Malam itu rasanya panjang sekali. Aku tidur di kamar Ayyub 101. Kamar kelas satu yang dihuni dua ranjang pasien yang dipisahkan dengan tirai. Kamarnya ber-AC, toilet bersih, dan ada wastafel di depannya. Aku bersyukur sekali bisa mendapat kamar yang cukup nyaman meskipun menggunakan jasa BPJS. Setidaknya, kamar ini berlipat lebih bagus ketimbang yang kutempati saat melahirkan Jihan dulu.
Mamah dan Papah pulang bersama Jihan. Aku berbaring saja, tanpa infus dan obat apapun. Suamiku menyebutnya "kayak orang bahlul". Di rumah sakit tapi ga sakit. Duh duh.
Waktu rasanya lama sekali berlalu. Di sebelahku, menginap pasien asal Gorontalo yang baru melahirkan secara sesar juga. Ditemani ibunya.
Subuh itu, Papah datang membawakan pakaian yang kubutuhkan, alat shalat, serta perlengkapan menginap untuk suamiku nanti. Mase masih dalam proses mencari tiket pesawat agar bisa sampai Semarang setidaknya malam hari.
Pagi hari, Mami datang. Masya Allah, aku bersyukur diberi keluarga yang amat-amat memperhatikanku, sehingga aku tenang dan nyaman.
---------------------------
"Bu, berdasarkan cek lab trombosit ibu di bawah batas normal untuk operasi. Yaitu hanya 8,9. Minimal 11 untuk dapat menjalankan operasi. Jadi, kita putuskan untuk transfusi darah ya bu...", perawat menjelaskan demikian detil. Aku hanya mengangguk saja sambil berusaha menabahkan hati, meskipun rasanya hati ini panik tak karuan.
"Mas Luthfi kapan datang, Nit?" Tanya Papah.
"Mm, ini masih nyari-nyari tiket, Pah. Kemungkinan jam 11 ada penerbangan. Semoga ga terlambat booking." Jawabku.
Papah bercerita kalau Jihan enjoy saja saat sampai rumah. Sempat mencariku namun tidak lama langsung tertidur. Aku lega, kupikir ia akan melow menangis semalaman seperti Mamanya yang labil ini.
Sementara itu, jarum infus dipasang di tanganku. Hmm, aku suka sekali memperhatikan cara perawat memasang jarum. Sepertinya sejak melahirkan Jihan, keberanianku akan hal-hal berbau darah dan medis meningkat.
Papah libur kerja untuk menungguiku hingga suamiku tiba. Ada juga Mami yang saking supelnya sampai mengajak pasien sebelah ngobrol panjang lebar :). Iya lah, di rumah sakit, mengobrol dengan sesama pasien selain dapat menghilangkan jenuh juga menambah wawasan.
Merindukan suamiku. Sejurus kemudian kuketik chat Whatsapp untuknya "Mase, jadinya naik pesawat jam berapa? Jadwalnya sore ini insya Allah operasi setelah Mase datang."
"Sori say, Mase terlambat booking pesawat jam 11. Baru dapat pesawat jam 1 siang nanti. Mungkin sore saat Ashar Mase sudah di rumah sakit."
Hati ini sebenarnya mencelos, hari ini hari Rabu, harusnya anak kita lahir sekarang agar kita sekeluarga bisa sama-sama lahir di hari Rabu (alay banget ya gue). Tapi di balik itu semua, ada Allah yang menentukan kelahiran seseorang. Meskipun dengan operasi secar orang tua dapat memilih tanggal kelahiran, namun kejadian absurd seperti 'telat booking pesawat' adalah pertanda Allah menginginkan hal lain yang lebih baik. Alhamdulillah.
-------------------------------
Setelah menunaikan salat Zuhur dijamak dengan Asar, aku mulai transfusi. Jarum infusku diganti dengan yang lebih besar lubangnya karena darah lebih kental dibanding cairan infus. Bisnillah, semoga darahnya cocok dan aku ga kenapa-napa, batinku.
Jam lima sore, hujan turun. Pesawat yang ditumpangi suamiku sudah mendarat dan Papah dalam perjalanan menjemputnya. Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat dan berkah untuk kami.
Hmm, baru sebulan tapi rasanya lama sekali aku tak berjumpa dengannya. Rasanya ia makin kurus saja. Atau memang dia selalu sekurus itu? Hehe.
Suamiku sedang berbincang dengan keluargaku, kemudian Jihan datang! Yeay, rasanya lengkap sekali. Jihan didudukkan di sampingku, ia hanya diam memasang tampang defaultnya sambil mengamati suasana sekitar. Kemudian karena Abahnya sangat rindu, mereka mengambil waktu berduaan di luar. Romantisnya pangeran dan putri kecilku.
Saat ia pamitan pulang, rasanya hati ini kembali kosong. Ingin rasanya kembali tidur berpelukan dengan Jihan, apalagi sebentar lagi ia akan punya adik yang sedikit banyak akan berbagi kasih sayang dengannya.
Maghrib itu, seorang perawat datang memberikan instruksi untuk operasiku besok. Ia amat menggebu-gebu sambio sesekali menakut-nakuti. It's OK, mungkin memang perlu bagi perawat untuk menjelaskan risiko dari tindakan ini dan itu, terutama saat ditakutkan pasien bandel dan tidak mendengarkan anjuran mereka.
Alasan dokter melarang makanan atau minuman beberapa jam sebelum operasi adalah untuk mencegah pneumonia aspirasi, infeksi paru-paru yang diakibatkan oleh terhirupnya sesuatu (makanan, cairan, atau muntah) ke dalam saluran pernapasan.
Pada mekenisme normal, sebenarnya partikel kecil yang masuk ke saluran napas akan dikeluarkan oleh tubuh. Tetapi, pada orang yang lemah, keracunan, atau dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh obat bius, kondisi ini bisa menutup saluran napas dan menyebabkan paru terinfeksi.
------------------------
Jam 22.00, dokter Risty melakukan kunjungan. Saat itu hanya ada aku dan suami di ruangan.
"Nah, ini udah seger nih, bu, kulitnya njenengan. Kemarin terlihat pucat dan lesu. Sudah transfusi satu kantong ya? Besok pagi akan kita cek HBnya, kalau sudah normal, insya Allah besok kita jalankan operasi.
Gimana? Udah enakan? Masih sakit ga bekas jahitan sesarnya? Enggak? Oh berarti kemarin njenengan sakit itu karena kangen ya sama Bapak (suami)?"
Beliau berbicara panjang lebar sambil sesekali meledek 'rindu suami' dan menjelaskan ulang instruksi puasa besok. The power of Obgyn nenek-nenek yang ga mau dibantah.
No comments:
Post a Comment