Laman

Friday, June 5, 2015

Mabuk Kepayang

Aku menuliskan kabar kehamilanku di beberapa grup Whatsapp. Semuanya mendoakan kebaikan, semuanya ikut senang, alhamdulillah...

Keluarga juga ikut berbahagia. Walaupun mungkin mereka menahan geli saat mendengar berita ini. Well, mungkin terdengar lucu sih di telinga mereka. Karena secara kelakuan dan umur, aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah dan hamil. Padahal mah udah tua juga sebenernya. Hehe.

Berikutnya merupakan hari-hari yang susah-susah gampang. Penuh dengan ujian, ngenes-ngenes sedap deh.

Aku ingat rasanya harus berangkat kuliah lebih pagi, yaitu jam 6. Ini adalah salah satu strategi agar tidak terburu-buru saat jalan, sehingga janin mungilku tetap aman.

Dalam perjalanan ke kampus, aroma bawang2an bertebaran di udara. Iya, jam segitu 'kan ibu-ibu, warung makan, tukang jualan, semuanya sedang prepare untuk sarapan dan dagangan. Hal ini menambah bebanku sebagai bumil. Ihik...



Di rumah pun, saat libur, aku kerap muntah saat mencium bau masakan tetangga, ataupun bau amis ikan yang datang menjelma ntah dari mana. 

Mencium bau air kamar mandi pun tak kuat, taulah, bagaimana air kebanyakan daerah Jakarta, kuning dan bau besi. Sehingga aku selalu menyediakan karbol dan antiseptik untuk menetralkan bau dan menyelamatkan makanan yang baru saja dicerna lambungku.

Aku bersyukur,  sebesar-besar syukurku kepada Allah. Karena walaupun ngenes gini, di sampingku selalu ada Masyang, yang mau 'mempertanggung jawabkan' perbuatannya. Dengan sabarnya menanggapi aku yang rewel tiap kali ditinggal, menemani jalan malam keliling Jakarta tanpa tujuan tiap kali aku bosan, dan bersabar karena sepulang dari jalan, aku selalu termabok-mabok dan malah badmood (jalanan Jakarta kalo malam dipenuhi bau masakan ala pedagang kaki lima). Jazakallahu kullal khair, Bebebku...

Di lain itu, saat aku menjadi jomblo weekdays, akik iparku begitu perhatian menemaniku tinggal. Ngobrol, makan, dan tidur. Sehingga rasa mabok berat ini benar-benar banyak terkurangi. Jazahallahu khairan.

Teman-teman pun banyak  membantu. Di kelas saat itu ada beberapa teman yang sama-sama sedang hamil muda. Kami saling berbagi kisah dan pengalaman.
Teman lajangwati banyak berbagi untuk ibu-ibu yang sedang ngidam. Ada yang membawakan Bakpia Pathok, keripik singkong, bahkan ada yang sukarela membawakan mangga muda untuk bumil. Masya Allah, betapa indahnya ukhuwah kami saat itu.

Selainnya, rasa mual ini aku anggap sebagai ajang komunikasi antara aku dan jabang bayi. Karena aku tahu, saat aku mual, berarti ia sedang tumbuh dan berkembang. Walaupun rasanya benar-benar seperti orang pesakitan, tapi aku aku berusaha buat sabar. Dinikmati? Emm, yaa, bisa, bisa. Wkwkwk #elus perut ga buncit.

Oh, iya, jika mungkin ada diantara teman-teman yang mabok parah sepertiku, makan apapun, minum apapun akan langsung keluar, aku punya sedikit tips nih;

Untuk minum, minumlah air  putih yang Anda suka. Selera orang kan beda-beda ya. Bagi yang suka air hangat, minumlah air hangat. Bagiku yang suka es, alhamdulillah kalau minum air dingin aman dan ga keluar lagi.

Juga jangan lupa siapkan permen jahe setiap waktu. Kenapa permen jahe? Agar mudah dibawa dan nggak ribet nyeduh segala. Boleh banget lah kalau di rumah nyediain minuman jahe juga, kan kelihatannya lebih sehat daripada permen hehe.

No comments:

Post a Comment