Laman

Tuesday, October 5, 2021

Banyak Hal yang Membuatku Kurang Bersyukur

5 Oktober 2021

Akhir-akhir ini, aku merasa tingkat stress-ku meningkat. Banyak hal-hal kurang menyenangkan yang membebaniku dan mrmbuatku kurang nyaman. 

Misalnya seperti hari ini... Umar keluar rumah dan lupa menutup kembali pintu rumah. Aku sibuk menyapu, membereskan rumah, sambil menahan rasa gerah yang membuatku banyak berkeringat dan tidak fokus. Tiba-tiba, aku mendapati pintu depan terbuka, Romi sudah berjalan melewati pintu. Aku ingin segera menolongnya, namun di saat bersamaan seorang tetangga lewat di depan rumah (kondisiku tentu sedang tidak berhijab), mau tak mau aku harus bersembunyi. Aku Hanya bisa memanggil nama Romi keras-keras agar dia tidak pergi makin jauh, kemudian segera menariknya masuk setelah seorang tadi lewat. Padahal baru kemarin kejadian yang sama hampir terjadi. 

Setelah itu, moodku langsung memburuk. Aku melanjutkan membereskan rumah sambil gemetar menahan efek panik yang belum hilang, khawatir, marah, dan menyalahkan diriku sendiri.

Sebenarnya itu HANYA salah satu sebab bad-moodku kali ini. Sejak pagi, aku jarus berjibaku dengan ompol anak, ditambah mesin cuci yang kerannya mampet, dapur yang bau masakannya tak kunjung hilang karena blower rusak dan belum bisa diperbaiki suamiku... Ruwet. 

Masih menahan itu semua, maghribnya Romi ikut dengan suamiku ke masjid. Aku mengambil kesempatan itu untuk fokus mengerjakan tugas kuliahku; khuttatul bahts (semacam proposal untuk skripsi kualitatif) matkul Ushulul Fiqh yang deadlinenya Jumat depan. Riset sana, riset sini, sambil mengawasi Kakak Jihan mengerjakan PR sekolahnya... Anggap saja tinggal sedikiit lagi. Aku hanya perlu merapikan tulisannya dan mengubah format word menjadi PDF sampai... Datang chat dari TU kampusku, bahwa dospem-ku diganti. Yang lebih mengejutkan lagi... Tema yang diambil seluruh mahasiswa adalah matkul akidah, bukan ushulul fiqh...! Rasanya lemes banget. Karena nggak sering loh, waktu me-time-ku benar-benar kugunakan untuk kepentinganku. Biasanya kalau nggak dipakai untuk membereskan rumah, mendampingi anak mengerjakan PR, kalau enggak ya menyiapkan lauk makan malam. Nggak tahu kapan lagi aku akan dapat waktu seperti ini. 

Yang lebih menyedihkan adalah... I have no one untuk mendengarkan keluhanku. Suamiku seharian di kantor sibuk, again, pasti hanya Ingin mendengar dan melihat hal-hal yang menyenangkan di rumah. Main bersama anak, makan enak, dll. 

Terlalu banyak yang aku keluhkan dalam hari-hari ini. Yang kuungkap saja sudah sebegini, yang di dalam hati tentu saja masih banyak! Rasanya lelah, jenuh, stress, pengennya semua uneg-unegku ini kuluapkan aja, biar semua orang tahu apa yang aku inginkan. 

Tapi, aku belajar bahwa kita harus mengubah keluhan menjadi rasa syukur... aku belajar itu dari sisi agama, dan makin tercerahkan setelah membaca buku parenting way danish. 

Anakku ngompol hampir setiap malam, syukurlah umurnya masih lima tahun. Masih ada waktu untuk belajar mandiri. Dia juga sudah mau membilas baju-bajunya yang kena ompol. 

Romi nyaris terkena bahaya, Alhamdulillah aku masih bisa menyelamatkannya tepat waktu. Bahagia banget karena Allah menciptakan aku peka dan teliti pada hal-hal kecil. Romi tumbuh sebagai anak yang sehat, aktif, dan ceria, itu adalah suatu kebahagiaan seorang ibu. 

Dan masalah bahtsku, aku malah mendapatkan hikmah. Mendapat judul bahts yang lebih mudah dari dospem yang baru. Khutthoh juga sudah disiapkan. Tentunya rasa grogi berkurang karena aku akan mengerjakan tema yang sama dengan 35 temanku lainnya. 

Ya Allah... Maafkan hamba-Mu yang terlalu banyak mengeluh. 

No comments:

Post a Comment