku serasa sakit, hancur. Ingin kembali duduk menanti kesembuhan Papah di depan ruang ICU... Belum beranjak dari stasiun, namun hatiku sudah rindu pada ayahku.
____________________
Paginya saat Subuh, kami tiba di Jakarta. Lelah, sedih, perasaan kacau, ditambah lagi pemandangan istimewa di dalam rumah yang porak poranda oleh banjir. 

Begitu sampai di kontrakan, aku dan Mase kerja bakti membersihkan rumah. Tentunya tanpa sempat merebahkan diri, karena saat itu tak ada sejengkalpun lantai rumah yang layak direbahi (bahasa apaan tuh). Bahkan kasur karet 'kapal' kamipun basah dan terbalik.

Aku bekerja keras bersama suamiku. Perut yang sudah mulai membesar dan cepat lelah tak kupedulikan. Aku tak mungkin beristirahat sementara suamiku yang sama-sama lelah sibuk mengurus rumah. Aku ingin ini cepat selesai. Kemudian aku ingin tidur bersamanya dengan nyenyak.

Alhamdulillah, berjam-jam bekerja penuh perjuangan, akhirnya rumah sudah bisa dibilang layak huni. Ya, meskipun bau buku berjamur, tumpukan pakaian basah, dan serombongan alat elektronik yang kemasukan air masih menanti untuk ditindak lanjuti. Fiuh, sejenak membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh yang pegal.

"Harus kita selesaikan sekarang ya Mase. Besok Mase balik ke Pesantren kan? Adek ga ada yang nemenin beberes nanti." Dan iapun mengangguk. 

Alhamdulillah, terimakasih Allah. Bagiku, suami yang pengertian lebih berharga dibanding segala jenis keromantisan. 



No comments:

Post a Comment